Pelajaran dari Manual Mutu Lab Instron

4 komentar Rabu, 18 Februari 2009

Melanjutkan tulisan tentang lab kalibrasi yang ada di perguruan tinggi, ada beberapa universitas di luar negeri yang memang concern dengan kalibrasi ini. Mereka membuat lab yang difungsikan memberikan layanan kalibrasi ini.

Beberapa contoh diantaranya yang berhasil saya dapatkan informasinya adalah :

1. Instrument Calibration Laboratory, yang merupakan lab kalibrasi di bawah Rajamangala University of Technology Thanyaburi. Lab dinyatakan comply pada ISO 17025 oleh Thai Laboratory Accreditation Scheme (TLAS) dan Thai Industrial Standard Institute.

Lab ini bergerak di bidang eletrikal denga scope kalibrasi AC/DC Voltage (sampai 1000 Volt), AC/DC Currrent (sampai 11 Ampere), Resistance (sampai 330 Mega Ohm), Pressure (sampai 54 kPa), Torque (sampai 2.2 N.m). Ini adalah data yang diterbitkan pada April 2008 lalu.

2. Acoustic Calibration Laboratory, yang berada di University of Salford. Sesuai namanya Lab ini menyediakan jasa kalibrasi akustik dan perangkat terkait akustik. Lab diakreditasi oleh UKAS, dengan scope type 1 sound level meters to BS 7580, sound calibrators and pistonphones, pressure sensitivity of microphones.

Lab ini mengklaim dirinya sebagai lab yang biasa mengkalibrasi perangkat sound level meters dan calibrator yanng diproduksi oleh Bruel & Kjaer, Norsonics, Rion, CEL, Svantek, Cirrus.

3. University of Wisconsin Radiation Calibration Laboratory (UWRCL), yang menyediakan layanan kalibrasi untuk perangkat pengukur radiasi di bidang medik atau komunitas kesehatan fisik. Lab ini aspek mediknya diakreditasi oleh American Association of Physicists in Medicine (AAPM), sedangkan aspek manajemen ISO 17025-nya diakreditasi oleh American Association for Laboratory Accreditation (A2LA).

Walaupun tidak semua perguruan tinggi memiliki Lab- Kalibrasinya sendiri, beberapa cerita pendirian Lab berskala dunia memang berasal dari orang-orang di perguruan tinggi, atau setidaknya memiliki kerjasama dengan pihak perguruan tinggi. Ini mungkin tidak aneh, karena memang di negara-negara yang pendidikannya sudah maju, linking antara industri dengan pendidikan sudah bukan masalah lagi. Bab tentang “linkage” ini sudah selesai bagi mereka.

Cerita kalibrasi memang tidak ada habis-habisnya, bahkan dalam perguruan tinggi yang banyak berkecimpung di dunia ICT. Dalam dunia ICT ini, sudah mulai banyak cerita kebutuhan kalibrasi. Software pengukur kecepatan suatu koneksi harusnya dikalibrasi untuk mengetahui keakuratannya. Software penghitung waktu koneksi seseorangpun harusnya dikalibrasi, untuk menjamin seorang kastamer tidak “ditipu” oleh suatu provider layanan koneksi internet.

University of Wisconsin-Madison, menerbitkan suatu buku tentang bagaimana melakukan kalibrrasi suatu tool penaksir bandwidth yang tersedia dalam suatu jaringan, dimana umumnya menggunakan pendekatan kombinasi anttara simulasi “ns-type” (network simulator) dengan eksperimen menggunakan jaringan sebenarnya.

Kali ini kita akan “berwisata” ke Lab Kalibrasi Instron, yang berkantor pusat di Norwood, Massachusetts, USA Anda bisa surfing ke http://www.instron.us untuk melihat-lihat kehebatan dan layanan supr komprehensif dari Lab Kalibrasi yang satu ini.

Namun pada tulisan kali ini yang menjadi sorotan utama adalah manual mutu dari Lab ini, yang memang dishare kepada siapa saja. Ini menarik karena jarang sebuah Lab membolehkan siapapun melihat manual mutunya. Anda dapat mendownload manual mutu lab ini dari websitenya.

Overview Lab Instron

Lab ini didirikan tahun 1946, dengan sekitar 1200 karyawan yang tersebar di seluruh dunia, bergerak terutama di bidang mekanikal, dimana lab ini bukan hanya memberi layanan kalibrasi saja, tapi sebenarnya lebih canggih dari itu, Instron mampu memiliki kemampuan sebagai manufaktur perangkat pengetesan material, sistem, asesori, menyediakan solusi komperehensif untuk keperluan riset dan persyaratan kualitas tertentu. Mereka menawarkan layanan kalibrasi, pelatihan, dukungan teknis, dan asistensi manajemen laboratorium.

Perusahaan yang kantor pusatnya beralamat di 825 University Avenue, Norwood, MA 020162-2643 ini memiliki volume penjualan melebihi $250 Milyar. Suatu skala penjualan yang cukup besar bagi perusahaan berskala internasional. Maklum saja, cabangnya sudah ada Amerika, Eropa dan Asia. Jumlah mesinnya yang telah terinstall mencapai 70 ribu.

Mesin-mesin yang dihasilkan oleh Instron dapat melakukan pengetesan sifat mekanikal material dan komponen tertentu menggunakan pengetesan tension, compression, flexure, fatigue, impact, torsion dan hardness.

Sebagai perusahaan berskala internasional, sistem mutu Instron harus memenuhi persyaratan dari multi standar yang diberlakukan di negara-negara pemasarannya. Maka tidak aneh jika sistem mutu mereka mendapat akreditasi dari NVLAP, NIST, NATA, UKAS, SGS, ANAB, TUV dan IT.

Sistem mutu, standar pengukuran dan prosedurnya sendiri diklaim telah memenuhi bahkan melebihi persyaratan dari ISO/ANSI/ASQ 9001:2000. Khusus untuk aktivitas desain software, Instron diakreditasi oleh SGS Yarsley ICS Ltd. Dalam untuk persyaratan ISO 9000-3:1997 dan persyaratan skema DTI's TickIT . Assesmen jenis ini penting dilakukan mengingat Instron memproduksi juga beberapa software yang dipakai untuk kontrol test secara otomatis, koleksi data, analisa hasil, dan pelaporan. Contoh produknya adalah software BlueHill yang digunakan sebagai software pendukung sistem pengetesan universal material.

Maka Lab Kalibrasi Instron di Eropa diakreditasi oleh UKAS, Lab Kalibrasinya di Australia oleh NATA. Sedangkan untuk Lab Kalibrasi di Amerika, Asia dan Jepang diakreditasi oleh NIST, NVLAP

 

Overview Manual Mutu Lab Instron

Dari versi terakhir yang saya sempat download, tebal manual mutu lab ini “hanya” 26 halaman saja. Dimulai dengan judul dokumen mutu dengan berbagai gambar lembaga pemberi akreditasi yang memberi pengakuannya bahwa Lab ini sudah comply dengan “tafsiran” sistem mutu mereka masing-masing.

Pelajaran pertama yang bisa dipetik dari manual mutu Lab ini adalah dalam hal ketebalannya yang dibuat cukup tipis saja, namun sudah terasa canggih. Tidak perlu terlalu banyak hal semua ditampung di sini. Bahkan yang menarik, banyak gambar dan skema yang dicantumkan, bahkan foto-foto aktivitas lab juga disisipkan. Rasanya ini bukan manual mutu konvensional, lebih tepat mungkin lebih condong terasa sebagai brosur saja. Mungkin filosofi “gambar sama dengan ribuan kalimat” diimplementasikan dengan baik oleh manajemen Instron.

Ada 22 bagian dalam manual mutu ini, meliputi :

1 Quality Policy

2 Introduction

3 About Instron®

4 Products and Services

5 Global Operations

6 System Compliance

8 Federal Regulation Statements

9 Product Safety Statement

10 Quality Objectives

11 Business Processes

12 Documented Procedures

16 Structure and Responsibility

17 Site Contact Information

18 General Global Directory List

20 Organizational Structure

21 Management Teams

22 Notes

Ditambah dengan beberapa tabel yang perlu dilampirkan juga.

Untuk quality policy, seperti “biasa”, ada “janji” yang ingin diberikan kepada kastamer pengguna jasanya, pernyataan comply terhadap ISO 17025, melakukan komunikasi tujuan mutu pada semua personel Lab, promosi kepedualian kualitas. Yang agak menarik di sini adalah pernyataan bahwa semua produk, layanan dan kalibrasi ditujukan memuaskan kastamer baik dalam hal waktu layanan, kinerja, realiability, bebas kerusakan, keamanan dan kesesuaian terhadap aplikasi yang menjadi tujuan. Tentu parameter-parameter ini harus dapat dibuktikan oleh Lab dalam operasionalnya sehari-hari. Saya tidak tahu apakah parameter-parameter ini nanti dinilai secara kuantitatif oleh lembaga akreditor.

Satu hal lagi yang menarik adalah pernyataan comply terhadap ISO 9001:2000. Jadi dokumen ini rupanya adalah manual mutu untuk memenuhi kedua standar internasional ini. Ini bisa menjadi pelajaran bahwa benar antara ISO 9000 dan ISO 17025 memiliki persamaan, karena memang sebagian isi ISO 17025 mengambil dari ISO 9000.

Pada halaman berikutnya, diberikan keterangan tentang sruktur hierarki dokumen, dari level 1 (Manual Mutu dan brosur corporate), level 2 (SOP), level 3 (local work instrucktions), dan akhirnya level 4 (form).

Lembar berikutnya adalah tentang visi, misi, kastamer, nilai-nilai yang dianut oleh Instron. Keunikannya ada gambar keadaan salah satu ruang di suatu waktu tertentu. Cukup artistik dan jauh dari kesan membosankan, sebagaimana mungkin biasa terjadi saat membaca suatu dokumen mutu.

Lembar tentang Global Operations, berisikan keterangan (berupa organization chart) divisi-divisi yang dimiliki Instron beserta keterangan lokasi. Ditambahkan beberapa gambar yang memberi informasi produk yang dihasilkan oleh Divisi-divisi tersebut.

image

Yang tak kalah menarik lagi adalah kesederhanaan Instron menggambarkan tujuan mutu (Quality Objectives), yaitu dengan menggambarkannya dalam bentuk sejenis pie-chart. Cukup indah dan mudah dimengerti oleh pembaca. Demikian juga dengan proses bisnisnya yang digambarkan dalam bentuk flow-chart.

image

(Klik untuk memperbesar gambar)

 

image

(Klik untuk memperbesar gambar)

Untuk bagian “Documented Procedures”, terdapat informasi tentang prosedur-prosedur apa saja yang didokumentasikan di dalam sistem mutu, yang terbagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut :

1. Dokumen dan Kontrol Data

2. Audit Internal

3. Nonconforming Material

4. Aksi koreksi dan preventif

5. Pemeliharaan Rekaman (Record Retention)

6. Customer Feedback

7. Escalated Customer Response

Sebagian besar dari uraiannya relatif tidak ada yang baru, tapi ada beberapa yang menarik di sini (menurut saya) yaitu :

1. Adanya prosedur “Root cause, Corrective and Preventive Actions” yang memberi rincian metode yanng direkomendasikan untuk sistem koreksi dan pencegahan. Juga ada pernyataan bahwa segala kegiatan ini selalu dimonitor oleh departemen mutu di masing-masing daerah dengan menggunakan sistem manajemen mutu Agile.

2. Dalam Record Retention, disebutkan secara gamblang dokumen apa saja yang dipelihara.

3. Dalam bagian Customer Feedback, ada penjelasan mengenai beberapa metode untuk mendapatkan masukan dari kastamer, misalnya melalui survey, laporan dari kegiatan instalasi, eskalasi dari layanan ataupun dari grup dukungan teknik, dll.

4. Sedangkan bagian Escalated Customer Response memberikan hierarki level untuk mekanisme eskalasi, dari level 0 (proses normal), sampai level 4 (General Manager). Ini mungkin hal yang cukup baru karena jarang dijelaskan dalam Manual Mutu.

Manual Mutu ini ternyata dilengkapi dengan Site Contact Information, termasuk seluruh nama yang bertanggung jawab dalam organisasi Instron. Ada jabatan-jabatan sales manager, service manager, safety officer, human resources, quality site officer dan senior site manager.

Juga ada informasi tentang telepon kantor-kantor terkait, nomor registrasi pajak, informasi pembayaran, jumlah SDM yang dirinci sampai ke jumlah SDM khusus Quality Assurance, informasi tentang keselamatan, infromasi statistik tentang kantor atau pabrik (berapa meter persegi misalnya).

Sekali lagi, ada banyak hal dari manual mutu ala Instron ini yang mungkin bisa dipelajari dan dijadikan sumber inspirasi bagi para praktisi Lab Kalibrasi. Manual mutu ini memang lebih cenderung sebagai manual mutu bergaya ISO 9000, namun rasanya bisa digunakan secara universal untuk standar lainnya, terutama untuk ISO 17025. Dengan demikian, manual mutu setidaknya menjadi dokumen yang tidak lagi sakral, sulit dipahami (bahkan oleh karyawan lab sendiri), dan sangat friendly kepada kastamer. Kastamer diharapkan akan makin memberi apresiasi tersendiri untuk effort ini.

read more “Pelajaran dari Manual Mutu Lab Instron”

Membangun Lab Kalibrasi ala Perguruan Tinggi

1 komentar Selasa, 17 Februari 2009

Sebagai salah satu pendukung kegiatan belajar-mengajar dan penelitian di perguruan tinggi, maupun di industri, keberadaan Laboratorium sangatlah penting. Bahkan keberhasilan ataupun performansi suatu institusi juga bergantung kepada kinerja laboratoriumnya selain kesiapan sumber daya manusia dalam mengelolanya.

Pada tahun 2003, kementrian Riset dan Teknologi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan IPTEK pernah mengeluarkan Program Standardisasi Laboratorium (disingkat STANLAB) dengan acuan ISO 17025-2000 di lingkungan perguruan tinggi baik swasta maupun negeri, bahkan juga lab di BUMD, BUMN, LPD, LPND dan swasta. Dengan program ini diharapkan kemampuan Lab akan meningkat, terakreditasi, dan mampu untuk melakukan pengujian produk yang akan dijual di dalam maupun di luar negeri.

Sampai saat ini memang jarang terdengar Lab khusus kalibrasi di perguruan tinggi. Biasanya fungsi kalibrasi ini digabungkan dengan beberapa fungsi lainnya untuk suatu Lab, misalnya fungsi penggukuran komponen dasar listrik atau pendukung pelajaran instrumentasi.

Contoh yang mungkin paling tepat untuk menggambarkan Lab Kalibrasi ala perguruan tinggi ini adalah Lab Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) Universitas Gadjah Mada. Lab ini didirikan tahun 2004, ditugaskan untuk melaksanakan dan mengembangkan kerjasama, serta memfasilitasi penelitian, pelatihan, pengujian, kalibrasi dan penyediaan hewan uji yang telah dilaksanakan berturut-turut oleh Laboratorium Analisis Kimia dan Fisika Pusat (tercakup di dalamnya Laboratorium Referensi), Laboratorium Ilmu Hayati, Pusat Penelitian Obat Tradisional dan Unit Pengembangan Hewan Percobaan.

LPPT tidak hanya digunakan untuk keperluan internal saja, tapi juga diinvestasikan untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengujian dari mitra industri. Hal ini tidak lepas dari perkembangan jumlah permintaan jasa tersebut dari tahun ke tahun.

Lab ini pada 2008 lalu akhirnya berhasil meraih sertifikat ISO 17025:2005 dari KAN, sebagai lab penguji dengan kode LP-359-IDN. Lab ini tidak dimaksudkan untuk membawahi lab di fakultas-fakultas yang ada, diarahkan menjadi lab komplemen, salah satunya agar alat-alat tiap lab fakultas dapat selalu termonitor dan terkalibrasi. Lab fakultas memang tidak perlu melakukan akreditasi, karena nanti cost-nya akan tinggi.

Saat ini LPPT-UGM terus membenahi lab tersebut untuk dapat menjadi lab yang diakui secara nasional dan internasional, misalnya saat ini dengan tengah dipersiapkannya akreditasi klinik ISO 15189.

SNI vs Lab Kalibrasi

SNI berdasarkan PP No 102 tahun 2000 didisain memiliki ruang lingkup semua kegiatan yang berkaitan dengan metrologi, teknik, standar, pengujian dan kualitas. Tujuan SNI adalah untuk meningkatkan perlindungan kepada konsumen, pelaku usaha, tenaga kerja dan masyarakat lainnya, baik dalam hal keselamatan, keamanan, kesehatan maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup, membantu kelancaran perdagangan, serta mewujudkan persaingan usaha yang sehat dalam perdagangan.
Walaupun SNI sebenarnya berlaku di seluruh wilayah Republik Indonesi, dalam kenyataannya implementasi SNI wajib belum berjalan seperti yang diharapkan karena seringnya muncul ketidaksiapan instansi terkait. Padahal tanpa SNI, barang import, misalnya, dapat dengan mudah masuk ke Indonesia dan bahkan bisa merugikan konsumen. Ditambah lagi daya saing produk nasional relatif kecil.

Kantor Menristek menginginkan di setiap provinsi minimal ada satu lembaga sertifikasi agar pelaku program SNI ini tidak perlu jauh-jauh datang ke Jakarta. Dan Lab Uji dan Lab Kalibrasi dapat berfungsi sebagai lembaga sertifikasi produk.

ISO 17025

ISO 17025 adalah standar internasional yang memuat persyaratan umum kompetensi laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi. Versi terakhir adalah versi 2005, dan sudah ada versi resmi bahasa Indonesianya hasil dari terjemahan KAN dari ISO/IEC 17025:2005 General Requirements for The Competence of Testing and Calibration Laboratories.

Dalam klausul-klausulnya dicantumkan persyaratan bahwa Lab Kalibrasi yang ingin mendapat akreditasi KAN agar dinyatakan comply dengan standar internasional ini harus :

1. Memiliki fasilitas sumber daya yang cukup untuk melaksanakan pengujian dan atau
kalibrasi yang benar

2. Dilengkapi peralatan yang lengkap, terawat dan terkalibrasi

3. Mempunyai personel yang sesuai, terlatih dan memenuhi kualifikasi sesuai lingkup
bidang pengujian dan atau kalibrasi

4. Fasilitas laboratorium untuk pengujian dan atau kalibrasi harus sedemikian rupa dapat memberikan hasil pengujian dan atau kalibrasi yang memadai dan dapat memberikan data yang valid dan benar.

5. Memastikan bahwa kondisi lingkungan dipantau dan dikendalikan seperti yang dipersyaratkan oleh spesifikasi dasar atau metode pengujian dan atau kalibrasi

6. Dilengkapi dengan semua peralatan pengukuran yang diperlukan untuk melaksanakan pengujian dan atau kalibrasi dengan benar, termasuk pengambilan sampel, apabila melakukan penyiapan preparasi barang yang diuji dan atau dikalibrasi, pengolahan dan analisis data penguji dan atau kalibrasi.

7. Dioperasikan oleh personel yang kompeten.

8. Menggunakan instruksi termutakhir dalam penggunaan dan perawatan peralatan tertentu

9. Memiliki personel manejerial dan teknis dengan wewenang untuk mengelola sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya dan untuk mengidentifikasi terjadinya penyimpangan dari sistem mutu atau dari prosedur pelaksanaan pengujian dan atau kalibrasi untuk memulai tindakan pencegahan atau meminimalkan penyimpangan

10. Memastikan semua personel memiliki kompetensi mengoperasikan peralatan,
melakukan pengujian dan atau kalibrasi, mengevaluasi hasil, dan menandatangani laporan pengujian dan sertifikat kalibrasi

11. Memiliki manajemen teknis yang sepenuhnya bertanggung jawab atas pelaksanaan teknis dan ketersediaan sumber daya yang diperlukan untuk memastikan mutu kegiatan laboratorium yang dipersyaratkan

12. Menunjuk seorang staf sebagai manajer mutu (atau apapun namanya) yang terlepas dari tugas dan tanggung jawabnya yang lain, yang mempunyai tanggung jawab dan kewenangan tertentu untuk memastikan sistem mutu diterapkan dan diikuti setiap waktu, juga mempunyai akses langsung ke pimpinan tertinggi yang membuat keputusan terhadap kebijakan atau sumber daya laboratorium.

Manfaat Lab Kalibrasi di Perguruan Tinggi

Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh jika suatu kampus memiliki Lab Kalibrasi, antara lain :

1. Lab Kalibrasi ini pada dasarnya sama saja dengan lab-lab lain yang ada di perguruan tinggi, yang digunakan sebagai sarana belajar mengajar, seperti Lab Elektonika, Lab PSD, Lab Robotika, dll. Pelajaran yang terkait langsung dengan lab ini adalah pelajaran tentang alat ukur atau instrumentasi, metrologi dan sistem mutu. Contoh sederhananya, para mahasiswa dapat belajar tentang bagaimana cara kerja suatu oscilloscope atau multimeter, misalnya. Bahkan dalam beberapa hal dapat membuat sendiri instrument, misalnya pernah ada yang membuat oscilloscope dari tabung TV bekas.

2. Pelajaran Interfacing juga dapat dipraktekkan di sini, terutama yang terkait dengan interfacing untuk keperluan pengukuran. Contoh interfacing sederhana misalnya memanfaatkan RS232, GPIB sebagai interfacing alat ukur dengan perangkat komputer, sehingga data hasil ukur suatu alat ukur dapat langsung ditransfer ke komputer untuk diolah sesuai dengan keperluan.

3. Sistem Kalibrasi ini sebenarnya adalah bagian dari implementasi sistem mutu Lab yang distandarkan oleh organisasi ISO, disebut sebagai ISO/IEC 17025. Beberapa klausul dalam ISO 9000 tentang kewajiban melakukan kalibrasi untuk menjamin konsistensi mutu layanan yang diberikan suatu perusahaan, dapat dilihat sebagian prakteknya di dalam lab kalibrasi. Sebab dalam kenyataan di lapangan, sebagian kastamer yang mengkalibrasikan alat ukurnya “hanya” karena ingin memenuhi klausul ini saja, sehingga mereka bisa lolos audit atau syarat akreditasi ISO 9000.

Sebagai catatan, ISO 17025 memiliki landasan filosofi dan cara berpikir yang sama dengan ISO 9000. Dokumen standar yang bisa disebut “undang-undangnya Lab Kalibrasi” ini adalah perbaikan dari ISO Guide 25, yang kemudian di-mix dengan ISO 9000 menjadi ISO 17025. Sehingga dengan demikian, mahasiswa yang belajar ISO 17025 identik dengan mepelajari ISO 9000 juga, ditambah dengan klausul-klausul teknis kalibrasi yang tentunya tidak ada pada ISO 9000.

4. Dengan diimplementasikannya sistem mutu Lab Kalibrasi, maka sebagai konsekuensinya kampus memerlukan sistem manajemen alat ukur yang baik, rapi, terdokumentasi. Dengan demikian maka concern terhadap pemeliharaan alat ukur dan bahkan semua perangkat di semua laboratorium dapat lebih terpelihara. Setiap alat ukur akan teridentifikasi dengan baik, akurasinya dapat diketahui, biasanya cenderung dapat terpelihara kebersihannya, dan budaya “memelihara aset” dapat diwujudkan.

5. Dengan adanya Lab Kalibrasi yang comply terhadap suatu standar sistem mutu internasional, maka ini bisa menjadi tambahan point positif bagi penilaian suatu perguruan tinggi, misalnya jika ada visi menjadi world class university, ataupun jika ingin mendapat sertifikat ISO 9000, atau pengakuan lainnya. Sebagai bagian dari kegiatan Quality Assurance, harusnya Lab Kalibrasi dapat menjadi tulang punggung kegiatan penjaminan mutu sistem belajar-mengajar di kampus.

6. Dalam “batas-batas komersialisasi” tertentu, sebenarnya Lab Kalibrasi bisa dijadikan sumber pemasukan bagi insititusi perguruan tinggi. Kenyataan saat ini semakin banyak standar internasional yang mewajibkan kontrol mutu pada perangkat yang dimiliki suatu perusahaan yang ingin diakui sistem mutunya, terutama jika orientasi produknya adalah untuk ekspor. Bahkan Pemerintah telah lama mewajibkan pengecekan kualitas setiap perangkat yang beredar terutama hasil import agar tidak merugikan konsumen dalam negeri, walaupun belum terlihat konsisten dalam praktek di lapangan. Dan ini adalah peluang bernilai ekonomis bagi sebuah Lab Kalibrasi (dan Lab Uji).

Terkait dengan hal ini, tentu saja ada banyak hal yang harus menjadi pertimbangan bagi suatu perguruan tinggi untuk memutuskan komersialisasi Laboratoriumnya, tidak sekedar merujuk kepada suatu hasil studi kelayakan saja.

Bagaimana Membangun Suatu Lab Kalibrasi ?

Membangun suatu Lab Kalibrasi tidak berarti harus memenuhi semua unsur di ISO 17025, kecuali jika ingin serius diakreditasi oleh lembaga akreditasi semacam Komite Akreditasi Nasional (KAN), NATA (Australia), atau NAMAS (Inggris).

Setup-nya bisa dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan SDM, kondisi manajemen setempat, konsensus para personel terkait, dan visi yang akan dituju. Misalnya dengan lebih dulu melakukan manajemen aset disertai dengan klasifikasi alat ukurnya, mana alat ukur yang akan jadi standar (rujukan akurasi) bagi alat ukur yang lain. Lalu dibuat prosedur kalibrasinya, yang terdokumentasi dengan baik. Sebelumnya juga bisa ditunjuk (biasanya disesuaikan dengan garis kewenangan dalam struktur organisasi) para personel yang akan terlibat penuh dalam sistem mutu yang akan dibangun nantinya.

Catatan : Dari pengalaman di lapangan, dalam membangun suatu Lab Kalibrasi yang comply terhadap sistem mutu sebenarnya tidak terlalu sulit asalkan faktor budaya “menulis apa-apa yang dikerjakan dan bekerja sesuai prosedur yang tertulis” dapat dipahami dan dijadikan kebiasaan terutama bagi para personel Lab.

Seiring dengan beberapa kegiatan tersebut, para personel terus mempelajari standar ISO 17025, beberapa dokumen standar lainnya yang terkait, benchmarking ke Lab Kalibrasi yang ada, juga mengikuti beberapa pelatihan pembangunan Lab Kalibrasi yang disediakan beberapa provider pelatihan sistem mutu kalibrasi (misalnya KIM-LIPI) atau mendatangkan konsultan kusus untuk setup sistem mutu ISO 17025 (bisa dicari di Internet dan jumlahnya saat ini sudah cukup banyak).

Catatan : Badan Standardisasi Nasional didirikan dengan Keppres nomor 103 tahun, perubahan dari Keppres nomor 13 tahun 1997, merupakan salah satu dari 7 (tujuh) LPND di bawah koordinasi Kantor Menristek yang mempunyai tupoksi inti, yaitu menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Sedangkan KIM-LIPI berperan sebagai NML (National Metrology Laboratory) di Indonesia.

Tentang perangkat standar (atau biasa disebut sebagai kalibrator), pada tahap awal tidak perlu dulu membeli suatu perangkat khusus untuk ini. Disamping karena memang biasanya relatif mahal, manfaat nyatanya harus dipertimbangkan dengan baik, karena biasanya membutuhkan suatu studi kelayakan yang baik. Dari pengalaman yang ada, utamakan saja dulu kesiapan knowledge para calon personel yang akan menjadi “anggota resmi” sistem mutu Lab Kalibrasi.

Pada tahap awal ini, perangkat (alat ukur) eksisting bisa dipilih sebagai perangkat standar. Misalnya jika memiliki 10 multimeter, maka pilih salah satu diantaranya yang memiliki akurasi terbaik atau dalam kondisi terbaik. Maka alat ukur yang “terpilih” ini dijadikan sebagai kalibrator, dan diidentifikasi menggunakan cara penomoran tertentu. Maka sejak itu semua besaran atau parameter terkait multimeter ini memiliki diwajibkan memiliki ketertelusuran kepada kalibrator multimeter ini.

Pada awal penerapan sebagai kalibrator, pada tahap awal tidak perlu dikalibrasikan ke pihak luar. Ketidakpastian dan akurasi kalibrator ini sementara diasumsikan sama dengan spesifikasi pabrikan. Aturan penurunan ketidakpastian dan metode perhitungan ketidakpastian dapat dilihat pada dokumen ISO tentang petunjuk perhitungan ketidakpastian uncertainty (dapat diunduh di Internet).

Sebagai tahap selanjutnya, maka mulai identifikasi semua klausul yang ada pada ISO 17025, dari mulai organisasi, sistem manajemen, dokumentasi, audit, dan lain-lain. Kemudian buat dulu Manual Mutu sebagai dokumen induk sistem mutu, untuk kemudian diikuti pembuatan prosedur mutu, working procedure dan beberapa form atau quality record lainnya (mirip dengan ISO 9000).

Ini memerlukan waktu agar semua personel dan infrastruktur “terbiasa” dengan kondisi pemenuhan persyaratan dalam sistem mutu yang dibangun. Masukan-masukan dapat diperoleh dengan mendatangkan beberapa ahli dari Lab Kalibrasi lain ataupun dari KAN sendiri untuk melakukan semacam audit kesesuaian sistem mutu. Nanti personel ini akan memberikan apa saja yang perlu dilengkapi lagi agar sistem mutu bisa disebut comply terhadap ISO 17025. Aturan-aturan tambahan dari KAN bisa saja dijadikan tambahan persyaratan yang harus dipenuhi, terutama jika manajemen perguruan tinggi menginginkan Lab Kalibrasi ini mendapat akreditasi resmi.

Bagaimana cara Lab Kalibrasi Mendapatkan Akreditasi ?

Syarat mendapatkan akreditasi ini mungkin bervariasi tergantung kepada Lembaga mana yang akan dijadikan rujukan dalam akreditasi ini. Di Indonesia, hanya dikenal satu saja lembaga semacam ini, karena sudah ditunjuk oleh pemerintah melalui BSN (Badan Standarisasi Nasional), yaitu KAN (Komite Akreditasi Nasional).

Syarat awal tentu saja perlu persiapan menyeluruh pemenuhan semua klausul ISO 17025 oleh Lab Kalibrasi, terutama para personel yang menangani, kesiapan infratsruktur pendukung, scope (ruang lingkup) Lab kalibrasi. Kemudian pada tahap awal proses akreditasi, biasanya KAN akan mengirimkan auditor yang akan mengecek kesiapan Lab, sesuai dengan usulan awal yang dikirimkan, yang biasanya meliputi :

· Status legalitas lab (SK pendirian dan dokumen lain yang terkait)

· Daftar perangkat, kondisi

· Struktur organisasi, jumlah personel, kualifikasi personel

· Kondisi akomodasi (ruangan Lab) dan lingkungan (suhu dan kelembaban)

Tergantung dari jenis dan banyak perbaikan yang harus dilakukan yang dinyatakan sebagai “temuan ketidaksesuaian”, nantinya auditor ini akan memberi waktu bagi Lab untuk membenahi kekurangan dimaksud. Biasanya Lab akan dikenai kewajiban untuk menyiapkan penawaran akurasi terbaiknya yang biasa disebut sebagai BMC (Best Measurement Capability).

Kemudian jika semua siap, KAN akan mengirimkan lagi beberapa orang yang akan melakukan proses akreditasi sesungguhnya. Biasanya akan ada lagi beberapa perbaikan yang harus dibenahi lagi dalam tahap ini. Dan selanjutnya akan muncul keputusan dari KAN tentang permintaan akreditasi ini.

Jika disetujui oleh KAN, maka Lab akan mendapat sertifikat akreditasi. Dan selanjutnya dapat melakukan “bisnis” kalibrasi, sejak itu dibolehkan memasang logo KAN untuk tiap kalibrasi yang dilakukan untuk kastamer yang meminta order kalibrasi.

Sebagai catatan, mengenai biaya akreditasi ini sebaiknya ditanyakan saja langsung ke KAN. Namun dari pengalaman, biasanya biaya terbesar justru pada tahap persiapan dan dokumentasi sistem mutu.

Potensi Pengembangan Lain

Dengan berbekal kemampuan dalam kalibrasi, para personel Lab biasanya dapat lebih mudah mengembangkan diri dalam keahlian lainnya seperti menjadi konsultan pembangunan atau pemeliharaan Lab Kalibrasi ataupun Lab Uji, pengembangan atau perumusan Standar Nasional Indonesia (SNI), penilaian kesesuaian (Conformity Assesment-CA), bahkan pengembangan di bidang standardisasi internasional (misalnya ISO, IEC dan CAC) dengan ikut serta aktif (dengan fasilitator dari KAN atau BSN) dalam pertemuan-pertemuan metrologi dunia.

Lab kalibrasi bisa juga menjadi “outsourcing Lab” bagi Lab kalibrasi atau lab uji lainnya yang lebih besar atau jika tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pengetesan tertentu. Misalnya dalam pengecekan CPE (Handphone, walkytalky, faximile) maupun Non CPE (Radio Base Station, Radio Microwave, Pemancar Radio/TV siaran dll) hasil import yang ternyata tidak semua sesuai dengan peruntukannya di Indonesia dan benar-benar sesuai dengan persyaratan teknisnya.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi dan peraturan pemerintah sebagai pelaksanaannya, dan terakhir dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Kominfo Nomor 29 /PER/M.Kominfo/09/2008 tentang Sertifikasi alat dan perangkat telekomunikasi telah diatur bahwa setiap alat yang dimasukkan, dibuat, dirakit, diperdagangkan dan/atau digunakan wajib memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan, dan sebagai tanda pemenuhan kesesuaian tipe alat dan perangkat telekomunikasi terhadap persyaratan teknis tersebut diwujudkan dalam bentuk sertifikat.

Sebagai catatan, sampai saat ini biasanya Direktorat Standardisasi selaku instansi penerbit sertifikat menggunakan Lembaga Uji seperti Balai Besar Perangkat Telekomunikasi Ditjen Postel atau R&D PT. TELKOM untuk memastikan kesesuain dimaksud. Pengujian ini biasanya mengacu kepada Spesifikasi Teknis Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Technical Specification Regulation), Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Acuan Internasional seperti ISO, ETSI, RR, ITU, IEC.

Tentu saja bukan berarti keberadaan Lab Kalibrasi akan otomatis dapat melakukan semua pengetsan tersebut, karena untuk melakukan pengetesan lengkap tidak hanya dibutuhkan Lab Kalibrasi, tapi juga dukungan Lab lainnya, seperti Lab Radio dan Lab EMC.

read more “Membangun Lab Kalibrasi ala Perguruan Tinggi”

Overview tentang Proficiency Testing

0 komentar Selasa, 10 Februari 2009

Sebuah lab Kalibrasi melaksanakan beberapa kegiatan untuk menjaga mutu layanannya. Dari mulai tahapan menerima order, proses kalibrasi, sampai ke penyerahan perangkat yang telah selesai dikalibrasi kepada pemiliknya.

Jika kita fokuskan ke bahasan teknis kalibrasinya sendiri, ada beberapa program terkait jaminan mutu ini, misalnya lab berusaha agar metode kalibrasinya sesuai dengan teknik metrologi terbaru alias sudah tervalidasi dengan baik, bagaimana menjaga ketertelusuran (traceability) semua perangkat kalibrasi yang digunakan, mengembangkan kemampuan teknisi kalibrasi, menepati janji penyelesaian layanan kepada kastamer, dan beberapa hal lain.

Sebagian Lab menjalankan kegiatan-kegiatan tersebut semata-mata menjalankan kewajiban yang sudah digariskan oleh aturan dasar lab kalibrasi yaitu ISO/IEC 17025, aturan-aturan tambahan dari Badan Akreditasi, dan mungkin ditambah pula beberapa program sesuai dengan visi misi atau policy manajemen setempat. Tentu sebaiknya Lab juga menjalankan dengan sungguh-sungguh beberapa kegiatan tambahan lain yang dapat meningkatkan mutu semua aspek layanannya, namun ini biasanya terbentur kepada pertimbangan atau trade-off antara keinginan ideal tersebut dengan resource eksisting yang dimiliki.

Kali ini akan kita bahas tentang Proficiency Testing (PT), yang merupakan salah satu kegiatan penting di dalam manajemen kalibrasi. Pada umumnya, PT dilakukan dengan cara mendistribusikan sebuah perangkat kepada beberapa lab yang menjadi partisipan suatu PT. Perangkat ini mempunyai nilai yang akurasi sebenarnya hanya diketahui oleh suatu organiser. Lab-lab tersebut menganalisa perangkat tersebut, lalu melaporkan report kepada organiser ini. Kemudian Organiser tersebut akan membuat suatu report yang menggambarkan tingkkat kedekatan nilai hasil ukur lab tersebut dengan nilai “sebenarnya”. Hasil inilah yang akan dijadikan masukan untuk meningkatkan kinerja Lab.

Sebagai catatan, kegiatan PT sebenarnya tidak hanya diperuntukkan bagi kegiatan kalibrasi saja, tapi juga beberapa analisa dan pengetesan lainnya, seperti analisa mineral, pengetesan forensik, pengetesan lingkungan. Coba tengok website beberapa provider PT ini seperti http://www.scc.ca (Standards Council of Canada), http://www.hsl.gov.uk (Helath and Safety Laboratory), http://www.cms.hhs.gov (Centre for Medicare and Medicaid Service).

Dalam ISO 17025General Requirements for the Competence of Testing and Calibration Laboratories disebutkan bahwa Lab disarankan menjalankan melakukan beberapa kegiatan untuk menjamin mutu hasil kalibrasi, antara lain :

1. Menggunakan reference material yang bersertifikat dan atau melakukan kontrol mutu internal menggunakan secondary reference material. Jadi tidak cukup mengandalkan hasil kalibrasi perangkat standar (kalibrator) dari luar saja, tapi juga harus melakukan pengecekan menggunakan kalibrator lain (denga akurasi yang mungkin berada di bawah kalibrator utama) sebagai pembanding.

2. Berpartisipasi aktif pada ILC atau PT.

3. Melakukan replikasi kalibrasi menggunakan metode yang sama atau berbeda.

4. Melakukan re-testing dan rekalibrasi standard atau kalibrator.

5. Menganalisa korelasi karakteristik antar perangkat.

Ada masalah besar yang sering dilupakan Lab, yaitu bahwa PT ini sebenarnya tidak diniatkan untuk membuat judgment seberapa hebat suatu Lab. Karena jika niat ini yang mendasari suatu skema PT yang dilaksanakan suatu Lab, maka Lab tersebut bisa saja akan memanipulasi nilai ukur, walaupun ini juga agak sulit karena nilai sebenarnya dikantongi oleh organiser. Demikian juga bagi Badan Akreditasi, yang biasanya menjadi fasilitator PT, harus diingatkan agar tidak menjadikan penyelenggaraan PT ini sebagai ajang “ujian nasional” untuk melakukan judgment tersebut, apalagi melakukan peta peringkat Lab.

Kadang muncul masalah saat suatu Lab yakin lulus (dengan En yang diperkirakan baik), tapi ternyata laporan finalnya menyatakan bahwa Lab tidak lulus PT. Hal ini bisa disebabkan artifak memang memiliki nilai benar yang sudah menyimpang dari nilai nominal (dan organizer merahasiakan nilai ini). Atau bisa saja artifak tadi sudah mengalami drift (berbasis waktu). Karenanya Lab peserta ILC atau PT sebaiknya memberikan nilai ukur sebenarnya sesuai dengan hasil ukur yang diperolehnya. Soal ketidaklulusan ini menjadi akan dipersoalkan oleh Badan Akreditasi, ini sebenarnya berada di luar urusan provider PT.

Catatan :

Ada dua nilai yang umumnya dijadikan rujukan kinerja “keberhasilan” suatu Lab dalam mengikuti proficiency testing, yaitu En dan Z-score. Jika En nilainya antara -1 sampai 1, maka Lab peserta disebut memberi “hasil yang memuaskan”. Untuk nilai Z-score sebaiknya berada di antara -2 sampai 2, jika di atas 3 dikatakan “tidak memuaskan”, sedangkan nilai diantara 2 dan 3 dikatakan memiliki “hasil PT dipertanyakan”.

clip_image002[4]

clip_image004[4]

Jadi jika ketidakpastian gabungan antara lab peserta PT dengan ketidakpastian dari Lab rujukan sebesar 1 %, maka perbedaan penunjukan nilai kedua hasil kalibrasi (yaitu Lab peserta dengan Lab rujukan) pada suatu titik ukur yang sama tidak boleh lebih besar dari 1 %.

Atau jika deviasi hasil pengukuran oleh suatu Lab peserta PT adalah sebesar 1%, maka perbedaan penunjukan nilai kedua hasil kalibrasi (yaitu Lab peserta dengan Lab rujukan) pada suatu titik ukur yang sama tidak boleh lebih besar dari 2 %.

Dengan PT ini, maka Lab Kalibrasi bisa memiliki satu lagi cara untuk menunjukkan pada stakeholder lab, terutama pada kastamer bahwa mereka benar-benar melakukan maintenance dan perbaikan kinerja secara berkelanjutan. Biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan ini tidak ada artinya dibandingkan reputasi jelek yang didapatkan jika ternyata kalibrasi yang selama ini dilakukan salah atau memiliki tingkat akurasi yang jelek.

Maka hasil PT inipun bisa ditunjukkan kepada kastamer, sebagai evidence tambahan bahwa Lab memiliki komitmen menjaga konsistensi mutu proses dan hasil kalibrasi, walaupun dalam kenyataannya, dari pengalaman penulis, sangat jarang kastamer yang memiliki keingintahuan sampai demikian jauh.

Provider PT

Dalam skala nasional, hanya Komite Akreditasi Nasional saja yang selama ini menjadi provider PT bagi semua Lab Kalibrasi yang diakreditasinya. Tapi sayangnya kegiatan ini kurang intensif dilakukan kemungkinan karena faktor biaya dan waktu yang diperlukan yang relatif lama, karena perangkat sample-nya harus digilirkan ke seluruh Lab yang menjadi partisipan PT.

Dalam skala internasional, ada beberapa provider PT. Masing-masing memiliki scope dan spesialisasinya sendiri-sendiri, misalnya di Amerika ada NAPT (National Association for Proficiency Testing), di Australia ada PTA (Proficiency Testing Australia).

Sekilas tentang PTA, organisasi ini adalah subsidiary dari NATA (National Association of Testing Authorities). Pada Oktober 2008 PTA diterima sebagai anggota Associate Member of the Asia Pacific Laboratory Accreditation Cooperation (APLAC).

PTA menawarkan layanan PT baik untuk Lab Uji maupun Lab Kalibrasi. Untuk Lab Uji, kinerja suatu Lab merupakan hasil perbandingan nilai konsesus terhadap nilai hasil perhitungan yang diperoleh dari hasil suatu PT. Sedangkan pada Lab Kalibrasi, nilai PT suatu Lab akan dibandingkan dengan nilai referensi (reference value) lengkap dengan perhitungan ketidakpastiannya.

Dengan pertimbangan kelengkapan informasi yang tersedia di website-nya, kali ini penulis akan membahas agak banyak tentang salah satu provider PT terkemuka lainnya yaitu NAPT, yang didirikan 12 tahun lalu, tepatnya pada Desember 1996.

Dari websitenya, NAPT menyatakan dirinya sebagai provider PT/ILC dimana ILC adalah kepanjangan dari Inter Laboratory Comparison, yang memiliki makna hampir sama dengan PT. Diceritakan pada masa berdirinya, kegiatan semacam PT ini masih jarang dilakukan. NIST dan NCSL sudah melakukan kegiatan sejenis yang disebut Round Robin, namun belum dianggap cukup independen secara institusi dan belum benar-benar “open format”.

Maka muncullah NAPT, lembaga non profit dengan tujuan menyediakan fungsi manajemen, administrasi, koordinasi, data processing, dan pelaporan terhadap kegiatan interlaboratory comparison, PT dan round robin. Namun dalam statement resminya, fungsi ini ditambah dengan misi ideal seperti diseminasi pengetahuan metrologi, membantu akreditasi, sampai ke “bank” penyimpanan data-data hasil PT.

NAPT mengantongi akreditasi dari A2LA, memenuhi persyaratan ILAC Guide 13 : Guidelines for the Requirements for the Competence of Providers of Proficiency Testing Schemes”  (based on ISO/IEC Guide 43-1:1997, relevant elements of ISO/IEC 17025:1999, and relevant ISO 9000 Series requirements). Scope layanannya luas, meliputi dimensi, elektrik, mekanik, RF Microwave, Thermodynamic, dan Time/Frequency.

Jadi jika suatu Lab Kalibrasi menginginkan suatu layanan PT dari NAPT dalam bidang time & frequency, maka nantinya NAPT akan mengirimkan suatu perangkat yang disebut “artifak”, misalnya frequency meter atau frequency counter. Metodenya juga akan dijelaskan. Hasil PT ini bisa saja dimintakan oleh Lab untuk dikirimkan ke Badan Akreditasi dimana Lab “bernaung” di bawahnya, tentu saja jika ada surat permintaan resmi. Ini dilakukan mungkin dengan tujuan agar image Lab bisa naik di mata Badan Akreditasi.

Jika Lab tersebut menginginkan suatu artifak lainnya yang tidak dimiliki oleh NAPT, maka Lab bisa diminta menjadi sponsor artifak, yaitu dengan meminjamkan perangkatnya ke NAPT untuk kemudian dijadikan sebagai “artifak” PT/ILC. Tentu saja ada beberapa keuntungan menjadi sponsor ini misalnya dalam hal image dan networking.

Lalu darimana NAPT mendapatkan reference value untuk artifak yang digunakanannya? Dari website-nya dikatakan bahwa NAPT mendapatkan nilai ini dengan bantuan dari NIST. Kemudian NAPT akan melakukan berbagai review statistik seperti Two Sigma, Three Sigma, Chauvnet Criterion, Sample Median, Trimmed Mean, Interquartile, Q-Test, dan Thompson Technique. Ini digunakan sebelum, selama dan sesudah suatu artifak didistribusikan, dengan tujuan agar reference value untuk artifak ini selalu valid dan dapat mendeteksi dengan cepat jika muncul anomali.

NAPT menjanjikan kualitas pengukuran yang melebihi standar dari guideline yang dianut. Beberapa guideline yang dijadikan patokan kerjanya antara lain :

1. ILAC-G13:  Guidelines for the Requirements for the Competence of Providers of Proficiency Testing Schemes.

2. ISO/IEC Guide 43-1:  Proficiency Testing by Interlaboratory Comparisons - Part 1: Development and Operation of Proficiency Testing Schemes.

3. NCSLI RP-15:  Guide for Interlaboratory Comparisons.

4. ASTM E1301:  Standard Guide for Proficiency Testing by Interlaboratory Comparisons.

5. ISO/IEC Guide 43-1:  Proficiency Testing by Interlaboratory Comparisons - Part 2: Selection and Use of Proficiency Testing Schemes by Laboratory Accreditation Bodies.

6. ISO/IEC 17025:  General Requirements for the Competence of Testing and Calibration Laboratories.

Perbedaan ILC dan PT

ILC (Inter Laboratory Comparison) adalah kegiatan pengorganisasian dan evaluasi kinerja proses kalibrasi atau pengetesan pada suatu item (misalnya artifak) oleh dua laboratorium (atau lebih) dengan suatu pengkondisian tertentu.

Sedangkan PT (Proficiency Testing) adalah kegiatan memperkirakan kinerja suatu Lab dengan cara membandingkan dan mengevaluasi proses kalibrasi atau pengetesan pada suatu item (misalnya artifak) oleh dua laboratorium (atau lebih) dengan suatu pengkondisian tertentu

Manfaat ILC :

1. Mengembangkan kemampuan analisa ketidakpastian suatu Lab

2. Media untuk melihat kinerja personel sekaligus sebagai media pelatihan antar personal. Promosi seorang teknisi bisa saja dilihat dari parameter kemampuan nyata yang ditunjukkan oleh teknisi dibandingkan dengan teknisi lain bahkan di Lab yang berbeda.

3. Membangun networking dan korelasi antar Lab

4. Menentukan karakteristik suatu material, misalnya dalam hal akurasi

Manfaat PT :

1. Media assesmen terhadap kemampuan Lab (biasa digunakan oleh Badan Akreditasi)

2. Membuktikan kesesuaian terhadap standar mutu

3. Membuktikan kesesuaian statemen ketidakpastian yang dinyatakan pada scope dan akreditasi

4. Menentukan kinerja lab untuk suatu pengukuran

5. Mongawasi kinerja lab secara kontinyu

6. Identifikasi peluang proses improvement

Penjelasan tentang ILC dan PT ini diambil dari NAPT. Jika diteliti keduanya memiliki kemiripan, hanya tujuannya saja yang agak berbeda. Namun dari pengalaman yang ada, memang tidak berbeda jauh, dan manfaat keduanya bisa saling dipertukarkan. Perbedaan dari sudut pandang Badan Akreditasi mungkin tidak terlalu penting. Justru substansi-nya lah yang harusnya menjadi concern bagi Lab Kalibrasi. Misalnya saja dalam hal diseminasi kemampuan teknisi senior dari suatu Lab kepada teknisi-teknisi lain di Lab yang berbeda.

Referensi

1. NAPT Website, http://www.proficiency.org

2. PTA Website, http://www.proficiencytesting.com.au/

3. CMS Website, http://www.cms.hhs.gov

4. Tool4PT Pro, http://www.mermayde.nl/

read more “Overview tentang Proficiency Testing”