Service Recovery
1 komentar Sabtu, 28 Maret 2009Dalam suatu proses bisnis kalibrasi, kaulitas menjadi parameter yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, apalagi dengan semakin kritisnya kastamer saat ini dengan semakin mudahnya penyebaran knowledge kalibrasi dan proses penjaminan mutu di dalamnya. Ada saja kastamer yang pada kesempatan berikutnya tidak lagi melakukan kalibrasinya kepada lab kalibrasi karena sudah mampu melakukan kalibrasi sendiri lengkap dengan berbagai dokumen, prosedur, da proses dalam sistem mutunya.
Bahasan kali ini adalah tentang Service Recovery, yaitu kegiatan dalam mengantisipasi kegagalan dalam suatu layanan yang sudah diberikan. Ini berpotensi muncul karena hal-hal berikut :
1. Perbedaan tolak ukur hasil layanan kalibrasi antara kastamer dengan Lab kalibrasi.
Dalam kenyataannya kastamer sering tidak paham (dan terkadang merasa tidak perlu tahu) tentang proses dan hasil kalibrasi. Mereka sering hanya ingin tahu apakah alat ukurnya masih sehat atau tidak. Andaikan tidak sehat seberapa besar deviasi atau error-nya. Fakta ini akan memberi konsekuensi perbedaan dalam persepsi, dan itu berpotensi menjadi complaint, minimal muncul perasaan tidak puas.
2. Pada umumnya data dan sertifikat kalibrasi didisain minim informasi berupa deskripsi atau “cerita”, biasanya hanya angka, grafik dan hasil-hasil ukur yang umumnya tidak mudah begitu saja ditafsirkan oleh seorang teknisi penggunanya sekalipun.
Karenanya hasil usaha keras seorang teknisi kalibrasi dalam melakukan pengukuran seakurat mungkin tidak akan tercermin dalam lembar data dan sertifikat kalibrasi. Keberhasilan proses adjustment misalnya, yang sering membutuhkan effort yang tidak kecil, sering tidak berdampak apa-apa untuk meningkatkan kepuasan kastamer, karena kastamer dari awalnya juga tidak tahu bagaimana kondisi alat ukur sebelum dikalibrasi. Andaikan saja kita dapat menceritakan bagaimana proses kalibrasinya dan itu bisa dimengerti oleh orang yang dapat memahaminya (di pihak kastamer), mungkin hal ini dapat dapat berpotensi meningkatkan image Lab Kalibrasi.
3. Secara alamiah, umumnya proses kalibrasi tidak dilihat langsung oleh kastamer.
Seringkali dalam kasus di perusahaan saya, kastamer sering diajak berdiskusi dulu tentang semua hal terkait layanan kalibrasi, dari mulai kondisi penggunaan alat ukur di operasionalnya sampai ke knowledge mereka tentang kalibrasi dan kemampuan memanfaatkan hasil kalibrasi. Ini dilakukan dengan tujuan agar kastamer juga mengerti tingkat kesulitan yang Lab hadapi sehingga setidaknya dapat memberi gambaran bahwa uang yang mereka keluarkan untuk layanan kalibrasi tidak “percuma”.
Mungkin ada sebab-sebab lainnya, silakan anda cari sendiri terutama dikaitkan dengan kondisi layanan yang perusahaan atau Lab anda berikan. Pada tulisan singkat ini akan lebih ditekankan pada bagaimana melakukan service recovery-nya.
Ada suatu presentasi tentang Service Quality, yang sayangnya saya tidak mengetahui siapa yang menulisnya (karena tidak mencantumkan identitas penulis), ada beberapa pendekatan dalam service recovery ini, diantaranya :
1. The case by case approach
Sesuai namanya, pendekatan dilakukan dengan melihat kondisi permasalahannya secara kasus per kasus, dimana cara dan tindakan apa yang harus diambil sangat spesifik tergantung pada jenis masalah, siapa kastamernya, bahkan hitung-hitungan ekonomis alias pertimbangan keuntungan apa yang didapatkan Lab disesuaikan dengan effort yang dikeluarkan.
Pendekatan ini disebut-sebut memiliki potensi munculnya rasa ketidak-adilan di antara para kastamer, tetapi mungkin ini kecil potensinya dalam layanan kalibrasi karena sangat bervariasinya alat ukur yang diorderkan oleh kastamer. Pendekatan pada kastamer A tidak akan mudah diketahui oleh kastamer B.
2. The systematic response approach
Pendekatan ini memerlukan suatu pemikiran dan kegiatan yang sistematis terhadap kegagalan yang terjadi dalam melayani kastamer. Apa yang menyebabkannya, dan bagaimana melakukan antisipasinya menggunakan resource yang ada. Aspek perencanaan menjadi titik sentral, dan mungkin diperlukan evaluasi pada akhir kegiatan penyelesaian perbaikan.
3. An early intervention approach
Ini mirip-mirip dengan preventif action, dimana perbaikan dilakukan sebelum masalah benar-benar muncul. Ketika mendapatkan alat ukur yang sudah rentan rusak, misalnya jarumnya sudah ringkih, perlu kehati-hatian ekstra dan sebaiknya melakukan koordinasi dengan kastamer untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kastamer mengklaim bahwa alat ukurnya rusak setelah dilakukan kalibrasi, padahal dari awal masuk ke Lab sudah dalam kondisi “rentan”.
4. Substitute service
Untuk pendekatan ini dibutuhkan kegiatan intel informasi kegagalan atau kelemahan Lab kalibrasi yang berposisi sebagai kompetitor. Dibutuhkan kemampuan ekstra untuk hal ini, namun hasilnya akan sangat baik bagi lab jika berhasil memberi service yang mengatasi kelemahan kompetitor tersebut. Misalnya jika pesaing hanya melakukan kalibrasi untuk parameter dasar, maka kita bisa tawarkan service dengan lebih banyak parameter yang dikalibrasi. Tentu saja tidak semata-mata soal jumlah, karena belum tentu pengecekan parameter itu diperlukan oleh kastamer.
Namun demikian catatan harian saya membuktikan bahwa semua pendekatan di atas memerlukan tool yang namanya komunikasi. Di sinilah peran teknisi dan engineer untuk turut pula mendukungnya, karena saat ini kastamer tidak hanya memerlukan data dan angka saja, tapi sering juga memerlukan penjelasan dari data dan angka tersebut. Sudah selayaknya seorang technical manager atau operational manager memposisikan dirinya juga sebagai service manager.
System skills yang tercipta dari unsur-unsur pembentuk sistem mutu dan kemampuan teknis yang memadai tidaklah cukup, dibutuhkan perubahan paradigma dimana system skills cenderung berubah menjadi listening skills, karena sering terjadi kastamer hanya minta “didengarkan” saja masalahnya. Ini pernah terjadi saat Lab saya tidak mampu berbuat apa-apa terhadap alat ukur yang tidak lagi bisa diperbaiki lagi, walaupun sudah dilakukan kegiatan adjusment bahkan repair. Ketika itulah semua usaha kita ceritakan kepada kastamer dan di sinilah listening skill dibutuhkan.
Apa untungnya Model Tekno-ekonomi untuk Bisnis Kalibrasi
0 komentar Senin, 23 Maret 2009Pendekatan Model tekno-ekonomi sangat sering digunakan untuk mempersiapkan suatu produk layanan yang akan dipasarkan. Tafsiran mudah dari model ini adalah bagaimana menganalisa kesiapan teknis dan kelayakan ekonomi suatu produk.
Sepintas Model Tekno-ekonomi ini memperbaiki pemahaman feasibility study alias studi kelayakan yang biasanya dibuat sebelum suatu kegiatan ekonomis dilakukan. Tapi kalau kita pelajari agak mendalam, ternyata feasibility study sangat komprehensif dalam menilai semua aspek kesiapan suatu program atau produk, dari aspek teknis, keuangan, kesiapan SDM, analisa lokasi, kesiapan knowledge, dan lain-lain. Jadi sebenarnya, menurut saya, model tekno-ekonomi justru adalah sebagian kecil saja dari feasibility study.
Namun demikian dalam suatu analisa kelayakan suatu proyek atau produk, terutama yang berada di lingkup teknologi, model tekno-ekonomi sebenarnya sudah cukup baik untuk membuat suatu bahan pertimbangan pengambilan keputusan, apakah proyek atau produk tersebut akan diluncurkan dengan skema yang sudah disiapkan, ataukah tidak. Berbagai pertimbangan di luar scope teknik dan ekonomi tentu saja masih bisa menjadi bahan pertimbangan lain. Tentu ini sangat tergantung pada gaya dan kebijakan manajemen yang berkuasa melakukan pengambilan keputusan tersebut.
Dikaitkan dengan bisnis kalibrasi, pertanyaan besarnya adalah apakah konsep model tekno-ekonomi ini perlu diimplementasikan ? Jika iya, kapan waktu yang tepat melakukannya, dan akhirnya bagaimana melakukannya? Apakah ini bukan kegiatan sia-sia alias tidak ada gunanya ?
Jawabannya sebenarnya tidak jauh dari pertanyaan apakah suatu feasibility study perlu dilakukan atau tidak. Dan itu tergantung kepada kebutuhan, misalnya jika kita ingin mengetahui seberapa besar nilai ekonomis dari bisnis kalibrasi yang kita lakukan. Atau misalnya kita suatu saat ingin mengetahui seberapa besar dampak pilihan teknologi yang kita implementasikan terhadap nilai ekonominya. Atau jika diinginkan analisa komprehensif tentang mutu layanan kalibrasi, dimana hal ini tidak bisa dilepaskan dari bagaimana reliability pengukuran yang digunakan, tidak bisa dilepaskan dari keakuratan perhitungan ketidakpastian, parameter-parameter pengukuran yang mampu diproses sesuai dengan availibility perangkat standar atau calibrator yang dimiliki, dan lain-lain. Atau jika kita ingin mengetahui dampak kebijakan baru dari manajemen perusahaan induk terhadap bisnis kalibrasi yang menjadi salah satu cabang bisnisnya. Dan puluhan alasan lainnya yang dapat dijadikan argumen untuk membuat feasibility study.
Contoh dalam kasus saya, dimana sampai saat ini memang belum pernah dibuat suatu analisa ekonomis komprehensif yang dikaitkan dengan berbagai aspek teknologi yang diimplementasikan di Lab. Seberapa besar dampak pilihan Rubidium Frequency Standard sebagai pilihan sumber frekuensi tertingggi, bagaimana dampak besar Best Measurement Capability (BMC) terhadap revenue Lab, dan akhirnya seberapa besar berbagai parameter teknis, ekonomis dan mix keduanya terhadap NPV Lab Kalibrasi untuk rentang waktu tertentu.
Layanan Kalibrasi saya saat ini menghadapi tantangan baru, yaitu dalam perubahan peta peran untuk mendukung program-program baru perusahaan induk yang kebetulan adalah suatu operator Telekomunikasi menuju Next Generation Network (NGN), sekaligus perubahan posisi market share akibat kompetisi dari sesama provider jasa kalibrasi.
Terbayang dalam benak saya nantinya perlu ada penambahan perangkat-perangkat baru, metode baru yang menyertainya dan pembaruan kemampuan para teknisi kalibrasi untuk mengantisipasi itu semua. Terbayang juga mungkin ada permintaan khusus dari manajemen perusahaan induk saya yang mengharuskan para teknisi kalibrasi untuk lebih concern kepada dukungan persiapan menuju ke NGN, dimana sebagian alat ukur pendukungnya mungkin sudah berbentuk agent, terintegrasi dengan OSS yang ada di NGN. Terbayang oleh saya bagaimana skema manajemen yang harus dibuat oleh para manajer Lab Kalibrasi untuk bisa memberdayakan semua resourcenya dengan dua tujuan, yaitu yag pertama untuk tujuan “sosial” dalam mendukung misi perusahaan induk, dengan cara memberi layanan kalibrasi dan bantuan teknis dalam pengukuran untuk para teknisi operasional di lapangan yang menyediakan dan memelihara infrastruktur perusahaan induk dalam peran sebagai operator telekomunikasi. Sedangkan tujuan kedua adalah sebagai profit centre, yang memaksimalkan seluruh resource untuk dapat menghasilkan revenue, persis sama dengan beberapa lab kalibrasi komersial lainnya.
Atau barangkali perlu ada kegiatan penambahan added value produk yang sudah ongoing selama ini. Atau mungkin ada cabang usaha lain yang masih di seputar alat ukur yang dapat dibuat sebagai mesin uang, misalnya layanan uji fungsi, konsultasi teknis dan manajemen, sewa perangkat dan process control. Konsekuensi dari adanya layanan baru ini, diperlukan investasi perangkat baru, perbaikan pada beberapa bagian proses bisnis, peningkatan kemampuan SDM, perubahan pricing, dan penerapan metode-metode statistik baru. Namun demikian konsep ini tetap harus dapat comply dengan regulasi kalibrasi dan berada dalam batas aturan konsep metrologi yang berlaku, yang diatur dalam ISO/IEC 17025, aturan-aturan khusus Badan Akreditasi, yang dalam kasus Lab saya badan ini adalah Komite Akreditasi Nasional dan sistem mutu Lab Kalibrasi itu sendiri.
Suatu saat nanti saya ingin membuat suatu kajian tekno-ekonomi kemungkinan implementasi konsep-konsep tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang berdampak pada bisnis layanan kalibrasi di lab saya yaitu framework e-TOM, roadmap to NGN, infrastruktur eksisting, kemampuan SDM eksisting, kondisi lingkungan, metode kalibrasi, dan regulasi. Kemudian berangkat dari sini dibuatlah analisa kelayakan ekonominya berbasis model tekno ekonomi, misalnya model bottom-up.
Gambar model tekno-ekonomi jaringan Wimax, sumber : COMPETITIVE POTENTIAL OF WIMAX IN THE BROADBAND ACCESS MARKET: A TECHNO-ECONOMIC ANALYSIS, Timo Smura, Helsinki University of Technology, Networking Laboratory.
Lihat model pada gambar diatas, yang merupakan salah satu contoh model tekno-ekonomi dalam analisa jaringan WiMAX. Model ini hanya contoh saja, untuk dapat diadaptasi ke dalam model bisnis kalibrasi.
Jika mencoba “mentah-mentah” menyadurnya ke dalam bisnis kalibrasi, maka dibutuhkan informasi-informasi sebagai berikut :
1. Jumlah kastamer, yang ditentukan dari jumlah market share, ukuran pasar, dan penetrasi layanan. Market share sendiri ditentukan oleh tingkat persaingan, penetrasi layanan, dan churn rate.
2. Tarif layanan kalibrasi
3. Demand kapasitas layanan, yang ditentukan oleh jumlah kastamer, demand trafik, faktor overbooking.
4. Kapasitas teknis perangkat, yang ditentukan oleh metode kalibrasi, spesifikasi perangkat, kecepatan layanan yang dilakukan teknisi.
5. Demand jumlah perangkat, yang dipengaruhi oleh hasil perhitungan demand kapasitas layanan hasil perhitungan sebelumnya, ditambah dengan ukuran geografi, dan kapasitas teknis perangkat. Jadi demand jumlah perangkat ini harus melihat besar kebutuhan pasar, kemampuan perangkat, dan ukuran geografi. Catatan untuk ukuran geografi ini mungkin tidak perlu dimasukkan jika Lab Kalibrasi anda tidak sering melakukan kalibtasi on-site. Untuk kasus Lab saya, ini harus dimasukkan karena selalu saja sepanjang tahun ada layanan kalibrasi keluar keliling ke kantor-kantor cabang suatu perusahaan kastamer. Dalam suatu proyek, kami sering membuat beberapa tim dimana setiap tim memiliki perangkat yang sama. Ini mengakibatkan Lab kami harus memiliki perangkat sejenis lebih dari satu.
6. CAPEX, yang besarnya ditentukan oleh demand jumlah perangkat dan harga perangkat.
7. Revenue, ditentukan oleh tarif layanan kalibrasi dan jumlah kastamer.
8. Akhirnya didapatkan hasil hitungan ekonomi, yang ditentukan oleh pendapatan (Revenue), OPEX, CAPEX, Periode studi, Discount Rate. Periode studi biasanya lima tahun, tapi ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan sikon. Sedangkan besaran discount rate terkait dengan nilai uang yang berbeda pada waktu yang berbeda.
Itulah gambaran dalam pembahasan tentang kemungkinan kajian tekno-ekonomi di Lab kalibrasi dimana saya bekerja. Mungkin anda memiliki alasan lain untuk melakukan hal yang sama. Dan saya rasa kajian tekno ekonomi ini jangan dianggap suatu hal yang super rumit, kecuali jika dibuat sebagai judul suatu paper ilmiah di perguruan tinggi, dimana alasan-alasan praktis sering tidak mendapat tempat. Satu contoh tentang data demand suatu produk, kalau kita mengambilnya dari contoh yang terjadi di negara lain, sering hal ini dipermasalahkan dengan alasan demand yang ada di negara lain tidak bisa berlaku di Indonesia. Mungkin kita harus melakukan survey atau penelitian di lapangan untuk dapat mengetahui demand sebenarnya. Nah, kalau ini dilakukan (itupun dengan catatan surveynya harus dilakukan berdasarkan suatu metode penelitian yang baku) maka angka demand baru dapat diterima secara akademis.
Namun demikian, ada kalanya pemikiran saya tentang signifakan tidaknya suatu analisa sejenis ini, apapun namanya, dan apapun metode ilmiah yang mendasarinya. Andaipun signifikan, seberapa besar tingkatnya? Jangan-jangan analisa yang sudah kita buat dengan mengerahkan pemikiran dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar ternyata tidak ada efeknya sama sekali bagi keberadaan bisnis kalibrasi kita. Hasilnya hanya menjadi sekedar tambahan wawasan saja.
Mungkin inilah yang perlu dikoreksi terlebih dulu. Bagaimanapun, sekecil apapun analisa nilai ekonomis suatu bisnis, pasti ada gunanya. Memang perlu ada perhatian lebih pada “how to” penulisan. Menurut saya tidak perlu terlalu detail, dan tidak perlu juga memasukkan berbagai macam teori yang tidak perlu. Makin sederhana suatu analisa dan semakin mudah dibaca oleh banyak orang dalam perusahaan kita, manfaat akan dapat dirasakan bersama. Tentu saja tentang bagaimana memanfaatkan dengan baik suatu hasil analisa, itu membutuhkan kecerrdasan tersendiri. Satu hal lagi, terlepas dari kualitas pengetahuan itu sendiri, pengetahuan yang sudah tertulis lebih memiliki potensi untuk dapat dimanfaatkan daripada hanya beku di dalam otak seseorang saja. Karenanya saya pribadi sangat mendukung manajemen perusahaan induk tempat saya bekerja yang kini memiliki kebijakan agar seluruh karyawan dapat benar-benar memanfaatkan facebook dan blog dalam mendukung kerja sehari-hari dan sebagai sarana marketing produk.
Akhirnya, next time akan saya coba bahas lebih dalam implementasi kajian tekno-ekonomi ini dalam lab kalibrasi.
Penerapan Konsep Kaizen pada Lab Kalibrasi
2 komentar Selasa, 17 Maret 2009Tulisan kali ini adalah tentang bagaimana implementasi konsep Continuous Improvement dalam Lab Kalibrasi. Sebenarnya hal ini bukan hal yang asing lagi, karena dalam ISO 17025, ataupun ISO 9000 sudah digariskan adanya kewajiban Lab dalam menjalankan improvement yang ujung-ujungnya tidak jauh-jauh dari soal bagaimana peningkatan kualitas layanan kepada kastamer, disamping tentunya peningkatan efisiensi dan efektivitas produksi.
Namun sebelumnya akan dibahas secara singkat saja beberapa konsep yang terkait dengan continuous improvement ini. Konsep-konsep itu antara lain Toyota Production System (TPS) atau istilah lain yang lebih terkenal adalah Just in time, Total Quality Control, Total Productive Management.
Sebagian bahasan, saya ambil materinya dari buku “Tantangan Industri Manufaktur, Penerapan Perbaikan Berkesinambungan”, karya Kiyoshi Suzaki.
(buku asli karya Kiyoshi Suzaki)
KAIZEN
Pernah mendengar istilah Kaizen ? Ya, itu adalah konsep perbaikan terus menerus dengan mellibatkan seluruh karyawan dalam perusahaan, dari mulai CEO sampai pekerja paling bawah. Dengan menerapkan prinsip ini, maka bisa tercipta lean manufacturing, pembrorosan dapat ditekan secara signifikan.
Sebenarnya Kaizen adalah filosofi bangsa Jepang yang meliputi semua aspek kehidupan. Mulai diterapkan bangsa ajaib ini saat masa recovery perang dunia dua, dan perusahaan yang mempelopori penerapan Kaizen ini pada waktu itu adalah Toyota.
Berbicara tentang Kaizen berarti bicara tentang improvement di semua aspek, oleh semua karyawan, setiap hari, perorangan maupun tim (kecil maupun besar). Dalam bahasa Inggris-nya dikenal sebagai continuous improvement.
Apa saja yang dilakukan pada kaizen ?
Merujuk pada siklus Kaizen, maka kegiatan-kegiatannya adalah sebagai berikut :
1. Menstandarkan operasi
2. Mengukur operasi yang sudah distandarisadi (temykan waktu siklus dan jumlah barang pada inventory)
3. Buat pengukuran sesuai keperluan
4. Membuat inovasi untuk memenuhi persyaratan dan peningkatan produktivitas
5. Standarisasi operasi yang baru
6. Siklus kegiatan berkelanjutan tanpa batas
Siklus ini dikenal dengan nama Shewhart cycle, Deming cycle, atau PDCA (lihat gambar).
(Siklus PDCA, gambar diambil dari Wikipedia)
TOYOTA PRODUCTION SYSTEM (TPS)
TPS adalah sistem sosio-teknikal yang dikembangkan Toyota, yang mengatur proses dalam manufakturing dan logistik pada pabrik mobilnya, termasuk interaksi antara pemasok dan para kastamer. Bagaimana cara memproduksi hanya barang yang dibutuhkan, pada saat yang tepat dan dalam jumlah yang sesuai kebutuhan.
TPS ini sebenarnya adalah adopsi dari “Just in Time Production”. Prinsip-prinsip TPS inilah nantinya melahirkan konsep The Toyota Way.
Tujuan TPS ini utamanya adalah untuk menghilangkan pemborosan yang terjadi pada semua aspek manufaktur. Apa itu pemborosan ? Mungkin banyak tafsirannya dan bisa disesuaikan dengan sikon kerja masing-masing. Sebagai pembanding, Toyota mendefinisikan pemborosan dengan kalimat sederhana namun sangat baik, yaitu “jika sesuatu tidak memberi nilai tambah, itulah pemborosan”.
Pemborosan yang dimaksud bisa bervariasi penyebabnya, antara lain :
1. Over produksi
Untuk manufaktur umumnya ini menjadi masalah, namun untuk kalibrasi rasanya masalah semacam ini muncul pada saat sertifikat yang sudah selesai dibuat terlalu menumpuk, atau perangkat UUT yang sudah dikalibrasi sudah mulai melebihi kapasitas inventory. Dibutuhkan space dan manajemen ruang ekstra untuk mengantisipasi kejadian tertukarnya dokumen atau pencarian dokumen atau perangkat yang lama akibat menumpuknya item tersebut.
2. Waktu menunggu
Ini sering menjadi masalah yang berada di bawah gunung es sehingga tidak nampak di permukaan. Dalam proses bisnis kalibrasi, umumnya memiliki tahapan secara berurutan dari mulai customer service, inventory, proses kalibrasi, perhitungan uncertainty, pemeriksaan kelengkapan datasheet, pengetikan sertifikat, approved signatory process, inventory, dan akhirnya kembali ke customer service lagi saat kastamer mengambil perangkat (UUT) nya kembali.
Prinsip dasar tiap titik-titik layanan ini adalah FIFO (First in first out), namun kenyataannya sering berbelok menjadi pola tak beraturan, apalagi untuk memenuhi permintaan kusus dari kastamer ataupun memenuhi permintaan manajemen dengan alasan tertentu. Bagi teknisi, FIFO ini sering dilanggar karena naluri alamiah manusia untuk “mendahulukan yang sederhana dulu, yang sulit atau kompleks dikerjakan belakangan”.
Hasil akhir dari pola demikian, akhirnya terkadang ada kastamer yang beruntung menerima layanan yang super cepat, sebaliknya ada juga kastamer yang “bernasib sial” menerima layanan yang super lambat.
3. Transportasi
Sempat terjadi dalam ruang workshop kalibrasi saya, manajemen memutuskan untuk membuat ruang kusus yang baru untuk inventory baik bagi perangkat kastamer yang masuk maupun yang siap dikembalikan kepada kastamer. Ruangnya memang lebih besar daripada inventory sebelumnya, namun ada kesalahan mendasar yaitu makin jauhnya jarak antara ruang proses kalibrasi dengan inventory.
Anehnya itu baru kami sadari waktu berjalan satu atau dua minggu. Jelas terasa saat mengangkat perangkat yang cukup berat antara inventory dan ruang proses kalibrasi. Dan ironisnya beberapa bulan kemudian manajemen memutuskan menutup rapat pintu keluar gedung yang berada dekat inventory dengan alasan keamanan, sehingga kini giliran jarak antara inventory dengan ruang customer service menjadi lebih panjang.
Sederhana saja masalahnya, waktu akan terbuang percuma hanya untuk transportasi yang sebenarnya bisa diatur menjadi lebih cepat.
4. Pemrosesan
Seringkali proses kalibrasi tertunda di tengah jalan karena salah satu calibrator atau perangkat standar yang digunakan sedang digunakan oleh teknisi lain. Tidak jarang suatu konektor yang dibutuhkan tidak ada di tempat karena terbawa oleh teknisi lain yang sedang melakukan kalibrasi on-site yang sengaja membawa konektor dengan jumlah berlebihan “hanya” sebagai cadangan, tanpa ada argumen kuat.
5. Tingkat Persediaan Barang
Ruangan Lab kalibrasi saya sebenarnya cukup ideal, tidak terlalu besar juga, tapi jadi terasa padat dengan perangkat. Setelah diadakan analisa ternyata ada sepertiganya yang hampir tidak pernah digunakan selama setahun belakangan ini. Mungkin hanya akan digunakan jika perangkat sejenis dipakai semua, misalnya untuk keperluan kalibrasi on-site, itupun ada beberapa perangkat standar yang jumlahnya lebih dari tiga bahkan empat untuk jenis yang sama.
6. Gerak
Ini “penyakit” yang sering muncul jika seorang teknisi tidak disiplin meletakkan perangkat ataupun toolkit sesuai dengan posisinya semula. Waktu terbuang “hanya” untuk mencari, mondar-mandir, kelihatan sibuk namun tidak produktif.
Kelihatannya sederhana, namun ini perlu diperhatikan dengan seksama, sesederhana kuncinya yaitu disiplin dan mau peduli.
7. Cacat produksi
Untuk kategori ini mungkin diperlukan proficiency testing antar teknisi, sekaligus melihat bagaimana mereka bekerja berdasarkan rambu-rambu prosedur mutu. Namun cara ini biasanya untuk ukuran Indonesia tidak efektif, karena saat test itu diadakan, semua teknisi cenderung akan berakting bak pemain sinetron, semua prosedur akan diikuti dengan sebaik-baiknya. Mungkin pengawasan ala orde baru yang disebut pengawasan melekat (waskat) bisa menjadi solusinya, dimana Manager Teknis atau teknisi senior mengawasi pekerjaan teknisi di bawahnya dalam kerja sehari-hari. Pengawasan yang dimaksud tentu bukan seperti seoranng mandor mengawasi kerja para tukangnya.
PENYEDERHANAAN, PENGGABUNGAN DAN PENGHAPUSAN
Ketiga kegiatan inilah, baik sendiri-sendiri maupun gabungan antar dua bahkan ketiganya, mampu memberikan solusi pada pemborosan dan potensi pemborosan yang diuraikan sebelumnya.
Meja kerja di ruang proses kalibrasi saya didisain mengelilingi ruang. Jadi jika saya berdiri di tengah ruangan, itu artinya saya dikelilingi meja-meja yang diatasnya berderet banyak perangkat standar. Jadi saya dapat leluasa melihat tampak depan semua perangkat yang dimiliki lab saya.
Kusus meja untuk unit under test (UUT) yaitu alat ukur kastamer yang siap dikalibrasi, sebagiannya diletakkan di meja dorong (meja yang diberi roda di kaki-kakinya), sehingga memudahkan untuk diputar-putar jika ingin melihat serial number, kondisi konektor power, pemasangan kabel GPIB, dan lain-lain.
(cotoh meja dorong, gambar dari http://www.russconstructionllc.com)
(contoh meja kerja)
Perlakuan yang sama juga kami terapkan untuk beberapa perangkat standar yang paling sering digunakan alias paling “mobile”, sehingga jika akan digunakan oleh teknisi lainnya tinggal mendorong mejanya, tidak perlu mengangkatnya.
Tapi sayangnya jarak antar meja-meja kerja tersebut dengan tembok ruang lab agak sempit, sehingga jika ada pemasangan kabel tertentu pada konektor yang kebetulan ada di bagian belakang perangkat standar, muncul kesulitan tersendiri, terutama bagi teknisi yang kebetulan berbadan besar atau gemuk.
Di ruang inventory juga perlu menataan, yang sebenarnya sederhana saja, namun cukup bermanfaat untuk kecepatan dan ketepatan dalam bekerja. Kelompokkan saja perangkat-perangkat yang ada di inventory berdasarkan kastamer pemiliknya, beri pita dengan warna yang sama, sehingga teknisi mudah mengenalinya. Kalau perlu ada plastik kusus yang diikatkan ke perangkat tersebut sebagai tempat kabel, card, konektor ataupun buku manual milik kastamer, berikut daftar barang milik kastamer. Mungkin agak repot di awalnya, namun akan jauh lebih sederhana di akhir proses.
TOTAL QUALITY CONTROL (TQC)
TQC adalah konsep pembangunan kualitas di bidang bisnis dengan mengerahkan semua orang dari segala organisasi perusahaan agar memenuhi kebutuhan kastamer. Perlu dianalisa apa sebenarnya kebutuhan kastamer dan jawaban dari pertanyaan inilah yang kemudian disinkronkan dengan spesifikasi produk atau layanan yang diberi.
Dalam TQC ini kita mengenal penerapan statistical quality control dan perbaikan kualitas (quality improvement). Sedangkan parameter kualitas pada produk bukan saja soal kualitas fisik saja, tapi juga mencakup dimensi, operasi, lingkungan, keselamatan, reliabilitas, dan kebutuhan pemeliharaan.
TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE (TPM)
TPM adalah konsep pemeliharan yang produktif, ditujukan untuk mencapai efektivitas menyeluruh dari sistem produksi melalui keterlibatan semua orang dalam organisasi. Singkat kata, tujuannya adalah “zero error, zero work-related accident, and zero loss”.
Dengan menerapkan TPM ini maka jumlah teknisi maintenance dapat dikurangi, salah satunya karena perangkat dilengkapi dengan kemampuan “autonomous maintenance” dan dimodifikasi agar reliability-nya semakin tinggi. Bahkan ada istilah pencegahan maintenance dan peningkatan maintenance (Maintenance prevention and Maintainability Improvement) yang mengindikasikan konsentrasi TPM dalam masalah pemeliharan bagi peningkatan produktivitas.
PERBAIKAN PROSES UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS
Ada 12 prinsip yang diajukan Kiyoshi Suzaki untuk perbaikan proses, yaitu :
1. Penataan tempat kerja
2. Pengembangan kecepatan set-up
3. Mengurangi kegiatan transport
4. Mengembangkan alat bantu otomatisasi
5. Penanganan beberapa proses
6. Sinkronisasi proses
7. Lot berukuran satu
8. Konsep Jidoka
9. Poke-Yoke, alat anti salah
10. Menghindari gangguan mesin
11. Penetapan cycle time
12. Standarisasi kerja
Gambar perbandingan layout jakur dan lintasan kerja operator
Cobalah bandingkan antara layout jalur formasu U dengan layout dengan formasi I atau L, mana kira-kira menurut anda yang paling dapat mengatasi pemborosan ? Tentu semua tergantung pada kondisi infrastruktur ruangan lab yang anda miliki. Namun secara teoritis, formasi U menjanjikan penghematan lintasan perjalanan operator dan benda kerjanya.
Hal lain yang dapat dilakukan dalam perbaikan proses adalah melakukan analisis proses produksi, baik dari kuantitasnya, rute proses kalibrasinya, kemungkinan melakukan grouping dan pengembangan ide-ide baru untuk perbaikan proses secara keseluruhan.
Contoh di lab kalibrasi saya, diantara tiga ribuan alat ukur yang kami layani setiap tahunnya, separuhnya adalah perangkat ukur kesehatan jaringan kabel tembaga yang biasa disebut sulim. Alat ini identik dengan multimeter biasa, namun terintegrasi (embedded) ke perangkat sentral dan MDF. Karena sifatnya yang sederhana, proses kalibrasinya pun hanya memerlukan waktu singkat saja (jika kondisi normal), data kalibrasinya sederhana, maka bisa digrouping untuk mendapatkan perlakuan kusus. Mungkin tidak perlu teknisi senior dalam melakukan kalibrasinya, sertifikat kalibrasinya pun bisa dibuat lebih sederhana dibandingkan sertifikat kalibrasi biasanya, pengetikannyapun bisa dilakukan oleh tenaga kusus agar tidak mengganggu kelancaran jalannya proses pembuatan sertifikat kalibrasi untuk alat ukur lainnya.
Untuk analisa kuantitas produk, bisa dilakukan dengan membuat resume statistik yang berisi prestasi kerja sampai periode tertentu, misalnya dari kastamer perusahaan X, lab sudah mendapatkan order berapa unit, berapa yang sudah terlayani sampai hari ini, berapa rupiah uang yang sudah atau akan didapatkan, berapa persen kinerja sampai hari ini dibandingkan target tahunan. Tambahkan gambar-gambar statistik yang mudah dibaca atau dimengerti oleh semua karyawan Lab Kalibrasi. Dengan demikian akan kelihatan kastamer mana yang perlu mendapat perlakuan esktra.
Untuk pendekatan dalam perbaikan proses, dalam dunia manufaktur dikenal isitilah metode Rabbit Chase (perburuan kelinci), arus poduksi two-piece, penggabungan dengan feeder line, dan beberapa konsep lain yang menurut hemat penulis mungkin kurang perlu diterapkan di lab kalibrasi. Mungkin perlu analisa lebih mendalam tentang kemungkinan pemanfaatannya pada mekanisme kerja di lab kalibrasi.
Pada prinsipnya usahakan untuk selalu bisa mengembangkan aliran produksi selancar mungkin. Salah satu caranya adalah jangan process-layout minded, tapi utamakan product layout.
Kemampuan mesin juga dapat diperbaiki dengan cara otomatisasi, baik hardware maupun softwarenya. Dalam perkembangan dunia instrumentasi, saat ini sudah tersedia aneka perangkat pendukung otomatisasi, misalnya penggunaan GPIB card, RS232 sampai VXI. Berdasarkan pengalaman di lab saya, membuktikan peningkatan dramatis proses kalibrasi memanfaatkan otomatisasi ini. Tentu saja biaya yang dibutuhkan harus disesuaikan dengan ramalan manfaat yang akan diperoleh, termasuk di dalamnya perlu dipikirkan kesiapan SDM yang nanti akan menanganinya.
MENGUATKAN SARAF DAN OTOT SISTEM PRODUKSI
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menerapkan kanzen pada sistem produksi, antara lain :
1. Jidoka (Otonomisasi)
Bayangkan jika proses kalibrasi dapat dilakukan oleh perangkat standar atau calibrator dengan hanya sedikit campur tangan teknisi kalibrasi, maka tenaga karyawan akan sangat dapat dihemat, dan bisa digunakan untuk melakukan hal lain. Jadi ada kecerdasan buatan yang dimasukkan ke perangkat.
Untuk melakukan hal ini, saya menyarankan penggunaan program kalibrasi memanfaatkan GPIB, RS232, Ethernet atau card-card lain yang tersedia pada perangkat. Dalam pengalaman selama di Lab, saya dan rekan-rekan teknisi sudah lama memanfaatkan GPIB dan hasilnya cukkup bermanfaat untuk menyingkat waktu kalibrasi. Untuk kalibrasi spectrum analyzer misalnya, yang tadinya membutuhkan waktu sampai 2 hari untuk sampai jadi sertifikat, ini cukup membutuhkan waktu dua jam saja. Tentu saja ada keterbatasan tertentu dimana software yang kami buat tersebut tidak mampu lagi melakukan tugasnya dengan baik, misalnya jika perangkat memang tidak dapat berfungsi dengan baik atau ada gangguan dengan komunikasi antar perangkat (misalnya GPIB card-nya bermasalah).
2. Andon (Lampu Peraga Gangguan)
Sistem Andon ini bisa dilakukan dengan menggunakan pita dengan warna tertentu yang dililitkan pada bagian perangkat, misalnya warna kuning jika sedari awal perangkat yang akan dikalibrasi sudah ada tanda-tanda abnormal, atau pita merah jika memang ada kerusakan. Dengan menggunakan pita ini, maka teknisi senior akan memberi perhatian lebih pada perangkat ini, untuk kemudian dengan segera “mengambil alih” untuk dianalisa lebih dalam lagi, apakah masih bisa dilakukan kalibrasi ataukah harus diperbaiki dulu. Judgment ini jangan ditunda lagi, segara dilakukan agar dapat dengan segera mengkomunikasinnya dengan kastamer pemilik perangkat.
Mungkin juga perlu ada catatan singkat di tag yang berisi tentang kondisi terakhir dan sedikit keterangan data hasil ukur, tanggal ukur, inisial teknisi. Ini terutama dilakukan jika analisa lanjutan pada perangkat tidak bisa dilakukan dengan segera.
3. Poka-Yoke (Alat Anti Salah)
Pernahkah anda melihat di suatu ruang workshop atau bengkel terdapat lemari tempat menyimpan toolkit (obeng, tang, kunci inggris, kabel) dimana di dinding lemari tersebut terdapat gambar-gambar atau “jejak” toolkit ? Maka jika kita akan menyimpan toolkit itu kembali, kita tinggal melihat gambar lalu meletakkannya persis pada gambar tersebut.
Analogi serupa dapat anda jumpai jika anda sedang membuat suatu perangkat elektronik (misalnya radio) dengan cara merangkai komponen-komponen PCB, dimana di PCB-nya sendiri sudah ada gambar-gambar komponen, sehingga kita dengan mudah menancapkan dan mensolder komponen dimaksud.
Itulah gambaran poka-yoke, suatu mekanisme sederhana yang bersifat “foolproof mechanisme”. Mekanisme ini mampu mengurangi berbagai masalah kecacatan dalam proses, keselamatan kerja, kesalahan operasi, dan lain-lain tanpa memerlukan perhatian berlebihan dari operator.
Jika di tempat kerja anda memiliki ratusan bahkan ribuan buku, poka-yoke ini juga bisa diterapkan untuk mempermudah anda mencari dan meletakkan buku pada posisi yang tepat, misalnya dengan membuat tanda berupa garis diagonal (lihat gambar) pada punggung buku, bisa dengan isolasi warna atau cat. Maka jika akan menyimpan suatu buku kembali, tinggal menyesuaikan tanda tersebut sesuai urutan garis dari yang paling rendah sampai ke palingtinggi. Cara ini umumnya lebih efisien waktu dibandingkan dengan menggunakan penomoran atau kode tertentu pada buku.
Harus ditekankan pada semua karyawan bahwa penting sekali untuk menjaga kualitas barang pada sumbernya, yaitu pada proses kerja, karena semakin lama penundaan dalam menemukan masalah, semakin mahal biaya penyembuhannya. Sangat logis kiranya melakukan pengendalian justru di tempat kerja, yaitu pada kegiatan proses mulai dari tahap terawal.
Dengan kata lain, proses “menemukan kesalahan” ini jangan dilakukan pada akhir produksi saja, atau bahkan sesaat sebelum perangkat diserahkan kembali kepada kastamer. Karena jika ini dilakukan akan muncul pemborosan resource. Bayangkan saja jika inspeksi hanya dilakukan setelah sertifikat kalibrasi selesai, misalnya baru disadari bahwa ada suatu rentang pengukuran yang belum dikalibrasi, maka teknisi terpaksa mengambil perangkat itu lagi dari gudang untuk diproses kembali, standar atau callibrator di-setup kembali, uncertainty mungkin perlu diedit, dan seterusnya.
4. Papan Kontrol Produksi
Pada Lab Kalibrasi, papan kontrol produksi ini dapat diwujudkan dalam suatu control sheet, yang biasanya menyertai suatu datasheet saat awal suatu proses kalibrasi dilakukan. Jadi setiap tahap perlakuan terhadap perangkat unit under test (UUT) dapat dilihat “sejarah”-nya pada control sheet ini, termasuk jika kita ingin mengetahui sampai dimana UUT tersebut diproses, oleh siapa dan ada kendala apa.
Dalam perkembangannya, papan kontrol ini bisa digantikan peranannya oleh software aplikasi proses bisnis, dimana semua tahapan proses dimasukkan dalam database. Tentu saja ini akan memberikan banyak keunggulan dibandingkan cara manual, dengan catatan perangkat pendukungnya (komputer, jaringan, database, server) memadai.
Dan itu pula yang digunakan oleh Lab Kalibrasi saya, dimana setiap ada perangkat UUT dari kastamer sudah resmi menjadi order, maka saat itu pula “timer” kegiatan proses bisnisnya sudah dimulai. Ketika petugas gudang memasukkannya ke dalam gudang, dia memasukkan data ke dalam aplikasi database tersebut. Ketika teknisi mulai melakukan proses kalibrasi, teknisi juga memasukkan informasi, demikian pula saat pekerjaan telah selesai. Demikian seterusnya sampai perangkat UUT diserahkan kembali kepada kastamer pemiliknya.
Dengan demikian, nantinya kita bisa memiliki data berapa rata-rata waktu layanan, ataupun sekedar tracking ketika ada complaint dari kastamer, tinggal melihat riwayat perlakuan perangkat UUT tersebut selama ada di Lab Kalibrasi. Jadi tidak perlu lagi bertanya kepada sesama rekan siapa yang melakukan kalibrasi perangkat UUT tersebut, cukup melihat datanya dari aplikasi database.
Dari aplikasi ini pula, seorang manager dapat memantau apakah suatu perangkat mendapat perlakuan sesuai dengan kualitas layanan yang diberikan, utamanya dalam soal waktu layanan. Jika terlalu lama, misalnya melebihi rata-rata yang telah disepakati, maka manajer bisa melakukan perbaikan pada proses. Ini sebenarnya tidak lain adalah penerapan siklus PDCA (plan, do, check, action).
Tentu saja anda bisa menerapkan hal yang berbeda, dengan variasi yang tidak sama dengan apa yang sudah saya gambarkan ini. Tergantung pada sikon Lab anda, dan resource yang dimiliki. Mungkin tidak harus menggunakan aplikasi database jika UUT tidak banyak, karena dalam pengalaman selama ini penggunaan ICT kadang terhambat soal komitmen, bahkan budaya. Ada saja kejadian karena seorang teknisi malas memasukkan data, proses memasukkan data dilakukan saat puluhan perangkat UUT selesai dikalibrasi. Maka urutan produksi tidak lagi mencerminkan keadaan yang sebenarnya.
5. Membangun Kualitas pada sumbernya
Mekanisme ini menggunakan kombinasi antara control chart dengan diagram fish / diagram sebab-akibat untuk mengenali pada aspek apa penyebab munculnya masalah, apakah pada manusia, mesin, metode, material.
(gambar contoh control chart)
(Tabel tipe-tipe chart – sumber : Wikipedia)
Pelajaran dari Manual Mutu Lab Instron
2 komentar Rabu, 18 Februari 2009Melanjutkan tulisan tentang lab kalibrasi yang ada di perguruan tinggi, ada beberapa universitas di luar negeri yang memang concern dengan kalibrasi ini. Mereka membuat lab yang difungsikan memberikan layanan kalibrasi ini.
Beberapa contoh diantaranya yang berhasil saya dapatkan informasinya adalah :
1. Instrument Calibration Laboratory, yang merupakan lab kalibrasi di bawah Rajamangala University of Technology Thanyaburi. Lab dinyatakan comply pada ISO 17025 oleh Thai Laboratory Accreditation Scheme (TLAS) dan Thai Industrial Standard Institute.
Lab ini bergerak di bidang eletrikal denga scope kalibrasi AC/DC Voltage (sampai 1000 Volt), AC/DC Currrent (sampai 11 Ampere), Resistance (sampai 330 Mega Ohm), Pressure (sampai 54 kPa), Torque (sampai 2.2 N.m). Ini adalah data yang diterbitkan pada April 2008 lalu.
2. Acoustic Calibration Laboratory, yang berada di University of Salford. Sesuai namanya Lab ini menyediakan jasa kalibrasi akustik dan perangkat terkait akustik. Lab diakreditasi oleh UKAS, dengan scope type 1 sound level meters to BS 7580, sound calibrators and pistonphones, pressure sensitivity of microphones.
Lab ini mengklaim dirinya sebagai lab yang biasa mengkalibrasi perangkat sound level meters dan calibrator yanng diproduksi oleh Bruel & Kjaer, Norsonics, Rion, CEL, Svantek, Cirrus.
3. University of Wisconsin Radiation Calibration Laboratory (UWRCL), yang menyediakan layanan kalibrasi untuk perangkat pengukur radiasi di bidang medik atau komunitas kesehatan fisik. Lab ini aspek mediknya diakreditasi oleh American Association of Physicists in Medicine (AAPM), sedangkan aspek manajemen ISO 17025-nya diakreditasi oleh American Association for Laboratory Accreditation (A2LA).
Walaupun tidak semua perguruan tinggi memiliki Lab- Kalibrasinya sendiri, beberapa cerita pendirian Lab berskala dunia memang berasal dari orang-orang di perguruan tinggi, atau setidaknya memiliki kerjasama dengan pihak perguruan tinggi. Ini mungkin tidak aneh, karena memang di negara-negara yang pendidikannya sudah maju, linking antara industri dengan pendidikan sudah bukan masalah lagi. Bab tentang “linkage” ini sudah selesai bagi mereka.
Cerita kalibrasi memang tidak ada habis-habisnya, bahkan dalam perguruan tinggi yang banyak berkecimpung di dunia ICT. Dalam dunia ICT ini, sudah mulai banyak cerita kebutuhan kalibrasi. Software pengukur kecepatan suatu koneksi harusnya dikalibrasi untuk mengetahui keakuratannya. Software penghitung waktu koneksi seseorangpun harusnya dikalibrasi, untuk menjamin seorang kastamer tidak “ditipu” oleh suatu provider layanan koneksi internet.
University of Wisconsin-Madison, menerbitkan suatu buku tentang bagaimana melakukan kalibrrasi suatu tool penaksir bandwidth yang tersedia dalam suatu jaringan, dimana umumnya menggunakan pendekatan kombinasi anttara simulasi “ns-type” (network simulator) dengan eksperimen menggunakan jaringan sebenarnya.
Kali ini kita akan “berwisata” ke Lab Kalibrasi Instron, yang berkantor pusat di Norwood, Massachusetts, USA Anda bisa surfing ke http://www.instron.us untuk melihat-lihat kehebatan dan layanan supr komprehensif dari Lab Kalibrasi yang satu ini.
Namun pada tulisan kali ini yang menjadi sorotan utama adalah manual mutu dari Lab ini, yang memang dishare kepada siapa saja. Ini menarik karena jarang sebuah Lab membolehkan siapapun melihat manual mutunya. Anda dapat mendownload manual mutu lab ini dari websitenya.
Overview Lab Instron
Lab ini didirikan tahun 1946, dengan sekitar 1200 karyawan yang tersebar di seluruh dunia, bergerak terutama di bidang mekanikal, dimana lab ini bukan hanya memberi layanan kalibrasi saja, tapi sebenarnya lebih canggih dari itu, Instron mampu memiliki kemampuan sebagai manufaktur perangkat pengetesan material, sistem, asesori, menyediakan solusi komperehensif untuk keperluan riset dan persyaratan kualitas tertentu. Mereka menawarkan layanan kalibrasi, pelatihan, dukungan teknis, dan asistensi manajemen laboratorium.
Perusahaan yang kantor pusatnya beralamat di 825 University Avenue, Norwood, MA 020162-2643 ini memiliki volume penjualan melebihi $250 Milyar. Suatu skala penjualan yang cukup besar bagi perusahaan berskala internasional. Maklum saja, cabangnya sudah ada Amerika, Eropa dan Asia. Jumlah mesinnya yang telah terinstall mencapai 70 ribu.
Mesin-mesin yang dihasilkan oleh Instron dapat melakukan pengetesan sifat mekanikal material dan komponen tertentu menggunakan pengetesan tension, compression, flexure, fatigue, impact, torsion dan hardness.
Sebagai perusahaan berskala internasional, sistem mutu Instron harus memenuhi persyaratan dari multi standar yang diberlakukan di negara-negara pemasarannya. Maka tidak aneh jika sistem mutu mereka mendapat akreditasi dari NVLAP, NIST, NATA, UKAS, SGS, ANAB, TUV dan IT.
Sistem mutu, standar pengukuran dan prosedurnya sendiri diklaim telah memenuhi bahkan melebihi persyaratan dari ISO/ANSI/ASQ 9001:2000. Khusus untuk aktivitas desain software, Instron diakreditasi oleh SGS Yarsley ICS Ltd. Dalam untuk persyaratan ISO 9000-3:1997 dan persyaratan skema DTI's TickIT . Assesmen jenis ini penting dilakukan mengingat Instron memproduksi juga beberapa software yang dipakai untuk kontrol test secara otomatis, koleksi data, analisa hasil, dan pelaporan. Contoh produknya adalah software BlueHill yang digunakan sebagai software pendukung sistem pengetesan universal material.
Maka Lab Kalibrasi Instron di Eropa diakreditasi oleh UKAS, Lab Kalibrasinya di Australia oleh NATA. Sedangkan untuk Lab Kalibrasi di Amerika, Asia dan Jepang diakreditasi oleh NIST, NVLAP
Overview Manual Mutu Lab Instron
Dari versi terakhir yang saya sempat download, tebal manual mutu lab ini “hanya” 26 halaman saja. Dimulai dengan judul dokumen mutu dengan berbagai gambar lembaga pemberi akreditasi yang memberi pengakuannya bahwa Lab ini sudah comply dengan “tafsiran” sistem mutu mereka masing-masing.
Pelajaran pertama yang bisa dipetik dari manual mutu Lab ini adalah dalam hal ketebalannya yang dibuat cukup tipis saja, namun sudah terasa canggih. Tidak perlu terlalu banyak hal semua ditampung di sini. Bahkan yang menarik, banyak gambar dan skema yang dicantumkan, bahkan foto-foto aktivitas lab juga disisipkan. Rasanya ini bukan manual mutu konvensional, lebih tepat mungkin lebih condong terasa sebagai brosur saja. Mungkin filosofi “gambar sama dengan ribuan kalimat” diimplementasikan dengan baik oleh manajemen Instron.
Ada 22 bagian dalam manual mutu ini, meliputi :
1 Quality Policy
2 Introduction
3 About Instron®
4 Products and Services
5 Global Operations
6 System Compliance
8 Federal Regulation Statements
9 Product Safety Statement
10 Quality Objectives
11 Business Processes
12 Documented Procedures
16 Structure and Responsibility
17 Site Contact Information
18 General Global Directory List
20 Organizational Structure
21 Management Teams
22 Notes
Ditambah dengan beberapa tabel yang perlu dilampirkan juga.
Untuk quality policy, seperti “biasa”, ada “janji” yang ingin diberikan kepada kastamer pengguna jasanya, pernyataan comply terhadap ISO 17025, melakukan komunikasi tujuan mutu pada semua personel Lab, promosi kepedualian kualitas. Yang agak menarik di sini adalah pernyataan bahwa semua produk, layanan dan kalibrasi ditujukan memuaskan kastamer baik dalam hal waktu layanan, kinerja, realiability, bebas kerusakan, keamanan dan kesesuaian terhadap aplikasi yang menjadi tujuan. Tentu parameter-parameter ini harus dapat dibuktikan oleh Lab dalam operasionalnya sehari-hari. Saya tidak tahu apakah parameter-parameter ini nanti dinilai secara kuantitatif oleh lembaga akreditor.
Satu hal lagi yang menarik adalah pernyataan comply terhadap ISO 9001:2000. Jadi dokumen ini rupanya adalah manual mutu untuk memenuhi kedua standar internasional ini. Ini bisa menjadi pelajaran bahwa benar antara ISO 9000 dan ISO 17025 memiliki persamaan, karena memang sebagian isi ISO 17025 mengambil dari ISO 9000.
Pada halaman berikutnya, diberikan keterangan tentang sruktur hierarki dokumen, dari level 1 (Manual Mutu dan brosur corporate), level 2 (SOP), level 3 (local work instrucktions), dan akhirnya level 4 (form).
Lembar berikutnya adalah tentang visi, misi, kastamer, nilai-nilai yang dianut oleh Instron. Keunikannya ada gambar keadaan salah satu ruang di suatu waktu tertentu. Cukup artistik dan jauh dari kesan membosankan, sebagaimana mungkin biasa terjadi saat membaca suatu dokumen mutu.
Lembar tentang Global Operations, berisikan keterangan (berupa organization chart) divisi-divisi yang dimiliki Instron beserta keterangan lokasi. Ditambahkan beberapa gambar yang memberi informasi produk yang dihasilkan oleh Divisi-divisi tersebut.
Yang tak kalah menarik lagi adalah kesederhanaan Instron menggambarkan tujuan mutu (Quality Objectives), yaitu dengan menggambarkannya dalam bentuk sejenis pie-chart. Cukup indah dan mudah dimengerti oleh pembaca. Demikian juga dengan proses bisnisnya yang digambarkan dalam bentuk flow-chart.
(Klik untuk memperbesar gambar)
(Klik untuk memperbesar gambar)
Untuk bagian “Documented Procedures”, terdapat informasi tentang prosedur-prosedur apa saja yang didokumentasikan di dalam sistem mutu, yang terbagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut :
1. Dokumen dan Kontrol Data
2. Audit Internal
3. Nonconforming Material
4. Aksi koreksi dan preventif
5. Pemeliharaan Rekaman (Record Retention)
6. Customer Feedback
7. Escalated Customer Response
Sebagian besar dari uraiannya relatif tidak ada yang baru, tapi ada beberapa yang menarik di sini (menurut saya) yaitu :
1. Adanya prosedur “Root cause, Corrective and Preventive Actions” yang memberi rincian metode yanng direkomendasikan untuk sistem koreksi dan pencegahan. Juga ada pernyataan bahwa segala kegiatan ini selalu dimonitor oleh departemen mutu di masing-masing daerah dengan menggunakan sistem manajemen mutu Agile.
2. Dalam Record Retention, disebutkan secara gamblang dokumen apa saja yang dipelihara.
3. Dalam bagian Customer Feedback, ada penjelasan mengenai beberapa metode untuk mendapatkan masukan dari kastamer, misalnya melalui survey, laporan dari kegiatan instalasi, eskalasi dari layanan ataupun dari grup dukungan teknik, dll.
4. Sedangkan bagian Escalated Customer Response memberikan hierarki level untuk mekanisme eskalasi, dari level 0 (proses normal), sampai level 4 (General Manager). Ini mungkin hal yang cukup baru karena jarang dijelaskan dalam Manual Mutu.
Manual Mutu ini ternyata dilengkapi dengan Site Contact Information, termasuk seluruh nama yang bertanggung jawab dalam organisasi Instron. Ada jabatan-jabatan sales manager, service manager, safety officer, human resources, quality site officer dan senior site manager.
Juga ada informasi tentang telepon kantor-kantor terkait, nomor registrasi pajak, informasi pembayaran, jumlah SDM yang dirinci sampai ke jumlah SDM khusus Quality Assurance, informasi tentang keselamatan, infromasi statistik tentang kantor atau pabrik (berapa meter persegi misalnya).
Sekali lagi, ada banyak hal dari manual mutu ala Instron ini yang mungkin bisa dipelajari dan dijadikan sumber inspirasi bagi para praktisi Lab Kalibrasi. Manual mutu ini memang lebih cenderung sebagai manual mutu bergaya ISO 9000, namun rasanya bisa digunakan secara universal untuk standar lainnya, terutama untuk ISO 17025. Dengan demikian, manual mutu setidaknya menjadi dokumen yang tidak lagi sakral, sulit dipahami (bahkan oleh karyawan lab sendiri), dan sangat friendly kepada kastamer. Kastamer diharapkan akan makin memberi apresiasi tersendiri untuk effort ini.
Membangun Lab Kalibrasi ala Perguruan Tinggi
0 komentar Selasa, 17 Februari 2009Sebagai salah satu pendukung kegiatan belajar-mengajar dan penelitian di perguruan tinggi, maupun di industri, keberadaan Laboratorium sangatlah penting. Bahkan keberhasilan ataupun performansi suatu institusi juga bergantung kepada kinerja laboratoriumnya selain kesiapan sumber daya manusia dalam mengelolanya.
Pada tahun 2003, kementrian Riset dan Teknologi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan IPTEK pernah mengeluarkan Program Standardisasi Laboratorium (disingkat STANLAB) dengan acuan ISO 17025-2000 di lingkungan perguruan tinggi baik swasta maupun negeri, bahkan juga lab di BUMD, BUMN, LPD, LPND dan swasta. Dengan program ini diharapkan kemampuan Lab akan meningkat, terakreditasi, dan mampu untuk melakukan pengujian produk yang akan dijual di dalam maupun di luar negeri.
Sampai saat ini memang jarang terdengar Lab khusus kalibrasi di perguruan tinggi. Biasanya fungsi kalibrasi ini digabungkan dengan beberapa fungsi lainnya untuk suatu Lab, misalnya fungsi penggukuran komponen dasar listrik atau pendukung pelajaran instrumentasi.
Contoh yang mungkin paling tepat untuk menggambarkan Lab Kalibrasi ala perguruan tinggi ini adalah Lab Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) Universitas Gadjah Mada. Lab ini didirikan tahun 2004, ditugaskan untuk melaksanakan dan mengembangkan kerjasama, serta memfasilitasi penelitian, pelatihan, pengujian, kalibrasi dan penyediaan hewan uji yang telah dilaksanakan berturut-turut oleh Laboratorium Analisis Kimia dan Fisika Pusat (tercakup di dalamnya Laboratorium Referensi), Laboratorium Ilmu Hayati, Pusat Penelitian Obat Tradisional dan Unit Pengembangan Hewan Percobaan.
LPPT tidak hanya digunakan untuk keperluan internal saja, tapi juga diinvestasikan untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengujian dari mitra industri. Hal ini tidak lepas dari perkembangan jumlah permintaan jasa tersebut dari tahun ke tahun.
Lab ini pada 2008 lalu akhirnya berhasil meraih sertifikat ISO 17025:2005 dari KAN, sebagai lab penguji dengan kode LP-359-IDN. Lab ini tidak dimaksudkan untuk membawahi lab di fakultas-fakultas yang ada, diarahkan menjadi lab komplemen, salah satunya agar alat-alat tiap lab fakultas dapat selalu termonitor dan terkalibrasi. Lab fakultas memang tidak perlu melakukan akreditasi, karena nanti cost-nya akan tinggi.
Saat ini LPPT-UGM terus membenahi lab tersebut untuk dapat menjadi lab yang diakui secara nasional dan internasional, misalnya saat ini dengan tengah dipersiapkannya akreditasi klinik ISO 15189.
SNI vs Lab Kalibrasi
SNI berdasarkan PP No 102 tahun 2000 didisain memiliki ruang lingkup semua kegiatan yang berkaitan dengan metrologi, teknik, standar, pengujian dan kualitas. Tujuan SNI adalah untuk meningkatkan perlindungan kepada konsumen, pelaku usaha, tenaga kerja dan masyarakat lainnya, baik dalam hal keselamatan, keamanan, kesehatan maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup, membantu kelancaran perdagangan, serta mewujudkan persaingan usaha yang sehat dalam perdagangan.
Walaupun SNI sebenarnya berlaku di seluruh wilayah Republik Indonesi, dalam kenyataannya implementasi SNI wajib belum berjalan seperti yang diharapkan karena seringnya muncul ketidaksiapan instansi terkait. Padahal tanpa SNI, barang import, misalnya, dapat dengan mudah masuk ke Indonesia dan bahkan bisa merugikan konsumen. Ditambah lagi daya saing produk nasional relatif kecil.
Kantor Menristek menginginkan di setiap provinsi minimal ada satu lembaga sertifikasi agar pelaku program SNI ini tidak perlu jauh-jauh datang ke Jakarta. Dan Lab Uji dan Lab Kalibrasi dapat berfungsi sebagai lembaga sertifikasi produk.
ISO 17025
ISO 17025 adalah standar internasional yang memuat persyaratan umum kompetensi laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi. Versi terakhir adalah versi 2005, dan sudah ada versi resmi bahasa Indonesianya hasil dari terjemahan KAN dari ISO/IEC 17025:2005 General Requirements for The Competence of Testing and Calibration Laboratories.
Dalam klausul-klausulnya dicantumkan persyaratan bahwa Lab Kalibrasi yang ingin mendapat akreditasi KAN agar dinyatakan comply dengan standar internasional ini harus :
1. Memiliki fasilitas sumber daya yang cukup untuk melaksanakan pengujian dan atau
kalibrasi yang benar
2. Dilengkapi peralatan yang lengkap, terawat dan terkalibrasi
3. Mempunyai personel yang sesuai, terlatih dan memenuhi kualifikasi sesuai lingkup
bidang pengujian dan atau kalibrasi
4. Fasilitas laboratorium untuk pengujian dan atau kalibrasi harus sedemikian rupa dapat memberikan hasil pengujian dan atau kalibrasi yang memadai dan dapat memberikan data yang valid dan benar.
5. Memastikan bahwa kondisi lingkungan dipantau dan dikendalikan seperti yang dipersyaratkan oleh spesifikasi dasar atau metode pengujian dan atau kalibrasi
6. Dilengkapi dengan semua peralatan pengukuran yang diperlukan untuk melaksanakan pengujian dan atau kalibrasi dengan benar, termasuk pengambilan sampel, apabila melakukan penyiapan preparasi barang yang diuji dan atau dikalibrasi, pengolahan dan analisis data penguji dan atau kalibrasi.
7. Dioperasikan oleh personel yang kompeten.
8. Menggunakan instruksi termutakhir dalam penggunaan dan perawatan peralatan tertentu
9. Memiliki personel manejerial dan teknis dengan wewenang untuk mengelola sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya dan untuk mengidentifikasi terjadinya penyimpangan dari sistem mutu atau dari prosedur pelaksanaan pengujian dan atau kalibrasi untuk memulai tindakan pencegahan atau meminimalkan penyimpangan
10. Memastikan semua personel memiliki kompetensi mengoperasikan peralatan,
melakukan pengujian dan atau kalibrasi, mengevaluasi hasil, dan menandatangani laporan pengujian dan sertifikat kalibrasi
11. Memiliki manajemen teknis yang sepenuhnya bertanggung jawab atas pelaksanaan teknis dan ketersediaan sumber daya yang diperlukan untuk memastikan mutu kegiatan laboratorium yang dipersyaratkan
12. Menunjuk seorang staf sebagai manajer mutu (atau apapun namanya) yang terlepas dari tugas dan tanggung jawabnya yang lain, yang mempunyai tanggung jawab dan kewenangan tertentu untuk memastikan sistem mutu diterapkan dan diikuti setiap waktu, juga mempunyai akses langsung ke pimpinan tertinggi yang membuat keputusan terhadap kebijakan atau sumber daya laboratorium.
Manfaat Lab Kalibrasi di Perguruan Tinggi
Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh jika suatu kampus memiliki Lab Kalibrasi, antara lain :
1. Lab Kalibrasi ini pada dasarnya sama saja dengan lab-lab lain yang ada di perguruan tinggi, yang digunakan sebagai sarana belajar mengajar, seperti Lab Elektonika, Lab PSD, Lab Robotika, dll. Pelajaran yang terkait langsung dengan lab ini adalah pelajaran tentang alat ukur atau instrumentasi, metrologi dan sistem mutu. Contoh sederhananya, para mahasiswa dapat belajar tentang bagaimana cara kerja suatu oscilloscope atau multimeter, misalnya. Bahkan dalam beberapa hal dapat membuat sendiri instrument, misalnya pernah ada yang membuat oscilloscope dari tabung TV bekas.
2. Pelajaran Interfacing juga dapat dipraktekkan di sini, terutama yang terkait dengan interfacing untuk keperluan pengukuran. Contoh interfacing sederhana misalnya memanfaatkan RS232, GPIB sebagai interfacing alat ukur dengan perangkat komputer, sehingga data hasil ukur suatu alat ukur dapat langsung ditransfer ke komputer untuk diolah sesuai dengan keperluan.
3. Sistem Kalibrasi ini sebenarnya adalah bagian dari implementasi sistem mutu Lab yang distandarkan oleh organisasi ISO, disebut sebagai ISO/IEC 17025. Beberapa klausul dalam ISO 9000 tentang kewajiban melakukan kalibrasi untuk menjamin konsistensi mutu layanan yang diberikan suatu perusahaan, dapat dilihat sebagian prakteknya di dalam lab kalibrasi. Sebab dalam kenyataan di lapangan, sebagian kastamer yang mengkalibrasikan alat ukurnya “hanya” karena ingin memenuhi klausul ini saja, sehingga mereka bisa lolos audit atau syarat akreditasi ISO 9000.
Sebagai catatan, ISO 17025 memiliki landasan filosofi dan cara berpikir yang sama dengan ISO 9000. Dokumen standar yang bisa disebut “undang-undangnya Lab Kalibrasi” ini adalah perbaikan dari ISO Guide 25, yang kemudian di-mix dengan ISO 9000 menjadi ISO 17025. Sehingga dengan demikian, mahasiswa yang belajar ISO 17025 identik dengan mepelajari ISO 9000 juga, ditambah dengan klausul-klausul teknis kalibrasi yang tentunya tidak ada pada ISO 9000.
4. Dengan diimplementasikannya sistem mutu Lab Kalibrasi, maka sebagai konsekuensinya kampus memerlukan sistem manajemen alat ukur yang baik, rapi, terdokumentasi. Dengan demikian maka concern terhadap pemeliharaan alat ukur dan bahkan semua perangkat di semua laboratorium dapat lebih terpelihara. Setiap alat ukur akan teridentifikasi dengan baik, akurasinya dapat diketahui, biasanya cenderung dapat terpelihara kebersihannya, dan budaya “memelihara aset” dapat diwujudkan.
5. Dengan adanya Lab Kalibrasi yang comply terhadap suatu standar sistem mutu internasional, maka ini bisa menjadi tambahan point positif bagi penilaian suatu perguruan tinggi, misalnya jika ada visi menjadi world class university, ataupun jika ingin mendapat sertifikat ISO 9000, atau pengakuan lainnya. Sebagai bagian dari kegiatan Quality Assurance, harusnya Lab Kalibrasi dapat menjadi tulang punggung kegiatan penjaminan mutu sistem belajar-mengajar di kampus.
6. Dalam “batas-batas komersialisasi” tertentu, sebenarnya Lab Kalibrasi bisa dijadikan sumber pemasukan bagi insititusi perguruan tinggi. Kenyataan saat ini semakin banyak standar internasional yang mewajibkan kontrol mutu pada perangkat yang dimiliki suatu perusahaan yang ingin diakui sistem mutunya, terutama jika orientasi produknya adalah untuk ekspor. Bahkan Pemerintah telah lama mewajibkan pengecekan kualitas setiap perangkat yang beredar terutama hasil import agar tidak merugikan konsumen dalam negeri, walaupun belum terlihat konsisten dalam praktek di lapangan. Dan ini adalah peluang bernilai ekonomis bagi sebuah Lab Kalibrasi (dan Lab Uji).
Terkait dengan hal ini, tentu saja ada banyak hal yang harus menjadi pertimbangan bagi suatu perguruan tinggi untuk memutuskan komersialisasi Laboratoriumnya, tidak sekedar merujuk kepada suatu hasil studi kelayakan saja.
Bagaimana Membangun Suatu Lab Kalibrasi ?
Membangun suatu Lab Kalibrasi tidak berarti harus memenuhi semua unsur di ISO 17025, kecuali jika ingin serius diakreditasi oleh lembaga akreditasi semacam Komite Akreditasi Nasional (KAN), NATA (Australia), atau NAMAS (Inggris).
Setup-nya bisa dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan SDM, kondisi manajemen setempat, konsensus para personel terkait, dan visi yang akan dituju. Misalnya dengan lebih dulu melakukan manajemen aset disertai dengan klasifikasi alat ukurnya, mana alat ukur yang akan jadi standar (rujukan akurasi) bagi alat ukur yang lain. Lalu dibuat prosedur kalibrasinya, yang terdokumentasi dengan baik. Sebelumnya juga bisa ditunjuk (biasanya disesuaikan dengan garis kewenangan dalam struktur organisasi) para personel yang akan terlibat penuh dalam sistem mutu yang akan dibangun nantinya.
| Catatan : Dari pengalaman di lapangan, dalam membangun suatu Lab Kalibrasi yang comply terhadap sistem mutu sebenarnya tidak terlalu sulit asalkan faktor budaya “menulis apa-apa yang dikerjakan dan bekerja sesuai prosedur yang tertulis” dapat dipahami dan dijadikan kebiasaan terutama bagi para personel Lab. |
Seiring dengan beberapa kegiatan tersebut, para personel terus mempelajari standar ISO 17025, beberapa dokumen standar lainnya yang terkait, benchmarking ke Lab Kalibrasi yang ada, juga mengikuti beberapa pelatihan pembangunan Lab Kalibrasi yang disediakan beberapa provider pelatihan sistem mutu kalibrasi (misalnya KIM-LIPI) atau mendatangkan konsultan kusus untuk setup sistem mutu ISO 17025 (bisa dicari di Internet dan jumlahnya saat ini sudah cukup banyak).
|
Catatan : Badan Standardisasi Nasional didirikan dengan Keppres nomor 103 tahun, perubahan dari Keppres nomor 13 tahun 1997, merupakan salah satu dari 7 (tujuh) LPND di bawah koordinasi Kantor Menristek yang mempunyai tupoksi inti, yaitu menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Sedangkan KIM-LIPI berperan sebagai NML (National Metrology Laboratory) di Indonesia. |
Tentang perangkat standar (atau biasa disebut sebagai kalibrator), pada tahap awal tidak perlu dulu membeli suatu perangkat khusus untuk ini. Disamping karena memang biasanya relatif mahal, manfaat nyatanya harus dipertimbangkan dengan baik, karena biasanya membutuhkan suatu studi kelayakan yang baik. Dari pengalaman yang ada, utamakan saja dulu kesiapan knowledge para calon personel yang akan menjadi “anggota resmi” sistem mutu Lab Kalibrasi.
Pada tahap awal ini, perangkat (alat ukur) eksisting bisa dipilih sebagai perangkat standar. Misalnya jika memiliki 10 multimeter, maka pilih salah satu diantaranya yang memiliki akurasi terbaik atau dalam kondisi terbaik. Maka alat ukur yang “terpilih” ini dijadikan sebagai kalibrator, dan diidentifikasi menggunakan cara penomoran tertentu. Maka sejak itu semua besaran atau parameter terkait multimeter ini memiliki diwajibkan memiliki ketertelusuran kepada kalibrator multimeter ini.
Pada awal penerapan sebagai kalibrator, pada tahap awal tidak perlu dikalibrasikan ke pihak luar. Ketidakpastian dan akurasi kalibrator ini sementara diasumsikan sama dengan spesifikasi pabrikan. Aturan penurunan ketidakpastian dan metode perhitungan ketidakpastian dapat dilihat pada dokumen ISO tentang petunjuk perhitungan ketidakpastian uncertainty (dapat diunduh di Internet).
Sebagai tahap selanjutnya, maka mulai identifikasi semua klausul yang ada pada ISO 17025, dari mulai organisasi, sistem manajemen, dokumentasi, audit, dan lain-lain. Kemudian buat dulu Manual Mutu sebagai dokumen induk sistem mutu, untuk kemudian diikuti pembuatan prosedur mutu, working procedure dan beberapa form atau quality record lainnya (mirip dengan ISO 9000).
Ini memerlukan waktu agar semua personel dan infrastruktur “terbiasa” dengan kondisi pemenuhan persyaratan dalam sistem mutu yang dibangun. Masukan-masukan dapat diperoleh dengan mendatangkan beberapa ahli dari Lab Kalibrasi lain ataupun dari KAN sendiri untuk melakukan semacam audit kesesuaian sistem mutu. Nanti personel ini akan memberikan apa saja yang perlu dilengkapi lagi agar sistem mutu bisa disebut comply terhadap ISO 17025. Aturan-aturan tambahan dari KAN bisa saja dijadikan tambahan persyaratan yang harus dipenuhi, terutama jika manajemen perguruan tinggi menginginkan Lab Kalibrasi ini mendapat akreditasi resmi.
Bagaimana cara Lab Kalibrasi Mendapatkan Akreditasi ?
Syarat mendapatkan akreditasi ini mungkin bervariasi tergantung kepada Lembaga mana yang akan dijadikan rujukan dalam akreditasi ini. Di Indonesia, hanya dikenal satu saja lembaga semacam ini, karena sudah ditunjuk oleh pemerintah melalui BSN (Badan Standarisasi Nasional), yaitu KAN (Komite Akreditasi Nasional).
Syarat awal tentu saja perlu persiapan menyeluruh pemenuhan semua klausul ISO 17025 oleh Lab Kalibrasi, terutama para personel yang menangani, kesiapan infratsruktur pendukung, scope (ruang lingkup) Lab kalibrasi. Kemudian pada tahap awal proses akreditasi, biasanya KAN akan mengirimkan auditor yang akan mengecek kesiapan Lab, sesuai dengan usulan awal yang dikirimkan, yang biasanya meliputi :
· Status legalitas lab (SK pendirian dan dokumen lain yang terkait)
· Daftar perangkat, kondisi
· Struktur organisasi, jumlah personel, kualifikasi personel
· Kondisi akomodasi (ruangan Lab) dan lingkungan (suhu dan kelembaban)
Tergantung dari jenis dan banyak perbaikan yang harus dilakukan yang dinyatakan sebagai “temuan ketidaksesuaian”, nantinya auditor ini akan memberi waktu bagi Lab untuk membenahi kekurangan dimaksud. Biasanya Lab akan dikenai kewajiban untuk menyiapkan penawaran akurasi terbaiknya yang biasa disebut sebagai BMC (Best Measurement Capability).
Kemudian jika semua siap, KAN akan mengirimkan lagi beberapa orang yang akan melakukan proses akreditasi sesungguhnya. Biasanya akan ada lagi beberapa perbaikan yang harus dibenahi lagi dalam tahap ini. Dan selanjutnya akan muncul keputusan dari KAN tentang permintaan akreditasi ini.
Jika disetujui oleh KAN, maka Lab akan mendapat sertifikat akreditasi. Dan selanjutnya dapat melakukan “bisnis” kalibrasi, sejak itu dibolehkan memasang logo KAN untuk tiap kalibrasi yang dilakukan untuk kastamer yang meminta order kalibrasi.
Sebagai catatan, mengenai biaya akreditasi ini sebaiknya ditanyakan saja langsung ke KAN. Namun dari pengalaman, biasanya biaya terbesar justru pada tahap persiapan dan dokumentasi sistem mutu.
Potensi Pengembangan Lain
Dengan berbekal kemampuan dalam kalibrasi, para personel Lab biasanya dapat lebih mudah mengembangkan diri dalam keahlian lainnya seperti menjadi konsultan pembangunan atau pemeliharaan Lab Kalibrasi ataupun Lab Uji, pengembangan atau perumusan Standar Nasional Indonesia (SNI), penilaian kesesuaian (Conformity Assesment-CA), bahkan pengembangan di bidang standardisasi internasional (misalnya ISO, IEC dan CAC) dengan ikut serta aktif (dengan fasilitator dari KAN atau BSN) dalam pertemuan-pertemuan metrologi dunia.
Lab kalibrasi bisa juga menjadi “outsourcing Lab” bagi Lab kalibrasi atau lab uji lainnya yang lebih besar atau jika tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pengetesan tertentu. Misalnya dalam pengecekan CPE (Handphone, walkytalky, faximile) maupun Non CPE (Radio Base Station, Radio Microwave, Pemancar Radio/TV siaran dll) hasil import yang ternyata tidak semua sesuai dengan peruntukannya di Indonesia dan benar-benar sesuai dengan persyaratan teknisnya.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi dan peraturan pemerintah sebagai pelaksanaannya, dan terakhir dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Kominfo Nomor 29 /PER/M.Kominfo/09/2008 tentang Sertifikasi alat dan perangkat telekomunikasi telah diatur bahwa setiap alat yang dimasukkan, dibuat, dirakit, diperdagangkan dan/atau digunakan wajib memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan, dan sebagai tanda pemenuhan kesesuaian tipe alat dan perangkat telekomunikasi terhadap persyaratan teknis tersebut diwujudkan dalam bentuk sertifikat.
Sebagai catatan, sampai saat ini biasanya Direktorat Standardisasi selaku instansi penerbit sertifikat menggunakan Lembaga Uji seperti Balai Besar Perangkat Telekomunikasi Ditjen Postel atau R&D PT. TELKOM untuk memastikan kesesuain dimaksud. Pengujian ini biasanya mengacu kepada Spesifikasi Teknis Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Technical Specification Regulation), Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Acuan Internasional seperti ISO, ETSI, RR, ITU, IEC.
Tentu saja bukan berarti keberadaan Lab Kalibrasi akan otomatis dapat melakukan semua pengetsan tersebut, karena untuk melakukan pengetesan lengkap tidak hanya dibutuhkan Lab Kalibrasi, tapi juga dukungan Lab lainnya, seperti Lab Radio dan Lab EMC.
Overview tentang Proficiency Testing
0 komentar Selasa, 10 Februari 2009Sebuah lab Kalibrasi melaksanakan beberapa kegiatan untuk menjaga mutu layanannya. Dari mulai tahapan menerima order, proses kalibrasi, sampai ke penyerahan perangkat yang telah selesai dikalibrasi kepada pemiliknya.
Jika kita fokuskan ke bahasan teknis kalibrasinya sendiri, ada beberapa program terkait jaminan mutu ini, misalnya lab berusaha agar metode kalibrasinya sesuai dengan teknik metrologi terbaru alias sudah tervalidasi dengan baik, bagaimana menjaga ketertelusuran (traceability) semua perangkat kalibrasi yang digunakan, mengembangkan kemampuan teknisi kalibrasi, menepati janji penyelesaian layanan kepada kastamer, dan beberapa hal lain.
Sebagian Lab menjalankan kegiatan-kegiatan tersebut semata-mata menjalankan kewajiban yang sudah digariskan oleh aturan dasar lab kalibrasi yaitu ISO/IEC 17025, aturan-aturan tambahan dari Badan Akreditasi, dan mungkin ditambah pula beberapa program sesuai dengan visi misi atau policy manajemen setempat. Tentu sebaiknya Lab juga menjalankan dengan sungguh-sungguh beberapa kegiatan tambahan lain yang dapat meningkatkan mutu semua aspek layanannya, namun ini biasanya terbentur kepada pertimbangan atau trade-off antara keinginan ideal tersebut dengan resource eksisting yang dimiliki.
Kali ini akan kita bahas tentang Proficiency Testing (PT), yang merupakan salah satu kegiatan penting di dalam manajemen kalibrasi. Pada umumnya, PT dilakukan dengan cara mendistribusikan sebuah perangkat kepada beberapa lab yang menjadi partisipan suatu PT. Perangkat ini mempunyai nilai yang akurasi sebenarnya hanya diketahui oleh suatu organiser. Lab-lab tersebut menganalisa perangkat tersebut, lalu melaporkan report kepada organiser ini. Kemudian Organiser tersebut akan membuat suatu report yang menggambarkan tingkkat kedekatan nilai hasil ukur lab tersebut dengan nilai “sebenarnya”. Hasil inilah yang akan dijadikan masukan untuk meningkatkan kinerja Lab.
Sebagai catatan, kegiatan PT sebenarnya tidak hanya diperuntukkan bagi kegiatan kalibrasi saja, tapi juga beberapa analisa dan pengetesan lainnya, seperti analisa mineral, pengetesan forensik, pengetesan lingkungan. Coba tengok website beberapa provider PT ini seperti http://www.scc.ca (Standards Council of Canada), http://www.hsl.gov.uk (Helath and Safety Laboratory), http://www.cms.hhs.gov (Centre for Medicare and Medicaid Service).
Dalam ISO 17025General Requirements for the Competence of Testing and Calibration Laboratories disebutkan bahwa Lab disarankan menjalankan melakukan beberapa kegiatan untuk menjamin mutu hasil kalibrasi, antara lain :
1. Menggunakan reference material yang bersertifikat dan atau melakukan kontrol mutu internal menggunakan secondary reference material. Jadi tidak cukup mengandalkan hasil kalibrasi perangkat standar (kalibrator) dari luar saja, tapi juga harus melakukan pengecekan menggunakan kalibrator lain (denga akurasi yang mungkin berada di bawah kalibrator utama) sebagai pembanding.
2. Berpartisipasi aktif pada ILC atau PT.
3. Melakukan replikasi kalibrasi menggunakan metode yang sama atau berbeda.
4. Melakukan re-testing dan rekalibrasi standard atau kalibrator.
5. Menganalisa korelasi karakteristik antar perangkat.
Ada masalah besar yang sering dilupakan Lab, yaitu bahwa PT ini sebenarnya tidak diniatkan untuk membuat judgment seberapa hebat suatu Lab. Karena jika niat ini yang mendasari suatu skema PT yang dilaksanakan suatu Lab, maka Lab tersebut bisa saja akan memanipulasi nilai ukur, walaupun ini juga agak sulit karena nilai sebenarnya dikantongi oleh organiser. Demikian juga bagi Badan Akreditasi, yang biasanya menjadi fasilitator PT, harus diingatkan agar tidak menjadikan penyelenggaraan PT ini sebagai ajang “ujian nasional” untuk melakukan judgment tersebut, apalagi melakukan peta peringkat Lab.
Kadang muncul masalah saat suatu Lab yakin lulus (dengan En yang diperkirakan baik), tapi ternyata laporan finalnya menyatakan bahwa Lab tidak lulus PT. Hal ini bisa disebabkan artifak memang memiliki nilai benar yang sudah menyimpang dari nilai nominal (dan organizer merahasiakan nilai ini). Atau bisa saja artifak tadi sudah mengalami drift (berbasis waktu). Karenanya Lab peserta ILC atau PT sebaiknya memberikan nilai ukur sebenarnya sesuai dengan hasil ukur yang diperolehnya. Soal ketidaklulusan ini menjadi akan dipersoalkan oleh Badan Akreditasi, ini sebenarnya berada di luar urusan provider PT.
Catatan :
Ada dua nilai yang umumnya dijadikan rujukan kinerja “keberhasilan” suatu Lab dalam mengikuti proficiency testing, yaitu En dan Z-score. Jika En nilainya antara -1 sampai 1, maka Lab peserta disebut memberi “hasil yang memuaskan”. Untuk nilai Z-score sebaiknya berada di antara -2 sampai 2, jika di atas 3 dikatakan “tidak memuaskan”, sedangkan nilai diantara 2 dan 3 dikatakan memiliki “hasil PT dipertanyakan”.
Jadi jika ketidakpastian gabungan antara lab peserta PT dengan ketidakpastian dari Lab rujukan sebesar 1 %, maka perbedaan penunjukan nilai kedua hasil kalibrasi (yaitu Lab peserta dengan Lab rujukan) pada suatu titik ukur yang sama tidak boleh lebih besar dari 1 %.
Atau jika deviasi hasil pengukuran oleh suatu Lab peserta PT adalah sebesar 1%, maka perbedaan penunjukan nilai kedua hasil kalibrasi (yaitu Lab peserta dengan Lab rujukan) pada suatu titik ukur yang sama tidak boleh lebih besar dari 2 %.
Dengan PT ini, maka Lab Kalibrasi bisa memiliki satu lagi cara untuk menunjukkan pada stakeholder lab, terutama pada kastamer bahwa mereka benar-benar melakukan maintenance dan perbaikan kinerja secara berkelanjutan. Biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan ini tidak ada artinya dibandingkan reputasi jelek yang didapatkan jika ternyata kalibrasi yang selama ini dilakukan salah atau memiliki tingkat akurasi yang jelek.
Maka hasil PT inipun bisa ditunjukkan kepada kastamer, sebagai evidence tambahan bahwa Lab memiliki komitmen menjaga konsistensi mutu proses dan hasil kalibrasi, walaupun dalam kenyataannya, dari pengalaman penulis, sangat jarang kastamer yang memiliki keingintahuan sampai demikian jauh.
Provider PT
Dalam skala nasional, hanya Komite Akreditasi Nasional saja yang selama ini menjadi provider PT bagi semua Lab Kalibrasi yang diakreditasinya. Tapi sayangnya kegiatan ini kurang intensif dilakukan kemungkinan karena faktor biaya dan waktu yang diperlukan yang relatif lama, karena perangkat sample-nya harus digilirkan ke seluruh Lab yang menjadi partisipan PT.
Dalam skala internasional, ada beberapa provider PT. Masing-masing memiliki scope dan spesialisasinya sendiri-sendiri, misalnya di Amerika ada NAPT (National Association for Proficiency Testing), di Australia ada PTA (Proficiency Testing Australia).
Sekilas tentang PTA, organisasi ini adalah subsidiary dari NATA (National Association of Testing Authorities). Pada Oktober 2008 PTA diterima sebagai anggota Associate Member of the Asia Pacific Laboratory Accreditation Cooperation (APLAC).
PTA menawarkan layanan PT baik untuk Lab Uji maupun Lab Kalibrasi. Untuk Lab Uji, kinerja suatu Lab merupakan hasil perbandingan nilai konsesus terhadap nilai hasil perhitungan yang diperoleh dari hasil suatu PT. Sedangkan pada Lab Kalibrasi, nilai PT suatu Lab akan dibandingkan dengan nilai referensi (reference value) lengkap dengan perhitungan ketidakpastiannya.
Dengan pertimbangan kelengkapan informasi yang tersedia di website-nya, kali ini penulis akan membahas agak banyak tentang salah satu provider PT terkemuka lainnya yaitu NAPT, yang didirikan 12 tahun lalu, tepatnya pada Desember 1996.
Dari websitenya, NAPT menyatakan dirinya sebagai provider PT/ILC dimana ILC adalah kepanjangan dari Inter Laboratory Comparison, yang memiliki makna hampir sama dengan PT. Diceritakan pada masa berdirinya, kegiatan semacam PT ini masih jarang dilakukan. NIST dan NCSL sudah melakukan kegiatan sejenis yang disebut Round Robin, namun belum dianggap cukup independen secara institusi dan belum benar-benar “open format”.
Maka muncullah NAPT, lembaga non profit dengan tujuan menyediakan fungsi manajemen, administrasi, koordinasi, data processing, dan pelaporan terhadap kegiatan interlaboratory comparison, PT dan round robin. Namun dalam statement resminya, fungsi ini ditambah dengan misi ideal seperti diseminasi pengetahuan metrologi, membantu akreditasi, sampai ke “bank” penyimpanan data-data hasil PT.
NAPT mengantongi akreditasi dari A2LA, memenuhi persyaratan ILAC Guide 13 : Guidelines for the Requirements for the Competence of Providers of Proficiency Testing Schemes” (based on ISO/IEC Guide 43-1:1997, relevant elements of ISO/IEC 17025:1999, and relevant ISO 9000 Series requirements). Scope layanannya luas, meliputi dimensi, elektrik, mekanik, RF Microwave, Thermodynamic, dan Time/Frequency.
Jadi jika suatu Lab Kalibrasi menginginkan suatu layanan PT dari NAPT dalam bidang time & frequency, maka nantinya NAPT akan mengirimkan suatu perangkat yang disebut “artifak”, misalnya frequency meter atau frequency counter. Metodenya juga akan dijelaskan. Hasil PT ini bisa saja dimintakan oleh Lab untuk dikirimkan ke Badan Akreditasi dimana Lab “bernaung” di bawahnya, tentu saja jika ada surat permintaan resmi. Ini dilakukan mungkin dengan tujuan agar image Lab bisa naik di mata Badan Akreditasi.
Jika Lab tersebut menginginkan suatu artifak lainnya yang tidak dimiliki oleh NAPT, maka Lab bisa diminta menjadi sponsor artifak, yaitu dengan meminjamkan perangkatnya ke NAPT untuk kemudian dijadikan sebagai “artifak” PT/ILC. Tentu saja ada beberapa keuntungan menjadi sponsor ini misalnya dalam hal image dan networking.
Lalu darimana NAPT mendapatkan reference value untuk artifak yang digunakanannya? Dari website-nya dikatakan bahwa NAPT mendapatkan nilai ini dengan bantuan dari NIST. Kemudian NAPT akan melakukan berbagai review statistik seperti Two Sigma, Three Sigma, Chauvnet Criterion, Sample Median, Trimmed Mean, Interquartile, Q-Test, dan Thompson Technique. Ini digunakan sebelum, selama dan sesudah suatu artifak didistribusikan, dengan tujuan agar reference value untuk artifak ini selalu valid dan dapat mendeteksi dengan cepat jika muncul anomali.
NAPT menjanjikan kualitas pengukuran yang melebihi standar dari guideline yang dianut. Beberapa guideline yang dijadikan patokan kerjanya antara lain :
1. ILAC-G13: Guidelines for the Requirements for the Competence of Providers of Proficiency Testing Schemes.
2. ISO/IEC Guide 43-1: Proficiency Testing by Interlaboratory Comparisons - Part 1: Development and Operation of Proficiency Testing Schemes.
3. NCSLI RP-15: Guide for Interlaboratory Comparisons.
4. ASTM E1301: Standard Guide for Proficiency Testing by Interlaboratory Comparisons.
5. ISO/IEC Guide 43-1: Proficiency Testing by Interlaboratory Comparisons - Part 2: Selection and Use of Proficiency Testing Schemes by Laboratory Accreditation Bodies.
6. ISO/IEC 17025: General Requirements for the Competence of Testing and Calibration Laboratories.
Perbedaan ILC dan PT
ILC (Inter Laboratory Comparison) adalah kegiatan pengorganisasian dan evaluasi kinerja proses kalibrasi atau pengetesan pada suatu item (misalnya artifak) oleh dua laboratorium (atau lebih) dengan suatu pengkondisian tertentu.
Sedangkan PT (Proficiency Testing) adalah kegiatan memperkirakan kinerja suatu Lab dengan cara membandingkan dan mengevaluasi proses kalibrasi atau pengetesan pada suatu item (misalnya artifak) oleh dua laboratorium (atau lebih) dengan suatu pengkondisian tertentu
Manfaat ILC :
1. Mengembangkan kemampuan analisa ketidakpastian suatu Lab
2. Media untuk melihat kinerja personel sekaligus sebagai media pelatihan antar personal. Promosi seorang teknisi bisa saja dilihat dari parameter kemampuan nyata yang ditunjukkan oleh teknisi dibandingkan dengan teknisi lain bahkan di Lab yang berbeda.
3. Membangun networking dan korelasi antar Lab
4. Menentukan karakteristik suatu material, misalnya dalam hal akurasi
Manfaat PT :
1. Media assesmen terhadap kemampuan Lab (biasa digunakan oleh Badan Akreditasi)
2. Membuktikan kesesuaian terhadap standar mutu
3. Membuktikan kesesuaian statemen ketidakpastian yang dinyatakan pada scope dan akreditasi
4. Menentukan kinerja lab untuk suatu pengukuran
5. Mongawasi kinerja lab secara kontinyu
6. Identifikasi peluang proses improvement
Penjelasan tentang ILC dan PT ini diambil dari NAPT. Jika diteliti keduanya memiliki kemiripan, hanya tujuannya saja yang agak berbeda. Namun dari pengalaman yang ada, memang tidak berbeda jauh, dan manfaat keduanya bisa saling dipertukarkan. Perbedaan dari sudut pandang Badan Akreditasi mungkin tidak terlalu penting. Justru substansi-nya lah yang harusnya menjadi concern bagi Lab Kalibrasi. Misalnya saja dalam hal diseminasi kemampuan teknisi senior dari suatu Lab kepada teknisi-teknisi lain di Lab yang berbeda.
Referensi
1. NAPT Website, http://www.proficiency.org
2. PTA Website, http://www.proficiencytesting.com.au/
3. CMS Website, http://www.cms.hhs.gov
4. Tool4PT Pro, http://www.mermayde.nl/
Sekilas tentanng Measurement Assurance
0 komentar Jumat, 30 Januari 2009Kalau mendengat istilah measurement assurance ini (selanjutnya pada tulisan ini disingkat MA saja), mungkin terbayang di benak suatu kegiatan penelitian yang tujuannya memastikan sesuatu sesuai dengan spesifikasi atau tujuan. Ya, jika itu bayangan anda, anda tidak salah. Sesuai dengan namanya, “assurance” berarti jaminan atau kepastian, sedangkan “measurement” artinya pengukuran.
Di Internet jika kita masukkan istilah ini di google misalnya, maka akan banyak sekali laman yang terkait dengan ini (seperti biasa, kadang membuat bingung mana yang akan diklik). Tapi sesuai dengan tema blog saya tentang ilmukalibrasi, ada baiknya dibatasi dengan menambahkan kata “calibration” di belakangnya atau di depannya, bebas saja, agar bisa mengarahkan MA ini ke bidang yang lebih spesifik yaitu kalibrasi.
Uniknya ada website http://www.mattestusa.co menamakan dirinya Measurement Assurance Technology, sebuah perusahaan yang berlokasi di USA dan Mexico. Website ini menawarkan produk berupa alat ukur dari amplifier, signal generator sampai TV/Video/Cable Test. Perusahaan ini menawarkan layanan pembelian, leasing, financing, kalibrasi dan repair alat ukur dan tes. Sepertinya semua service terkait alat ukur diambil, walaupun saya agak yakin tidak semuanya dilakukan sendiri oleh Measurement Assurance Technology.
Dalam sejarah MA, dalam website http://www.springerlink.com, ada tulisan dari Brian Belanger, executive director NIST, yang mengklaim bahwa The United States National Bureau of Standards (NBS), yang kemudian menjelma menjadi the National Institute of Standards and Technology (NIST), adalah lembaga yang memperkenalkan konsep kontrol kualitas pengukuran (measurement quality control) yang dinamakan “measurement assurance”. Konsep ini kemudian menjadi terkenal dan banyak diimplementasikan dalam dunia metrologi. Dengan konsep ini maka kualitas kalibrasi dapat dinilai. Termasuk di dalamnya adalah pembahasan tentang traceabillity (ketertelusuran), yang menjadi salah satu faktor penentu akurasi kalibrasi atau pengukuran secara umum.
Berbagai macam konsep pengembangan dan implementasi diberikan oleh para pakar metrologi dan statistik (karena memerlukan tool statistik di dalamnya) termasuk di dalamnya aplikasi kusus untuk suatu proses pengukuran atau alat ukur tertentu. Sebagian diantara berbagai tulisan terkait dengan MA ini dapat dilihat pada referensi di bawah ini yang saya ambil dari http://www.itl.nist.gov/div898/pubs/subject/calibration.html. Terbukti bahwa MA sudah menjadi perhatian para praktisi metrologi sejak puluhan tahun silam. Dan dengan bantuan perkembangan ilmu statistik terapan dan perkembangan ICT (baca : software-software statistik), maka MA semakin canggih saja.
Maka kita mengenal MA untuk optical attenuator, MA untuk spectrum analyzer, dll. Sebagai gambaran sedikit, untuk MA optical attenuator, perlu menganalisa beberapa alat ukur optik pendukungnya yaitu optical power meter (atau optical wattmeter), optical reflectometer, termasuk karakteristik fiber yang digunakan.
Berbicara tentang statistik, ilmu apa saja dalam statistik yang digunakan untuk MA ini ? Untuk memudahkan menjawabnya, kita bisa lihat di http://www.engineeredsoftware.com, yang menyediakan kursus tentang MA ini, sekaligus menawarkan software pelatihannya. Di situ ternyata diberikan juga ilmu apa saja yang diajarkannya, dan nampaknya secara kasar bisa saya klaim bahwa siapa yang menguasai statistik maka dialah yang mampu menguasai MA dengan lebih sempurna.
Mari kita simak apa saja yang diajarkan engineeredsoftware ini.
Course OutlineI. Fundamentals II. Bias III. Repeatability & Reproducibility IV. Linearity V. Final Exam (50 question review with solutions) VI. Examples |
Quality Council of Indiana, Inc. yang memiliki laman di http://www.qualitycouncil.com menawarkan software sistem analisa pengukuran. Disebut-sebut bahwa teknik analisa ini digunakan oleh Automotive Industry Action Group (AIAG). Software-nya menyediakan semacam report witer yang kompatibel dengan software office semacam Word, wordperfect, dan lain-lain, bahkan HTML.
Website juga menyediakan software demo-nya, yang menyediakan beberapa prosedur analisa pengukuran, diantaranya tentang bias, linearity, repeatability, reproducibility.
1. Bias
Untuk menentukan bias, maka dibutuhkan reference value yang sudah harus terlebih dulu diketahui nilainya. Pembacaan kalibrasi dilakukan minimal 10 kali, sebaiknya 30 kali, karena semakin banyak jumlah pengukuran maka akan semakin bagus akurasinya nanti.
Setiap hasil ukur selalu memiliki bias. Bias-bias ini bisa siginifikan bisa pula tidak, dan untuk menentukan signifikansinya bisa digunakan distribusi-t. Makin banyak pengukuran dilakukan maka akan semakin besar discriminatory power dari t-test tersebut.
Prosedur untuk melakukan perhitungan bias ini menggunakan software adalah dengan memasukkan angka reference value dulu. Lalu masukkan juga angka process variation dan process tolerance-nya (jika diinginkan). Klik button Compute bias, maka software akan menganalisa data-data tersebut. Contoh hasil analisanya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
2. Linearity
Linearity adalah ukuran perubahan bias pada range operasi sebuah alat ukur. Cara mencari nilai linearity ini adalah dengan membandingkan pengukuran beberapa kali pada suatu nilai reference value, lalu melakukan plotting nilai bias-nya terhadap nilai reference. Untuk software ini defaultnya adalah mengukur 10 bagian (dalam suatu range operasi) dengan masing-masing bagian diukur biasnya sebanyak 5 kali. Untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah.
Bias didapatkan dari average selisih reference value dengan pembacaan.
Linearity dalam percent adalah slope “b” dari persamaan y=ax+b dimana x adalah reference value, sedangkan y adalah nilai bias. Sedangkan nilai linearity didapatkan dari nilai slope dikali dengan process variation.
3. Reproducibility
Variability didapatkan dengan cara mengulang pengukuran menggunakan alat ukur dan calibrator yang sama. Sedangkan reproducibility adalah variability dengan menggunakan teknisi kalibrasi yang berbeda.
Software MA dari Quality Council ini dapat melakukan analisa repeatability and reproducibility, menggunakan metode Range & Average dan metode ANOVA. Ada beberapa jenis chart yang bisa dipilih misalnya range control chart, run chart, whiskers chart, X-Y plot of averages, comparison X-Y plot, dan scatter plot.
Mengapa perlu ada analisa terhadap variability dan reproducibility ? Anda bayangkan jika hasil kalibrasi yang dilakukan teknisi A dan teknisi B dengan perangkat kalibrasi yang sama dan kondisi yang serupa, ternyata menghasilkan perbedaan hasil ukur secara signifikan. Tentu akan timbul pertanyaan, ada apa dengan alat ukur tersebut? Atau alat ukur tidak ada masalah, tapi apakah masalah ada di teknisi? Bagaimana dengan prosedur yang digunakan kedua teknisi tersebut, jangan-jangan hanya serupa tapi sebenarnya tidak sama ?
Jawaban-jawaban pertanyaan inilah yang menentukan tingkatan MA, proses kalibrasinya benar-benar bisa dijamin atau tidak.
Contoh Artikel tentang MA
Beberapa contoh tulisan tentanng MA antara lain :
1. Cameron, J. M. (1977). "Measurement Assurance," NBSIR 77-1240.
2. Cameron, J.M., Croarkin, M. C., Raybold, R.C. (1977). "Designs for the Calibration of Standards of Mass," NBS Tech. Note 952.
3. Cameron, J. M. and Hailes, G. E., (1974). "Designs for the Calibration of Small Groups of Standards in the Presence of Drift," NBS Technical Note 844.
4. Cameron, J. M. and Eicke, W. G. (1967). "Designs for Surveillance of the Volt Maintained by a Small Group of Saturated Standard Cells," NBS Technical Note 430.
5. Carino, N.J.; Guthrie, W. F.; Lagergren, E.S., Effects of Testing Variables on the Measured Compressive Strength [90 MPa] Concrete, NISTIR 5405 [FHWA].
6. Carino, N.J.; Guthrie, W. F.; Lagergren, E.S.; Mullings, G.M., Effects of Testing Variables on the Strength of High-Strength [90 MPa] Concrete Cylinders, Special Publication of the American Concrete Institute Proceedings of International Conference on High Performance Concrete, Singapore, November 1994.
7. Clague, F. R. and Splett, J. D. "Developing a NIST Coaxial Microwave Power Standard at 1mW," Proceedings of the National Conference of Standards Laboratories 1994 Workshop and Symposium, Chicago, Illinois, July 31 - August 4, 1994.
8. Croarkin, Carroll. (1985). "Measurement Assurance Programs Part II: Development and Implementation," NBS Spec. Publ. 676-II (revised).
9. Croarkin, C. and Varner, R. N. (1983). "Measurement Assurance for Dimensional Measurements on Integrated-Circuit Photomasks," NBS Tech. Note 1164.
10. Croarkin, C., Beers, J., and Tucker, C. (1979). "Measurement Assurance for Gage Blocks," NBS Mono. 163.
11. Datla, R. U., Croarkin, M. C. and Parr, A. C. (1994). "Cryogenic Blackbody Calibrations at the NIST Low Background Infrared Calibration Facility." NIST J. Res., Vol. 99(1), p.77.
12. Eckerle, K. L., Hsia, J. J., and Liggett, W. S. (1984). "Geometrical Alignment Errors in the Measurement of Prismatic Retroreflectors," COLOR Research and Application, 9, 23-28.
13. Ehrstein, J. R. and Lechner, J. A. (1975). "Two probe method" Section in "Semiconductor Measurement Technology," NBS SP 400-8, 14-17.
14. Goldman, A., McGuire, D. and Croarkin, C. (1987). "Assigning Values to In-house Standard UFsdo3(6) Cylinders." 3rd Int'l Conf. on Facility Operations - Saftguards Interface of the ANS.
15. Hwang, J. T. G. and Liu, H. K. "Application of empirical linear prediction to quality assurance in industrial manufacturing," Physical & Engineering Sci.: Proceedings of The 1994 Joint Stat. Meetings, to appear.
16. Iyer, H. K. and Vecchia, D. F. (1986). "Model and design considerations for calibration in the presence of drift," Technical Report 86-5, Colorado State University.
17. Kacker, Raghu N. (July 31-August 4, 1994). "Industrial Calibration System," Proceedings of the workshop and symposium of the National Conference of Standards Laboratories, Chicago, pp. 523-541.
18. Kacker, Raghu N. and Koike, Masayoshi. (July 11-13, 1994). "Industrial Calibration System," Proceedings of International Conference: Statistics in Industry, Science and Technology, Tokyo, pp. 364-381.
19. Kanipe, L. G., Seale, S. K., and Liggett, W. S. (1979), "Evaluation of Standard Library Spectra for Use in the Least-Squares Resolution of Environmental Gamma-Ray Spectra," in Computers in Activation Analysis and Gamma-Ray Spectroscopy, eds. B.S. Carpenter, M.D. D'Agostino and H.P. Yule, CONF-780421, U.S. Department of Energy, pp. 448-455.
20. Kanipe, L. G., Seale, S. K., and Liggett, W. S. (1978), "Least-Squares Resolution of Gamma-Ray Spectra in Environmental Samples," TVA/EPA-78/02, Tennessee Valley Authority, Chattanooga, TN.
21. Larsen, N. T., Vecchia, D. F.and Sugar, G. R. (1985). "VOR calibration services," Technical Note 1069, National Bureau of Standards, 191 p.
22. Lechner, James A., Reeve, Charles P. and Spiegelman, Clifford H. (1982). "An Implementation of the Scheffe Approach to Calibration Using Spline Functions, Illustrated by a Pressure-Volume Calibration," Technometrics Vol. 24, No. 3.
23. Lechner, J. A., Reeve, C. P. and Spiegelman, C. H. (1982). "An implementation of the Scheffe' approach to calibration using spline functions, illustrated by a pressure-volume calibration." NBSIR 80-2151 and Technometrics 24, 229-234.
24. Lechner, James A., Reeve, Charles P. and Spiegelman, Clifford H. (1980). "A New Method of Assigning Uncertainty in Volume Calibration,"NBSIR 80-2151.
25. Liggett, W. S. (1994), "Replicate Measurements for Data Quality and Environmental Modeling," in Handbook of Statistics Volume 12: Environmental Statistics, (Monograph), eds. G. P. Patil and C. R. Rao, Amsterdam: North Holland Publishers, pp. 71-102.
26. Liggett, W. S. and Ehara, K. (1993), "Experimental Optimization of Peak Shape with Application to Aerosol Generation," in 1993 Proceedings of the Section on Physical and Engineering Sciences, Alexandria, VA: American Statistical Association, pp. 174-182.
27. Liggett, W. S. (1993), "Scientific Protocols in Statistical Standards for Environmental Studies," in 1993 Proceedings of the Section on Quality and Productivity, Alexandria, VA: American Statistical Association, pp. 38-43.
28. Liggett, W. S. (1985), "Statistical Aspects of Designs for Studying Sources of Contamination," in Quality Assurance for Environmental Measurements, ASTM STP 867, eds. J. Taylor and T. Stanley, Philadelphia, PA: American Society for Testing and Materials, pp. 22-40.
29. Liggett, W. S. (1984), "Detecting Elevated Contamination by Comparisons with Background," Environmental Sampling for Hazardous Waste, (Monograph), eds. G.E. Schweitzer and J.A. Santolucito, Washington, DC: American Chemical Society, pp. 119- 128.
30. Liggett, W. S. (1983), "Calibration for Measurements with Background Correction Applied to Uranium-235 Enrichment," Nuclear Instruments and Methods, 216, 455-470.
31. Mulrow, J. M., Vecchia, D. F., Buonaccorsi, J. P. and Iyer, H. K. (1988). "Problems with interval estimation when data are adjusted via calibration," Journal of Quality Technology, 20, 233-247.
32. Parobeck, P., Tomb, T., Ku, H. H. and Cameron, J. M. (1981). "Measurement assurance program for weighings of respirable coal mine dust samples," J. Quality Tech, 13(3), pp. 157-165.
33. Reeve, Charles P. (1988). "A New Statistical Model for the Calibration of Force Sensors," NBS Technical Note 1246.
34. Reeve, Charles P. (1980). "The Calibration of Angle Blocks by Intercomparison," NBSIR 80-1967.
35. Reeve, Charles P. (1979). "The Calibration of a Roundness Standard," NBSIR 79-1758.
36. Reeve, Charles P. and Veale, Ralph C. (1976), "The Calibration of a Pentaprism," NBSIR 76-993.
37. Reeve, Charles P. (1975). "The Calibration of Indexing Tables by Subdivision," NBSIR 75-750.
38. Reeve, Charles P. (1975). "The Calibration of an Optical Flat by Interferometric Comparison to a Master Optical Flat," NBSIR 75-975.
39. Reeve, Charles P. (1974). "A Method of Calibrating Two-Dimensional Reference Plates," NBSIR 74-532, (issued January 1980).
40. Reeve, Charles P. and Veale, Ralph C. (1973). "A Survey of the Stability of Optical Flats," NBSIR 73-232.
41. Shen, M. A.; Davis, G. T.; Mopsik, F.; Guthrie, W. F.; Chen, W. T.; Livingston, E.; Lee, L.; Robbins, W.; Lee, C.; Henderson, P.; Pecht, M.L.; Lee, C.Y.; Dion, J.; et. al., An Industry/Government/University Partnership: Measuring Sub-Micrometer Strain in Polymer Films. Proceedings of the IPC Printed Circuits Expo, April 1994; Boston, MA.
42. Souders, T. Michael and Lechner, J. A. (1980). "A technique for measuring the equivalent RMS input noise of A/D converters." IEEE Trans. on Instrumentation and Measurement, vol. IM-29, December 1980; also presented at ASA meeting, 251-256.
43. Stenbakken, G. N., Souders, T. M., Lechner, J. A. and Boggs, P. T. (1985). "Efficient calibration strategies for linear, time invariant systems." Proceedings 1985 AUTOTESTCON Conference, IEEE Press, New York.
44. Turgel, T., Mulrow, J. M. and Vecchia, D. F. (1988). "NBS phase angle calibration services," Special Publication 250-26, National Bureau of Standards, 107 p.
45. Turgel, T. and Vecchia, D. F. (1987). "Precision calibration of phasemeters," IEEE Transactions on Instrumentation and Measurement, 36, 918-922.
46. Varner, R. N. (1980). "Mass Calibration Computer Software," NBS Technical Note 1127.
47. Veale, Ralph C. and Reeve, Charles P. (1974). "A Survey of the Temporal Stability of Angle Blocks," NBSIR 74-601.
48. Vecchia, D. F., Iyer, H. K. and Chapman, P. L. (1989). "Calibration with randomly changing standard curves," Technometrics, 31, 83-90.
49. Vecchia, D. F. and Iyer, H. K. (1989). "Exact distribution-free tests for equality of several linear models," Communications in Statistics-Theory and Methods, 18, 2467-2488.
50. Vecchia, D. F. and Iyer, H. K. (1986). "Calibration in some random coefficient regression models," Technical Report 86-6, Colorado State University.
51. Vecchia, D. F. (1980). "Fourier transformation of the nonlinear VOR model to approximate linear form," Technical Note 1021, National Bureau of Standards, 24 p.
52. Wang, C. M., Vecchia, D. F., Young, M. and Brilliant, N. A. (1994). "Software for performing gray-scale measurements of optical fiber end faces," Technical Note 1370, National Institute of Standards and Technology, to appear, 18 p.
53. Whetstone, J. R., Pontius, P. E., Baker, S. M., Lechner, J. A. and Spiegelman, C. H. (1979). "Facts and fallacies of process tank calibration." Proceedings of the 20th Annual Meeting of the Institute of Nuclear Materials Management.
54. Yao, Y.C., Vecchia, D. F. and Iyer, H. K (1988). "Linear calibration when the coefficient of variation is constant," Essays in Honor of F. A. Graybill (J. N. Srivastava, Ed.), North-Holland, 297-309.