Pelajaran dari Manual Mutu Lab Instron

2 komentar Rabu, 18 Februari 2009

Melanjutkan tulisan tentang lab kalibrasi yang ada di perguruan tinggi, ada beberapa universitas di luar negeri yang memang concern dengan kalibrasi ini. Mereka membuat lab yang difungsikan memberikan layanan kalibrasi ini.

Beberapa contoh diantaranya yang berhasil saya dapatkan informasinya adalah :

1. Instrument Calibration Laboratory, yang merupakan lab kalibrasi di bawah Rajamangala University of Technology Thanyaburi. Lab dinyatakan comply pada ISO 17025 oleh Thai Laboratory Accreditation Scheme (TLAS) dan Thai Industrial Standard Institute.

Lab ini bergerak di bidang eletrikal denga scope kalibrasi AC/DC Voltage (sampai 1000 Volt), AC/DC Currrent (sampai 11 Ampere), Resistance (sampai 330 Mega Ohm), Pressure (sampai 54 kPa), Torque (sampai 2.2 N.m). Ini adalah data yang diterbitkan pada April 2008 lalu.

2. Acoustic Calibration Laboratory, yang berada di University of Salford. Sesuai namanya Lab ini menyediakan jasa kalibrasi akustik dan perangkat terkait akustik. Lab diakreditasi oleh UKAS, dengan scope type 1 sound level meters to BS 7580, sound calibrators and pistonphones, pressure sensitivity of microphones.

Lab ini mengklaim dirinya sebagai lab yang biasa mengkalibrasi perangkat sound level meters dan calibrator yanng diproduksi oleh Bruel & Kjaer, Norsonics, Rion, CEL, Svantek, Cirrus.

3. University of Wisconsin Radiation Calibration Laboratory (UWRCL), yang menyediakan layanan kalibrasi untuk perangkat pengukur radiasi di bidang medik atau komunitas kesehatan fisik. Lab ini aspek mediknya diakreditasi oleh American Association of Physicists in Medicine (AAPM), sedangkan aspek manajemen ISO 17025-nya diakreditasi oleh American Association for Laboratory Accreditation (A2LA).

Walaupun tidak semua perguruan tinggi memiliki Lab- Kalibrasinya sendiri, beberapa cerita pendirian Lab berskala dunia memang berasal dari orang-orang di perguruan tinggi, atau setidaknya memiliki kerjasama dengan pihak perguruan tinggi. Ini mungkin tidak aneh, karena memang di negara-negara yang pendidikannya sudah maju, linking antara industri dengan pendidikan sudah bukan masalah lagi. Bab tentang “linkage” ini sudah selesai bagi mereka.

Cerita kalibrasi memang tidak ada habis-habisnya, bahkan dalam perguruan tinggi yang banyak berkecimpung di dunia ICT. Dalam dunia ICT ini, sudah mulai banyak cerita kebutuhan kalibrasi. Software pengukur kecepatan suatu koneksi harusnya dikalibrasi untuk mengetahui keakuratannya. Software penghitung waktu koneksi seseorangpun harusnya dikalibrasi, untuk menjamin seorang kastamer tidak “ditipu” oleh suatu provider layanan koneksi internet.

University of Wisconsin-Madison, menerbitkan suatu buku tentang bagaimana melakukan kalibrrasi suatu tool penaksir bandwidth yang tersedia dalam suatu jaringan, dimana umumnya menggunakan pendekatan kombinasi anttara simulasi “ns-type” (network simulator) dengan eksperimen menggunakan jaringan sebenarnya.

Kali ini kita akan “berwisata” ke Lab Kalibrasi Instron, yang berkantor pusat di Norwood, Massachusetts, USA Anda bisa surfing ke http://www.instron.us untuk melihat-lihat kehebatan dan layanan supr komprehensif dari Lab Kalibrasi yang satu ini.

Namun pada tulisan kali ini yang menjadi sorotan utama adalah manual mutu dari Lab ini, yang memang dishare kepada siapa saja. Ini menarik karena jarang sebuah Lab membolehkan siapapun melihat manual mutunya. Anda dapat mendownload manual mutu lab ini dari websitenya.

Overview Lab Instron

Lab ini didirikan tahun 1946, dengan sekitar 1200 karyawan yang tersebar di seluruh dunia, bergerak terutama di bidang mekanikal, dimana lab ini bukan hanya memberi layanan kalibrasi saja, tapi sebenarnya lebih canggih dari itu, Instron mampu memiliki kemampuan sebagai manufaktur perangkat pengetesan material, sistem, asesori, menyediakan solusi komperehensif untuk keperluan riset dan persyaratan kualitas tertentu. Mereka menawarkan layanan kalibrasi, pelatihan, dukungan teknis, dan asistensi manajemen laboratorium.

Perusahaan yang kantor pusatnya beralamat di 825 University Avenue, Norwood, MA 020162-2643 ini memiliki volume penjualan melebihi $250 Milyar. Suatu skala penjualan yang cukup besar bagi perusahaan berskala internasional. Maklum saja, cabangnya sudah ada Amerika, Eropa dan Asia. Jumlah mesinnya yang telah terinstall mencapai 70 ribu.

Mesin-mesin yang dihasilkan oleh Instron dapat melakukan pengetesan sifat mekanikal material dan komponen tertentu menggunakan pengetesan tension, compression, flexure, fatigue, impact, torsion dan hardness.

Sebagai perusahaan berskala internasional, sistem mutu Instron harus memenuhi persyaratan dari multi standar yang diberlakukan di negara-negara pemasarannya. Maka tidak aneh jika sistem mutu mereka mendapat akreditasi dari NVLAP, NIST, NATA, UKAS, SGS, ANAB, TUV dan IT.

Sistem mutu, standar pengukuran dan prosedurnya sendiri diklaim telah memenuhi bahkan melebihi persyaratan dari ISO/ANSI/ASQ 9001:2000. Khusus untuk aktivitas desain software, Instron diakreditasi oleh SGS Yarsley ICS Ltd. Dalam untuk persyaratan ISO 9000-3:1997 dan persyaratan skema DTI's TickIT . Assesmen jenis ini penting dilakukan mengingat Instron memproduksi juga beberapa software yang dipakai untuk kontrol test secara otomatis, koleksi data, analisa hasil, dan pelaporan. Contoh produknya adalah software BlueHill yang digunakan sebagai software pendukung sistem pengetesan universal material.

Maka Lab Kalibrasi Instron di Eropa diakreditasi oleh UKAS, Lab Kalibrasinya di Australia oleh NATA. Sedangkan untuk Lab Kalibrasi di Amerika, Asia dan Jepang diakreditasi oleh NIST, NVLAP

 

Overview Manual Mutu Lab Instron

Dari versi terakhir yang saya sempat download, tebal manual mutu lab ini “hanya” 26 halaman saja. Dimulai dengan judul dokumen mutu dengan berbagai gambar lembaga pemberi akreditasi yang memberi pengakuannya bahwa Lab ini sudah comply dengan “tafsiran” sistem mutu mereka masing-masing.

Pelajaran pertama yang bisa dipetik dari manual mutu Lab ini adalah dalam hal ketebalannya yang dibuat cukup tipis saja, namun sudah terasa canggih. Tidak perlu terlalu banyak hal semua ditampung di sini. Bahkan yang menarik, banyak gambar dan skema yang dicantumkan, bahkan foto-foto aktivitas lab juga disisipkan. Rasanya ini bukan manual mutu konvensional, lebih tepat mungkin lebih condong terasa sebagai brosur saja. Mungkin filosofi “gambar sama dengan ribuan kalimat” diimplementasikan dengan baik oleh manajemen Instron.

Ada 22 bagian dalam manual mutu ini, meliputi :

1 Quality Policy

2 Introduction

3 About Instron®

4 Products and Services

5 Global Operations

6 System Compliance

8 Federal Regulation Statements

9 Product Safety Statement

10 Quality Objectives

11 Business Processes

12 Documented Procedures

16 Structure and Responsibility

17 Site Contact Information

18 General Global Directory List

20 Organizational Structure

21 Management Teams

22 Notes

Ditambah dengan beberapa tabel yang perlu dilampirkan juga.

Untuk quality policy, seperti “biasa”, ada “janji” yang ingin diberikan kepada kastamer pengguna jasanya, pernyataan comply terhadap ISO 17025, melakukan komunikasi tujuan mutu pada semua personel Lab, promosi kepedualian kualitas. Yang agak menarik di sini adalah pernyataan bahwa semua produk, layanan dan kalibrasi ditujukan memuaskan kastamer baik dalam hal waktu layanan, kinerja, realiability, bebas kerusakan, keamanan dan kesesuaian terhadap aplikasi yang menjadi tujuan. Tentu parameter-parameter ini harus dapat dibuktikan oleh Lab dalam operasionalnya sehari-hari. Saya tidak tahu apakah parameter-parameter ini nanti dinilai secara kuantitatif oleh lembaga akreditor.

Satu hal lagi yang menarik adalah pernyataan comply terhadap ISO 9001:2000. Jadi dokumen ini rupanya adalah manual mutu untuk memenuhi kedua standar internasional ini. Ini bisa menjadi pelajaran bahwa benar antara ISO 9000 dan ISO 17025 memiliki persamaan, karena memang sebagian isi ISO 17025 mengambil dari ISO 9000.

Pada halaman berikutnya, diberikan keterangan tentang sruktur hierarki dokumen, dari level 1 (Manual Mutu dan brosur corporate), level 2 (SOP), level 3 (local work instrucktions), dan akhirnya level 4 (form).

Lembar berikutnya adalah tentang visi, misi, kastamer, nilai-nilai yang dianut oleh Instron. Keunikannya ada gambar keadaan salah satu ruang di suatu waktu tertentu. Cukup artistik dan jauh dari kesan membosankan, sebagaimana mungkin biasa terjadi saat membaca suatu dokumen mutu.

Lembar tentang Global Operations, berisikan keterangan (berupa organization chart) divisi-divisi yang dimiliki Instron beserta keterangan lokasi. Ditambahkan beberapa gambar yang memberi informasi produk yang dihasilkan oleh Divisi-divisi tersebut.

image

Yang tak kalah menarik lagi adalah kesederhanaan Instron menggambarkan tujuan mutu (Quality Objectives), yaitu dengan menggambarkannya dalam bentuk sejenis pie-chart. Cukup indah dan mudah dimengerti oleh pembaca. Demikian juga dengan proses bisnisnya yang digambarkan dalam bentuk flow-chart.

image

(Klik untuk memperbesar gambar)

 

image

(Klik untuk memperbesar gambar)

Untuk bagian “Documented Procedures”, terdapat informasi tentang prosedur-prosedur apa saja yang didokumentasikan di dalam sistem mutu, yang terbagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut :

1. Dokumen dan Kontrol Data

2. Audit Internal

3. Nonconforming Material

4. Aksi koreksi dan preventif

5. Pemeliharaan Rekaman (Record Retention)

6. Customer Feedback

7. Escalated Customer Response

Sebagian besar dari uraiannya relatif tidak ada yang baru, tapi ada beberapa yang menarik di sini (menurut saya) yaitu :

1. Adanya prosedur “Root cause, Corrective and Preventive Actions” yang memberi rincian metode yanng direkomendasikan untuk sistem koreksi dan pencegahan. Juga ada pernyataan bahwa segala kegiatan ini selalu dimonitor oleh departemen mutu di masing-masing daerah dengan menggunakan sistem manajemen mutu Agile.

2. Dalam Record Retention, disebutkan secara gamblang dokumen apa saja yang dipelihara.

3. Dalam bagian Customer Feedback, ada penjelasan mengenai beberapa metode untuk mendapatkan masukan dari kastamer, misalnya melalui survey, laporan dari kegiatan instalasi, eskalasi dari layanan ataupun dari grup dukungan teknik, dll.

4. Sedangkan bagian Escalated Customer Response memberikan hierarki level untuk mekanisme eskalasi, dari level 0 (proses normal), sampai level 4 (General Manager). Ini mungkin hal yang cukup baru karena jarang dijelaskan dalam Manual Mutu.

Manual Mutu ini ternyata dilengkapi dengan Site Contact Information, termasuk seluruh nama yang bertanggung jawab dalam organisasi Instron. Ada jabatan-jabatan sales manager, service manager, safety officer, human resources, quality site officer dan senior site manager.

Juga ada informasi tentang telepon kantor-kantor terkait, nomor registrasi pajak, informasi pembayaran, jumlah SDM yang dirinci sampai ke jumlah SDM khusus Quality Assurance, informasi tentang keselamatan, infromasi statistik tentang kantor atau pabrik (berapa meter persegi misalnya).

Sekali lagi, ada banyak hal dari manual mutu ala Instron ini yang mungkin bisa dipelajari dan dijadikan sumber inspirasi bagi para praktisi Lab Kalibrasi. Manual mutu ini memang lebih cenderung sebagai manual mutu bergaya ISO 9000, namun rasanya bisa digunakan secara universal untuk standar lainnya, terutama untuk ISO 17025. Dengan demikian, manual mutu setidaknya menjadi dokumen yang tidak lagi sakral, sulit dipahami (bahkan oleh karyawan lab sendiri), dan sangat friendly kepada kastamer. Kastamer diharapkan akan makin memberi apresiasi tersendiri untuk effort ini.

read more “Pelajaran dari Manual Mutu Lab Instron”

Membangun Lab Kalibrasi ala Perguruan Tinggi

0 komentar Selasa, 17 Februari 2009

Sebagai salah satu pendukung kegiatan belajar-mengajar dan penelitian di perguruan tinggi, maupun di industri, keberadaan Laboratorium sangatlah penting. Bahkan keberhasilan ataupun performansi suatu institusi juga bergantung kepada kinerja laboratoriumnya selain kesiapan sumber daya manusia dalam mengelolanya.

Pada tahun 2003, kementrian Riset dan Teknologi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan IPTEK pernah mengeluarkan Program Standardisasi Laboratorium (disingkat STANLAB) dengan acuan ISO 17025-2000 di lingkungan perguruan tinggi baik swasta maupun negeri, bahkan juga lab di BUMD, BUMN, LPD, LPND dan swasta. Dengan program ini diharapkan kemampuan Lab akan meningkat, terakreditasi, dan mampu untuk melakukan pengujian produk yang akan dijual di dalam maupun di luar negeri.

Sampai saat ini memang jarang terdengar Lab khusus kalibrasi di perguruan tinggi. Biasanya fungsi kalibrasi ini digabungkan dengan beberapa fungsi lainnya untuk suatu Lab, misalnya fungsi penggukuran komponen dasar listrik atau pendukung pelajaran instrumentasi.

Contoh yang mungkin paling tepat untuk menggambarkan Lab Kalibrasi ala perguruan tinggi ini adalah Lab Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) Universitas Gadjah Mada. Lab ini didirikan tahun 2004, ditugaskan untuk melaksanakan dan mengembangkan kerjasama, serta memfasilitasi penelitian, pelatihan, pengujian, kalibrasi dan penyediaan hewan uji yang telah dilaksanakan berturut-turut oleh Laboratorium Analisis Kimia dan Fisika Pusat (tercakup di dalamnya Laboratorium Referensi), Laboratorium Ilmu Hayati, Pusat Penelitian Obat Tradisional dan Unit Pengembangan Hewan Percobaan.

LPPT tidak hanya digunakan untuk keperluan internal saja, tapi juga diinvestasikan untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengujian dari mitra industri. Hal ini tidak lepas dari perkembangan jumlah permintaan jasa tersebut dari tahun ke tahun.

Lab ini pada 2008 lalu akhirnya berhasil meraih sertifikat ISO 17025:2005 dari KAN, sebagai lab penguji dengan kode LP-359-IDN. Lab ini tidak dimaksudkan untuk membawahi lab di fakultas-fakultas yang ada, diarahkan menjadi lab komplemen, salah satunya agar alat-alat tiap lab fakultas dapat selalu termonitor dan terkalibrasi. Lab fakultas memang tidak perlu melakukan akreditasi, karena nanti cost-nya akan tinggi.

Saat ini LPPT-UGM terus membenahi lab tersebut untuk dapat menjadi lab yang diakui secara nasional dan internasional, misalnya saat ini dengan tengah dipersiapkannya akreditasi klinik ISO 15189.

SNI vs Lab Kalibrasi

SNI berdasarkan PP No 102 tahun 2000 didisain memiliki ruang lingkup semua kegiatan yang berkaitan dengan metrologi, teknik, standar, pengujian dan kualitas. Tujuan SNI adalah untuk meningkatkan perlindungan kepada konsumen, pelaku usaha, tenaga kerja dan masyarakat lainnya, baik dalam hal keselamatan, keamanan, kesehatan maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup, membantu kelancaran perdagangan, serta mewujudkan persaingan usaha yang sehat dalam perdagangan.
Walaupun SNI sebenarnya berlaku di seluruh wilayah Republik Indonesi, dalam kenyataannya implementasi SNI wajib belum berjalan seperti yang diharapkan karena seringnya muncul ketidaksiapan instansi terkait. Padahal tanpa SNI, barang import, misalnya, dapat dengan mudah masuk ke Indonesia dan bahkan bisa merugikan konsumen. Ditambah lagi daya saing produk nasional relatif kecil.

Kantor Menristek menginginkan di setiap provinsi minimal ada satu lembaga sertifikasi agar pelaku program SNI ini tidak perlu jauh-jauh datang ke Jakarta. Dan Lab Uji dan Lab Kalibrasi dapat berfungsi sebagai lembaga sertifikasi produk.

ISO 17025

ISO 17025 adalah standar internasional yang memuat persyaratan umum kompetensi laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi. Versi terakhir adalah versi 2005, dan sudah ada versi resmi bahasa Indonesianya hasil dari terjemahan KAN dari ISO/IEC 17025:2005 General Requirements for The Competence of Testing and Calibration Laboratories.

Dalam klausul-klausulnya dicantumkan persyaratan bahwa Lab Kalibrasi yang ingin mendapat akreditasi KAN agar dinyatakan comply dengan standar internasional ini harus :

1. Memiliki fasilitas sumber daya yang cukup untuk melaksanakan pengujian dan atau
kalibrasi yang benar

2. Dilengkapi peralatan yang lengkap, terawat dan terkalibrasi

3. Mempunyai personel yang sesuai, terlatih dan memenuhi kualifikasi sesuai lingkup
bidang pengujian dan atau kalibrasi

4. Fasilitas laboratorium untuk pengujian dan atau kalibrasi harus sedemikian rupa dapat memberikan hasil pengujian dan atau kalibrasi yang memadai dan dapat memberikan data yang valid dan benar.

5. Memastikan bahwa kondisi lingkungan dipantau dan dikendalikan seperti yang dipersyaratkan oleh spesifikasi dasar atau metode pengujian dan atau kalibrasi

6. Dilengkapi dengan semua peralatan pengukuran yang diperlukan untuk melaksanakan pengujian dan atau kalibrasi dengan benar, termasuk pengambilan sampel, apabila melakukan penyiapan preparasi barang yang diuji dan atau dikalibrasi, pengolahan dan analisis data penguji dan atau kalibrasi.

7. Dioperasikan oleh personel yang kompeten.

8. Menggunakan instruksi termutakhir dalam penggunaan dan perawatan peralatan tertentu

9. Memiliki personel manejerial dan teknis dengan wewenang untuk mengelola sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya dan untuk mengidentifikasi terjadinya penyimpangan dari sistem mutu atau dari prosedur pelaksanaan pengujian dan atau kalibrasi untuk memulai tindakan pencegahan atau meminimalkan penyimpangan

10. Memastikan semua personel memiliki kompetensi mengoperasikan peralatan,
melakukan pengujian dan atau kalibrasi, mengevaluasi hasil, dan menandatangani laporan pengujian dan sertifikat kalibrasi

11. Memiliki manajemen teknis yang sepenuhnya bertanggung jawab atas pelaksanaan teknis dan ketersediaan sumber daya yang diperlukan untuk memastikan mutu kegiatan laboratorium yang dipersyaratkan

12. Menunjuk seorang staf sebagai manajer mutu (atau apapun namanya) yang terlepas dari tugas dan tanggung jawabnya yang lain, yang mempunyai tanggung jawab dan kewenangan tertentu untuk memastikan sistem mutu diterapkan dan diikuti setiap waktu, juga mempunyai akses langsung ke pimpinan tertinggi yang membuat keputusan terhadap kebijakan atau sumber daya laboratorium.

Manfaat Lab Kalibrasi di Perguruan Tinggi

Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh jika suatu kampus memiliki Lab Kalibrasi, antara lain :

1. Lab Kalibrasi ini pada dasarnya sama saja dengan lab-lab lain yang ada di perguruan tinggi, yang digunakan sebagai sarana belajar mengajar, seperti Lab Elektonika, Lab PSD, Lab Robotika, dll. Pelajaran yang terkait langsung dengan lab ini adalah pelajaran tentang alat ukur atau instrumentasi, metrologi dan sistem mutu. Contoh sederhananya, para mahasiswa dapat belajar tentang bagaimana cara kerja suatu oscilloscope atau multimeter, misalnya. Bahkan dalam beberapa hal dapat membuat sendiri instrument, misalnya pernah ada yang membuat oscilloscope dari tabung TV bekas.

2. Pelajaran Interfacing juga dapat dipraktekkan di sini, terutama yang terkait dengan interfacing untuk keperluan pengukuran. Contoh interfacing sederhana misalnya memanfaatkan RS232, GPIB sebagai interfacing alat ukur dengan perangkat komputer, sehingga data hasil ukur suatu alat ukur dapat langsung ditransfer ke komputer untuk diolah sesuai dengan keperluan.

3. Sistem Kalibrasi ini sebenarnya adalah bagian dari implementasi sistem mutu Lab yang distandarkan oleh organisasi ISO, disebut sebagai ISO/IEC 17025. Beberapa klausul dalam ISO 9000 tentang kewajiban melakukan kalibrasi untuk menjamin konsistensi mutu layanan yang diberikan suatu perusahaan, dapat dilihat sebagian prakteknya di dalam lab kalibrasi. Sebab dalam kenyataan di lapangan, sebagian kastamer yang mengkalibrasikan alat ukurnya “hanya” karena ingin memenuhi klausul ini saja, sehingga mereka bisa lolos audit atau syarat akreditasi ISO 9000.

Sebagai catatan, ISO 17025 memiliki landasan filosofi dan cara berpikir yang sama dengan ISO 9000. Dokumen standar yang bisa disebut “undang-undangnya Lab Kalibrasi” ini adalah perbaikan dari ISO Guide 25, yang kemudian di-mix dengan ISO 9000 menjadi ISO 17025. Sehingga dengan demikian, mahasiswa yang belajar ISO 17025 identik dengan mepelajari ISO 9000 juga, ditambah dengan klausul-klausul teknis kalibrasi yang tentunya tidak ada pada ISO 9000.

4. Dengan diimplementasikannya sistem mutu Lab Kalibrasi, maka sebagai konsekuensinya kampus memerlukan sistem manajemen alat ukur yang baik, rapi, terdokumentasi. Dengan demikian maka concern terhadap pemeliharaan alat ukur dan bahkan semua perangkat di semua laboratorium dapat lebih terpelihara. Setiap alat ukur akan teridentifikasi dengan baik, akurasinya dapat diketahui, biasanya cenderung dapat terpelihara kebersihannya, dan budaya “memelihara aset” dapat diwujudkan.

5. Dengan adanya Lab Kalibrasi yang comply terhadap suatu standar sistem mutu internasional, maka ini bisa menjadi tambahan point positif bagi penilaian suatu perguruan tinggi, misalnya jika ada visi menjadi world class university, ataupun jika ingin mendapat sertifikat ISO 9000, atau pengakuan lainnya. Sebagai bagian dari kegiatan Quality Assurance, harusnya Lab Kalibrasi dapat menjadi tulang punggung kegiatan penjaminan mutu sistem belajar-mengajar di kampus.

6. Dalam “batas-batas komersialisasi” tertentu, sebenarnya Lab Kalibrasi bisa dijadikan sumber pemasukan bagi insititusi perguruan tinggi. Kenyataan saat ini semakin banyak standar internasional yang mewajibkan kontrol mutu pada perangkat yang dimiliki suatu perusahaan yang ingin diakui sistem mutunya, terutama jika orientasi produknya adalah untuk ekspor. Bahkan Pemerintah telah lama mewajibkan pengecekan kualitas setiap perangkat yang beredar terutama hasil import agar tidak merugikan konsumen dalam negeri, walaupun belum terlihat konsisten dalam praktek di lapangan. Dan ini adalah peluang bernilai ekonomis bagi sebuah Lab Kalibrasi (dan Lab Uji).

Terkait dengan hal ini, tentu saja ada banyak hal yang harus menjadi pertimbangan bagi suatu perguruan tinggi untuk memutuskan komersialisasi Laboratoriumnya, tidak sekedar merujuk kepada suatu hasil studi kelayakan saja.

Bagaimana Membangun Suatu Lab Kalibrasi ?

Membangun suatu Lab Kalibrasi tidak berarti harus memenuhi semua unsur di ISO 17025, kecuali jika ingin serius diakreditasi oleh lembaga akreditasi semacam Komite Akreditasi Nasional (KAN), NATA (Australia), atau NAMAS (Inggris).

Setup-nya bisa dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan SDM, kondisi manajemen setempat, konsensus para personel terkait, dan visi yang akan dituju. Misalnya dengan lebih dulu melakukan manajemen aset disertai dengan klasifikasi alat ukurnya, mana alat ukur yang akan jadi standar (rujukan akurasi) bagi alat ukur yang lain. Lalu dibuat prosedur kalibrasinya, yang terdokumentasi dengan baik. Sebelumnya juga bisa ditunjuk (biasanya disesuaikan dengan garis kewenangan dalam struktur organisasi) para personel yang akan terlibat penuh dalam sistem mutu yang akan dibangun nantinya.

Catatan : Dari pengalaman di lapangan, dalam membangun suatu Lab Kalibrasi yang comply terhadap sistem mutu sebenarnya tidak terlalu sulit asalkan faktor budaya “menulis apa-apa yang dikerjakan dan bekerja sesuai prosedur yang tertulis” dapat dipahami dan dijadikan kebiasaan terutama bagi para personel Lab.

Seiring dengan beberapa kegiatan tersebut, para personel terus mempelajari standar ISO 17025, beberapa dokumen standar lainnya yang terkait, benchmarking ke Lab Kalibrasi yang ada, juga mengikuti beberapa pelatihan pembangunan Lab Kalibrasi yang disediakan beberapa provider pelatihan sistem mutu kalibrasi (misalnya KIM-LIPI) atau mendatangkan konsultan kusus untuk setup sistem mutu ISO 17025 (bisa dicari di Internet dan jumlahnya saat ini sudah cukup banyak).

Catatan : Badan Standardisasi Nasional didirikan dengan Keppres nomor 103 tahun, perubahan dari Keppres nomor 13 tahun 1997, merupakan salah satu dari 7 (tujuh) LPND di bawah koordinasi Kantor Menristek yang mempunyai tupoksi inti, yaitu menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Sedangkan KIM-LIPI berperan sebagai NML (National Metrology Laboratory) di Indonesia.

Tentang perangkat standar (atau biasa disebut sebagai kalibrator), pada tahap awal tidak perlu dulu membeli suatu perangkat khusus untuk ini. Disamping karena memang biasanya relatif mahal, manfaat nyatanya harus dipertimbangkan dengan baik, karena biasanya membutuhkan suatu studi kelayakan yang baik. Dari pengalaman yang ada, utamakan saja dulu kesiapan knowledge para calon personel yang akan menjadi “anggota resmi” sistem mutu Lab Kalibrasi.

Pada tahap awal ini, perangkat (alat ukur) eksisting bisa dipilih sebagai perangkat standar. Misalnya jika memiliki 10 multimeter, maka pilih salah satu diantaranya yang memiliki akurasi terbaik atau dalam kondisi terbaik. Maka alat ukur yang “terpilih” ini dijadikan sebagai kalibrator, dan diidentifikasi menggunakan cara penomoran tertentu. Maka sejak itu semua besaran atau parameter terkait multimeter ini memiliki diwajibkan memiliki ketertelusuran kepada kalibrator multimeter ini.

Pada awal penerapan sebagai kalibrator, pada tahap awal tidak perlu dikalibrasikan ke pihak luar. Ketidakpastian dan akurasi kalibrator ini sementara diasumsikan sama dengan spesifikasi pabrikan. Aturan penurunan ketidakpastian dan metode perhitungan ketidakpastian dapat dilihat pada dokumen ISO tentang petunjuk perhitungan ketidakpastian uncertainty (dapat diunduh di Internet).

Sebagai tahap selanjutnya, maka mulai identifikasi semua klausul yang ada pada ISO 17025, dari mulai organisasi, sistem manajemen, dokumentasi, audit, dan lain-lain. Kemudian buat dulu Manual Mutu sebagai dokumen induk sistem mutu, untuk kemudian diikuti pembuatan prosedur mutu, working procedure dan beberapa form atau quality record lainnya (mirip dengan ISO 9000).

Ini memerlukan waktu agar semua personel dan infrastruktur “terbiasa” dengan kondisi pemenuhan persyaratan dalam sistem mutu yang dibangun. Masukan-masukan dapat diperoleh dengan mendatangkan beberapa ahli dari Lab Kalibrasi lain ataupun dari KAN sendiri untuk melakukan semacam audit kesesuaian sistem mutu. Nanti personel ini akan memberikan apa saja yang perlu dilengkapi lagi agar sistem mutu bisa disebut comply terhadap ISO 17025. Aturan-aturan tambahan dari KAN bisa saja dijadikan tambahan persyaratan yang harus dipenuhi, terutama jika manajemen perguruan tinggi menginginkan Lab Kalibrasi ini mendapat akreditasi resmi.

Bagaimana cara Lab Kalibrasi Mendapatkan Akreditasi ?

Syarat mendapatkan akreditasi ini mungkin bervariasi tergantung kepada Lembaga mana yang akan dijadikan rujukan dalam akreditasi ini. Di Indonesia, hanya dikenal satu saja lembaga semacam ini, karena sudah ditunjuk oleh pemerintah melalui BSN (Badan Standarisasi Nasional), yaitu KAN (Komite Akreditasi Nasional).

Syarat awal tentu saja perlu persiapan menyeluruh pemenuhan semua klausul ISO 17025 oleh Lab Kalibrasi, terutama para personel yang menangani, kesiapan infratsruktur pendukung, scope (ruang lingkup) Lab kalibrasi. Kemudian pada tahap awal proses akreditasi, biasanya KAN akan mengirimkan auditor yang akan mengecek kesiapan Lab, sesuai dengan usulan awal yang dikirimkan, yang biasanya meliputi :

· Status legalitas lab (SK pendirian dan dokumen lain yang terkait)

· Daftar perangkat, kondisi

· Struktur organisasi, jumlah personel, kualifikasi personel

· Kondisi akomodasi (ruangan Lab) dan lingkungan (suhu dan kelembaban)

Tergantung dari jenis dan banyak perbaikan yang harus dilakukan yang dinyatakan sebagai “temuan ketidaksesuaian”, nantinya auditor ini akan memberi waktu bagi Lab untuk membenahi kekurangan dimaksud. Biasanya Lab akan dikenai kewajiban untuk menyiapkan penawaran akurasi terbaiknya yang biasa disebut sebagai BMC (Best Measurement Capability).

Kemudian jika semua siap, KAN akan mengirimkan lagi beberapa orang yang akan melakukan proses akreditasi sesungguhnya. Biasanya akan ada lagi beberapa perbaikan yang harus dibenahi lagi dalam tahap ini. Dan selanjutnya akan muncul keputusan dari KAN tentang permintaan akreditasi ini.

Jika disetujui oleh KAN, maka Lab akan mendapat sertifikat akreditasi. Dan selanjutnya dapat melakukan “bisnis” kalibrasi, sejak itu dibolehkan memasang logo KAN untuk tiap kalibrasi yang dilakukan untuk kastamer yang meminta order kalibrasi.

Sebagai catatan, mengenai biaya akreditasi ini sebaiknya ditanyakan saja langsung ke KAN. Namun dari pengalaman, biasanya biaya terbesar justru pada tahap persiapan dan dokumentasi sistem mutu.

Potensi Pengembangan Lain

Dengan berbekal kemampuan dalam kalibrasi, para personel Lab biasanya dapat lebih mudah mengembangkan diri dalam keahlian lainnya seperti menjadi konsultan pembangunan atau pemeliharaan Lab Kalibrasi ataupun Lab Uji, pengembangan atau perumusan Standar Nasional Indonesia (SNI), penilaian kesesuaian (Conformity Assesment-CA), bahkan pengembangan di bidang standardisasi internasional (misalnya ISO, IEC dan CAC) dengan ikut serta aktif (dengan fasilitator dari KAN atau BSN) dalam pertemuan-pertemuan metrologi dunia.

Lab kalibrasi bisa juga menjadi “outsourcing Lab” bagi Lab kalibrasi atau lab uji lainnya yang lebih besar atau jika tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pengetesan tertentu. Misalnya dalam pengecekan CPE (Handphone, walkytalky, faximile) maupun Non CPE (Radio Base Station, Radio Microwave, Pemancar Radio/TV siaran dll) hasil import yang ternyata tidak semua sesuai dengan peruntukannya di Indonesia dan benar-benar sesuai dengan persyaratan teknisnya.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi dan peraturan pemerintah sebagai pelaksanaannya, dan terakhir dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Kominfo Nomor 29 /PER/M.Kominfo/09/2008 tentang Sertifikasi alat dan perangkat telekomunikasi telah diatur bahwa setiap alat yang dimasukkan, dibuat, dirakit, diperdagangkan dan/atau digunakan wajib memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan, dan sebagai tanda pemenuhan kesesuaian tipe alat dan perangkat telekomunikasi terhadap persyaratan teknis tersebut diwujudkan dalam bentuk sertifikat.

Sebagai catatan, sampai saat ini biasanya Direktorat Standardisasi selaku instansi penerbit sertifikat menggunakan Lembaga Uji seperti Balai Besar Perangkat Telekomunikasi Ditjen Postel atau R&D PT. TELKOM untuk memastikan kesesuain dimaksud. Pengujian ini biasanya mengacu kepada Spesifikasi Teknis Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Technical Specification Regulation), Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Acuan Internasional seperti ISO, ETSI, RR, ITU, IEC.

Tentu saja bukan berarti keberadaan Lab Kalibrasi akan otomatis dapat melakukan semua pengetsan tersebut, karena untuk melakukan pengetesan lengkap tidak hanya dibutuhkan Lab Kalibrasi, tapi juga dukungan Lab lainnya, seperti Lab Radio dan Lab EMC.

read more “Membangun Lab Kalibrasi ala Perguruan Tinggi”

Overview tentang Proficiency Testing

0 komentar Selasa, 10 Februari 2009

Sebuah lab Kalibrasi melaksanakan beberapa kegiatan untuk menjaga mutu layanannya. Dari mulai tahapan menerima order, proses kalibrasi, sampai ke penyerahan perangkat yang telah selesai dikalibrasi kepada pemiliknya.

Jika kita fokuskan ke bahasan teknis kalibrasinya sendiri, ada beberapa program terkait jaminan mutu ini, misalnya lab berusaha agar metode kalibrasinya sesuai dengan teknik metrologi terbaru alias sudah tervalidasi dengan baik, bagaimana menjaga ketertelusuran (traceability) semua perangkat kalibrasi yang digunakan, mengembangkan kemampuan teknisi kalibrasi, menepati janji penyelesaian layanan kepada kastamer, dan beberapa hal lain.

Sebagian Lab menjalankan kegiatan-kegiatan tersebut semata-mata menjalankan kewajiban yang sudah digariskan oleh aturan dasar lab kalibrasi yaitu ISO/IEC 17025, aturan-aturan tambahan dari Badan Akreditasi, dan mungkin ditambah pula beberapa program sesuai dengan visi misi atau policy manajemen setempat. Tentu sebaiknya Lab juga menjalankan dengan sungguh-sungguh beberapa kegiatan tambahan lain yang dapat meningkatkan mutu semua aspek layanannya, namun ini biasanya terbentur kepada pertimbangan atau trade-off antara keinginan ideal tersebut dengan resource eksisting yang dimiliki.

Kali ini akan kita bahas tentang Proficiency Testing (PT), yang merupakan salah satu kegiatan penting di dalam manajemen kalibrasi. Pada umumnya, PT dilakukan dengan cara mendistribusikan sebuah perangkat kepada beberapa lab yang menjadi partisipan suatu PT. Perangkat ini mempunyai nilai yang akurasi sebenarnya hanya diketahui oleh suatu organiser. Lab-lab tersebut menganalisa perangkat tersebut, lalu melaporkan report kepada organiser ini. Kemudian Organiser tersebut akan membuat suatu report yang menggambarkan tingkkat kedekatan nilai hasil ukur lab tersebut dengan nilai “sebenarnya”. Hasil inilah yang akan dijadikan masukan untuk meningkatkan kinerja Lab.

Sebagai catatan, kegiatan PT sebenarnya tidak hanya diperuntukkan bagi kegiatan kalibrasi saja, tapi juga beberapa analisa dan pengetesan lainnya, seperti analisa mineral, pengetesan forensik, pengetesan lingkungan. Coba tengok website beberapa provider PT ini seperti http://www.scc.ca (Standards Council of Canada), http://www.hsl.gov.uk (Helath and Safety Laboratory), http://www.cms.hhs.gov (Centre for Medicare and Medicaid Service).

Dalam ISO 17025General Requirements for the Competence of Testing and Calibration Laboratories disebutkan bahwa Lab disarankan menjalankan melakukan beberapa kegiatan untuk menjamin mutu hasil kalibrasi, antara lain :

1. Menggunakan reference material yang bersertifikat dan atau melakukan kontrol mutu internal menggunakan secondary reference material. Jadi tidak cukup mengandalkan hasil kalibrasi perangkat standar (kalibrator) dari luar saja, tapi juga harus melakukan pengecekan menggunakan kalibrator lain (denga akurasi yang mungkin berada di bawah kalibrator utama) sebagai pembanding.

2. Berpartisipasi aktif pada ILC atau PT.

3. Melakukan replikasi kalibrasi menggunakan metode yang sama atau berbeda.

4. Melakukan re-testing dan rekalibrasi standard atau kalibrator.

5. Menganalisa korelasi karakteristik antar perangkat.

Ada masalah besar yang sering dilupakan Lab, yaitu bahwa PT ini sebenarnya tidak diniatkan untuk membuat judgment seberapa hebat suatu Lab. Karena jika niat ini yang mendasari suatu skema PT yang dilaksanakan suatu Lab, maka Lab tersebut bisa saja akan memanipulasi nilai ukur, walaupun ini juga agak sulit karena nilai sebenarnya dikantongi oleh organiser. Demikian juga bagi Badan Akreditasi, yang biasanya menjadi fasilitator PT, harus diingatkan agar tidak menjadikan penyelenggaraan PT ini sebagai ajang “ujian nasional” untuk melakukan judgment tersebut, apalagi melakukan peta peringkat Lab.

Kadang muncul masalah saat suatu Lab yakin lulus (dengan En yang diperkirakan baik), tapi ternyata laporan finalnya menyatakan bahwa Lab tidak lulus PT. Hal ini bisa disebabkan artifak memang memiliki nilai benar yang sudah menyimpang dari nilai nominal (dan organizer merahasiakan nilai ini). Atau bisa saja artifak tadi sudah mengalami drift (berbasis waktu). Karenanya Lab peserta ILC atau PT sebaiknya memberikan nilai ukur sebenarnya sesuai dengan hasil ukur yang diperolehnya. Soal ketidaklulusan ini menjadi akan dipersoalkan oleh Badan Akreditasi, ini sebenarnya berada di luar urusan provider PT.

Catatan :

Ada dua nilai yang umumnya dijadikan rujukan kinerja “keberhasilan” suatu Lab dalam mengikuti proficiency testing, yaitu En dan Z-score. Jika En nilainya antara -1 sampai 1, maka Lab peserta disebut memberi “hasil yang memuaskan”. Untuk nilai Z-score sebaiknya berada di antara -2 sampai 2, jika di atas 3 dikatakan “tidak memuaskan”, sedangkan nilai diantara 2 dan 3 dikatakan memiliki “hasil PT dipertanyakan”.

clip_image002[4]

clip_image004[4]

Jadi jika ketidakpastian gabungan antara lab peserta PT dengan ketidakpastian dari Lab rujukan sebesar 1 %, maka perbedaan penunjukan nilai kedua hasil kalibrasi (yaitu Lab peserta dengan Lab rujukan) pada suatu titik ukur yang sama tidak boleh lebih besar dari 1 %.

Atau jika deviasi hasil pengukuran oleh suatu Lab peserta PT adalah sebesar 1%, maka perbedaan penunjukan nilai kedua hasil kalibrasi (yaitu Lab peserta dengan Lab rujukan) pada suatu titik ukur yang sama tidak boleh lebih besar dari 2 %.

Dengan PT ini, maka Lab Kalibrasi bisa memiliki satu lagi cara untuk menunjukkan pada stakeholder lab, terutama pada kastamer bahwa mereka benar-benar melakukan maintenance dan perbaikan kinerja secara berkelanjutan. Biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan ini tidak ada artinya dibandingkan reputasi jelek yang didapatkan jika ternyata kalibrasi yang selama ini dilakukan salah atau memiliki tingkat akurasi yang jelek.

Maka hasil PT inipun bisa ditunjukkan kepada kastamer, sebagai evidence tambahan bahwa Lab memiliki komitmen menjaga konsistensi mutu proses dan hasil kalibrasi, walaupun dalam kenyataannya, dari pengalaman penulis, sangat jarang kastamer yang memiliki keingintahuan sampai demikian jauh.

Provider PT

Dalam skala nasional, hanya Komite Akreditasi Nasional saja yang selama ini menjadi provider PT bagi semua Lab Kalibrasi yang diakreditasinya. Tapi sayangnya kegiatan ini kurang intensif dilakukan kemungkinan karena faktor biaya dan waktu yang diperlukan yang relatif lama, karena perangkat sample-nya harus digilirkan ke seluruh Lab yang menjadi partisipan PT.

Dalam skala internasional, ada beberapa provider PT. Masing-masing memiliki scope dan spesialisasinya sendiri-sendiri, misalnya di Amerika ada NAPT (National Association for Proficiency Testing), di Australia ada PTA (Proficiency Testing Australia).

Sekilas tentang PTA, organisasi ini adalah subsidiary dari NATA (National Association of Testing Authorities). Pada Oktober 2008 PTA diterima sebagai anggota Associate Member of the Asia Pacific Laboratory Accreditation Cooperation (APLAC).

PTA menawarkan layanan PT baik untuk Lab Uji maupun Lab Kalibrasi. Untuk Lab Uji, kinerja suatu Lab merupakan hasil perbandingan nilai konsesus terhadap nilai hasil perhitungan yang diperoleh dari hasil suatu PT. Sedangkan pada Lab Kalibrasi, nilai PT suatu Lab akan dibandingkan dengan nilai referensi (reference value) lengkap dengan perhitungan ketidakpastiannya.

Dengan pertimbangan kelengkapan informasi yang tersedia di website-nya, kali ini penulis akan membahas agak banyak tentang salah satu provider PT terkemuka lainnya yaitu NAPT, yang didirikan 12 tahun lalu, tepatnya pada Desember 1996.

Dari websitenya, NAPT menyatakan dirinya sebagai provider PT/ILC dimana ILC adalah kepanjangan dari Inter Laboratory Comparison, yang memiliki makna hampir sama dengan PT. Diceritakan pada masa berdirinya, kegiatan semacam PT ini masih jarang dilakukan. NIST dan NCSL sudah melakukan kegiatan sejenis yang disebut Round Robin, namun belum dianggap cukup independen secara institusi dan belum benar-benar “open format”.

Maka muncullah NAPT, lembaga non profit dengan tujuan menyediakan fungsi manajemen, administrasi, koordinasi, data processing, dan pelaporan terhadap kegiatan interlaboratory comparison, PT dan round robin. Namun dalam statement resminya, fungsi ini ditambah dengan misi ideal seperti diseminasi pengetahuan metrologi, membantu akreditasi, sampai ke “bank” penyimpanan data-data hasil PT.

NAPT mengantongi akreditasi dari A2LA, memenuhi persyaratan ILAC Guide 13 : Guidelines for the Requirements for the Competence of Providers of Proficiency Testing Schemes”  (based on ISO/IEC Guide 43-1:1997, relevant elements of ISO/IEC 17025:1999, and relevant ISO 9000 Series requirements). Scope layanannya luas, meliputi dimensi, elektrik, mekanik, RF Microwave, Thermodynamic, dan Time/Frequency.

Jadi jika suatu Lab Kalibrasi menginginkan suatu layanan PT dari NAPT dalam bidang time & frequency, maka nantinya NAPT akan mengirimkan suatu perangkat yang disebut “artifak”, misalnya frequency meter atau frequency counter. Metodenya juga akan dijelaskan. Hasil PT ini bisa saja dimintakan oleh Lab untuk dikirimkan ke Badan Akreditasi dimana Lab “bernaung” di bawahnya, tentu saja jika ada surat permintaan resmi. Ini dilakukan mungkin dengan tujuan agar image Lab bisa naik di mata Badan Akreditasi.

Jika Lab tersebut menginginkan suatu artifak lainnya yang tidak dimiliki oleh NAPT, maka Lab bisa diminta menjadi sponsor artifak, yaitu dengan meminjamkan perangkatnya ke NAPT untuk kemudian dijadikan sebagai “artifak” PT/ILC. Tentu saja ada beberapa keuntungan menjadi sponsor ini misalnya dalam hal image dan networking.

Lalu darimana NAPT mendapatkan reference value untuk artifak yang digunakanannya? Dari website-nya dikatakan bahwa NAPT mendapatkan nilai ini dengan bantuan dari NIST. Kemudian NAPT akan melakukan berbagai review statistik seperti Two Sigma, Three Sigma, Chauvnet Criterion, Sample Median, Trimmed Mean, Interquartile, Q-Test, dan Thompson Technique. Ini digunakan sebelum, selama dan sesudah suatu artifak didistribusikan, dengan tujuan agar reference value untuk artifak ini selalu valid dan dapat mendeteksi dengan cepat jika muncul anomali.

NAPT menjanjikan kualitas pengukuran yang melebihi standar dari guideline yang dianut. Beberapa guideline yang dijadikan patokan kerjanya antara lain :

1. ILAC-G13:  Guidelines for the Requirements for the Competence of Providers of Proficiency Testing Schemes.

2. ISO/IEC Guide 43-1:  Proficiency Testing by Interlaboratory Comparisons - Part 1: Development and Operation of Proficiency Testing Schemes.

3. NCSLI RP-15:  Guide for Interlaboratory Comparisons.

4. ASTM E1301:  Standard Guide for Proficiency Testing by Interlaboratory Comparisons.

5. ISO/IEC Guide 43-1:  Proficiency Testing by Interlaboratory Comparisons - Part 2: Selection and Use of Proficiency Testing Schemes by Laboratory Accreditation Bodies.

6. ISO/IEC 17025:  General Requirements for the Competence of Testing and Calibration Laboratories.

Perbedaan ILC dan PT

ILC (Inter Laboratory Comparison) adalah kegiatan pengorganisasian dan evaluasi kinerja proses kalibrasi atau pengetesan pada suatu item (misalnya artifak) oleh dua laboratorium (atau lebih) dengan suatu pengkondisian tertentu.

Sedangkan PT (Proficiency Testing) adalah kegiatan memperkirakan kinerja suatu Lab dengan cara membandingkan dan mengevaluasi proses kalibrasi atau pengetesan pada suatu item (misalnya artifak) oleh dua laboratorium (atau lebih) dengan suatu pengkondisian tertentu

Manfaat ILC :

1. Mengembangkan kemampuan analisa ketidakpastian suatu Lab

2. Media untuk melihat kinerja personel sekaligus sebagai media pelatihan antar personal. Promosi seorang teknisi bisa saja dilihat dari parameter kemampuan nyata yang ditunjukkan oleh teknisi dibandingkan dengan teknisi lain bahkan di Lab yang berbeda.

3. Membangun networking dan korelasi antar Lab

4. Menentukan karakteristik suatu material, misalnya dalam hal akurasi

Manfaat PT :

1. Media assesmen terhadap kemampuan Lab (biasa digunakan oleh Badan Akreditasi)

2. Membuktikan kesesuaian terhadap standar mutu

3. Membuktikan kesesuaian statemen ketidakpastian yang dinyatakan pada scope dan akreditasi

4. Menentukan kinerja lab untuk suatu pengukuran

5. Mongawasi kinerja lab secara kontinyu

6. Identifikasi peluang proses improvement

Penjelasan tentang ILC dan PT ini diambil dari NAPT. Jika diteliti keduanya memiliki kemiripan, hanya tujuannya saja yang agak berbeda. Namun dari pengalaman yang ada, memang tidak berbeda jauh, dan manfaat keduanya bisa saling dipertukarkan. Perbedaan dari sudut pandang Badan Akreditasi mungkin tidak terlalu penting. Justru substansi-nya lah yang harusnya menjadi concern bagi Lab Kalibrasi. Misalnya saja dalam hal diseminasi kemampuan teknisi senior dari suatu Lab kepada teknisi-teknisi lain di Lab yang berbeda.

Referensi

1. NAPT Website, http://www.proficiency.org

2. PTA Website, http://www.proficiencytesting.com.au/

3. CMS Website, http://www.cms.hhs.gov

4. Tool4PT Pro, http://www.mermayde.nl/

read more “Overview tentang Proficiency Testing”

Sekilas tentanng Measurement Assurance

0 komentar Jumat, 30 Januari 2009

Kalau mendengat istilah measurement assurance ini (selanjutnya pada tulisan ini disingkat MA saja), mungkin terbayang di benak suatu kegiatan penelitian yang tujuannya memastikan sesuatu sesuai dengan spesifikasi atau tujuan. Ya, jika itu bayangan anda, anda tidak salah. Sesuai dengan namanya, “assurance” berarti jaminan atau kepastian, sedangkan “measurement” artinya pengukuran.

Di Internet jika kita masukkan istilah ini di google misalnya, maka akan banyak sekali laman yang terkait dengan ini (seperti biasa, kadang membuat bingung mana yang akan diklik). Tapi sesuai dengan tema blog saya tentang ilmukalibrasi, ada baiknya dibatasi dengan menambahkan kata “calibration” di belakangnya atau di depannya, bebas saja, agar bisa mengarahkan MA ini ke bidang yang lebih spesifik yaitu kalibrasi.

Uniknya ada website http://www.mattestusa.co menamakan dirinya Measurement Assurance Technology, sebuah perusahaan yang berlokasi di USA dan Mexico. Website ini menawarkan produk berupa alat ukur dari amplifier, signal generator sampai TV/Video/Cable Test. Perusahaan ini menawarkan layanan pembelian, leasing, financing, kalibrasi dan repair alat ukur dan tes. Sepertinya semua service terkait alat ukur diambil, walaupun saya agak yakin tidak semuanya dilakukan sendiri oleh Measurement Assurance Technology.

Dalam sejarah MA, dalam website http://www.springerlink.com, ada tulisan dari Brian Belanger, executive director NIST, yang mengklaim bahwa The United States National Bureau of Standards (NBS), yang kemudian menjelma menjadi the National Institute of Standards and Technology (NIST), adalah lembaga yang memperkenalkan konsep kontrol kualitas pengukuran (measurement quality control) yang dinamakan “measurement assurance”. Konsep ini kemudian menjadi terkenal dan banyak diimplementasikan dalam dunia metrologi. Dengan konsep ini maka kualitas kalibrasi dapat dinilai. Termasuk di dalamnya adalah pembahasan tentang traceabillity (ketertelusuran), yang menjadi salah satu faktor penentu akurasi kalibrasi atau pengukuran secara umum.

Berbagai macam konsep pengembangan dan implementasi diberikan oleh para pakar metrologi dan statistik (karena memerlukan tool statistik di dalamnya) termasuk di dalamnya aplikasi kusus untuk suatu proses pengukuran atau alat ukur tertentu. Sebagian diantara berbagai tulisan terkait dengan MA ini dapat dilihat pada referensi di bawah ini yang saya ambil dari http://www.itl.nist.gov/div898/pubs/subject/calibration.html. Terbukti bahwa MA sudah menjadi perhatian para praktisi metrologi sejak puluhan tahun silam. Dan dengan bantuan perkembangan ilmu statistik terapan dan perkembangan ICT (baca : software-software statistik), maka MA semakin canggih saja.

Maka kita mengenal MA untuk optical attenuator, MA untuk spectrum analyzer, dll. Sebagai gambaran sedikit, untuk MA optical attenuator, perlu menganalisa beberapa alat ukur optik pendukungnya yaitu optical power meter (atau optical wattmeter), optical reflectometer, termasuk karakteristik fiber yang digunakan.

Berbicara tentang statistik, ilmu apa saja dalam statistik yang digunakan untuk MA ini ? Untuk memudahkan menjawabnya, kita bisa lihat di http://www.engineeredsoftware.com, yang menyediakan kursus tentang MA ini, sekaligus menawarkan software pelatihannya. Di situ ternyata diberikan juga ilmu apa saja yang diajarkannya, dan nampaknya secara kasar bisa saya klaim bahwa siapa yang menguasai statistik maka dialah yang mampu menguasai MA dengan lebih sempurna.

Mari kita simak apa saja yang diajarkan engineeredsoftware ini.

Course Outline

I.  Fundamentals
          Random Sampling
          Probability Density Function
          Distribution Descriptors
          Practice Exam

II.  Bias
          Bias Definition
          Computing Bias
          Performing a Bias Study
          Interpreting Bias Results
          Practice Exam

III.  Repeatability & Reproducibility
          Repeatability 
          Reproducibility
          Quantifying Repeatability & Reproducibility
          Interpreting Repeatability & Reproducibility
          Average Run Length
         Practice Exam

IV.  Linearity
          Linearity Basics
          Linearity Requirement
          Designing a Linearity Study
          Linearity Calculations
          Practice Exam

V.  Final Exam (50 question review with solutions)

VI.  Examples

Quality Council of Indiana, Inc. yang memiliki laman di http://www.qualitycouncil.com menawarkan software sistem analisa pengukuran. Disebut-sebut bahwa teknik analisa ini digunakan oleh Automotive Industry Action Group (AIAG). Software-nya menyediakan semacam report witer yang kompatibel dengan software office semacam Word, wordperfect, dan lain-lain, bahkan HTML.

Website juga menyediakan software demo-nya, yang menyediakan beberapa prosedur analisa pengukuran, diantaranya tentang bias, linearity, repeatability, reproducibility.

1. Bias

Untuk menentukan bias, maka dibutuhkan reference value yang sudah harus terlebih dulu diketahui nilainya. Pembacaan kalibrasi dilakukan minimal 10 kali, sebaiknya 30 kali, karena semakin banyak jumlah pengukuran maka akan semakin bagus akurasinya nanti.

Setiap hasil ukur selalu memiliki bias. Bias-bias ini bisa siginifikan bisa pula tidak, dan untuk menentukan signifikansinya bisa digunakan distribusi-t. Makin banyak pengukuran dilakukan maka akan semakin besar discriminatory power dari t-test tersebut.

image

Prosedur untuk melakukan perhitungan bias ini menggunakan software adalah dengan memasukkan angka reference value dulu. Lalu masukkan juga angka process variation dan process tolerance-nya (jika diinginkan). Klik button Compute bias, maka software akan menganalisa data-data tersebut. Contoh hasil analisanya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

2. Linearity

Linearity adalah ukuran perubahan bias pada range operasi sebuah alat ukur. Cara mencari nilai linearity ini adalah dengan membandingkan pengukuran beberapa kali pada suatu nilai reference value, lalu melakukan plotting nilai bias-nya terhadap nilai reference. Untuk software ini defaultnya adalah mengukur 10 bagian (dalam suatu range operasi) dengan masing-masing bagian diukur biasnya sebanyak 5 kali. Untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah.

image

Bias didapatkan dari average selisih reference value dengan pembacaan.

Linearity dalam percent adalah slope “b” dari persamaan y=ax+b dimana x adalah reference value, sedangkan y adalah nilai bias. Sedangkan nilai linearity didapatkan dari nilai slope dikali dengan process variation.

image

3. Reproducibility

Variability didapatkan dengan cara mengulang pengukuran menggunakan alat ukur dan calibrator yang sama. Sedangkan reproducibility adalah variability dengan menggunakan teknisi kalibrasi yang berbeda.

Software MA dari Quality Council ini dapat melakukan analisa repeatability and reproducibility, menggunakan metode Range & Average dan metode ANOVA. Ada beberapa jenis chart yang bisa dipilih misalnya range control chart, run chart, whiskers chart, X-Y plot of averages, comparison X-Y plot, dan scatter plot.

image

image

Mengapa perlu ada analisa terhadap variability dan reproducibility ? Anda bayangkan jika hasil kalibrasi yang dilakukan teknisi A dan teknisi B dengan perangkat kalibrasi yang sama dan kondisi yang serupa, ternyata menghasilkan perbedaan hasil ukur secara signifikan. Tentu akan timbul pertanyaan, ada apa dengan alat ukur tersebut? Atau alat ukur tidak ada masalah, tapi apakah masalah ada di teknisi? Bagaimana dengan prosedur yang digunakan kedua teknisi tersebut, jangan-jangan hanya serupa tapi sebenarnya tidak sama ?

Jawaban-jawaban pertanyaan inilah yang menentukan tingkatan MA, proses kalibrasinya benar-benar bisa dijamin atau tidak.

 

Contoh Artikel tentang MA

Beberapa contoh tulisan tentanng MA antara lain :

1. Cameron, J. M. (1977). "Measurement Assurance," NBSIR 77-1240.

2. Cameron, J.M., Croarkin, M. C., Raybold, R.C. (1977). "Designs for the Calibration of Standards of Mass," NBS Tech. Note 952.

3. Cameron, J. M. and Hailes, G. E., (1974). "Designs for the Calibration of Small Groups of Standards in the Presence of Drift," NBS Technical Note 844.

4. Cameron, J. M. and Eicke, W. G. (1967). "Designs for Surveillance of the Volt Maintained by a Small Group of Saturated Standard Cells," NBS Technical Note 430.

5. Carino, N.J.; Guthrie, W. F.; Lagergren, E.S., Effects of Testing Variables on the Measured Compressive Strength [90 MPa] Concrete, NISTIR 5405 [FHWA].

6. Carino, N.J.; Guthrie, W. F.; Lagergren, E.S.; Mullings, G.M., Effects of Testing Variables on the Strength of High-Strength [90 MPa] Concrete Cylinders, Special Publication of the American Concrete Institute Proceedings of International Conference on High Performance Concrete, Singapore, November 1994.

7. Clague, F. R. and Splett, J. D. "Developing a NIST Coaxial Microwave Power Standard at 1mW," Proceedings of the National Conference of Standards Laboratories 1994 Workshop and Symposium, Chicago, Illinois, July 31 - August 4, 1994.

8. Croarkin, Carroll. (1985). "Measurement Assurance Programs Part II: Development and Implementation," NBS Spec. Publ. 676-II (revised).

9. Croarkin, C. and Varner, R. N. (1983). "Measurement Assurance for Dimensional Measurements on Integrated-Circuit Photomasks," NBS Tech. Note 1164.

10. Croarkin, C., Beers, J., and Tucker, C. (1979). "Measurement Assurance for Gage Blocks," NBS Mono. 163.

11. Datla, R. U., Croarkin, M. C. and Parr, A. C. (1994). "Cryogenic Blackbody Calibrations at the NIST Low Background Infrared Calibration Facility." NIST J. Res., Vol. 99(1), p.77.

12. Eckerle, K. L., Hsia, J. J., and Liggett, W. S. (1984). "Geometrical Alignment Errors in the Measurement of Prismatic Retroreflectors," COLOR Research and Application, 9, 23-28.

13. Ehrstein, J. R. and Lechner, J. A. (1975). "Two probe method" Section in "Semiconductor Measurement Technology," NBS SP 400-8, 14-17.

14. Goldman, A., McGuire, D. and Croarkin, C. (1987). "Assigning Values to In-house Standard UFsdo3(6) Cylinders." 3rd Int'l Conf. on Facility Operations - Saftguards Interface of the ANS.

15. Hwang, J. T. G. and Liu, H. K. "Application of empirical linear prediction to quality assurance in industrial manufacturing," Physical & Engineering Sci.: Proceedings of The 1994 Joint Stat. Meetings, to appear.

16. Iyer, H. K. and Vecchia, D. F. (1986). "Model and design considerations for calibration in the presence of drift," Technical Report 86-5, Colorado State University.

17. Kacker, Raghu N. (July 31-August 4, 1994). "Industrial Calibration System," Proceedings of the workshop and symposium of the National Conference of Standards Laboratories, Chicago, pp. 523-541.

18. Kacker, Raghu N. and Koike, Masayoshi. (July 11-13, 1994). "Industrial Calibration System," Proceedings of International Conference: Statistics in Industry, Science and Technology, Tokyo, pp. 364-381.

19. Kanipe, L. G., Seale, S. K., and Liggett, W. S. (1979), "Evaluation of Standard Library Spectra for Use in the Least-Squares Resolution of Environmental Gamma-Ray Spectra," in Computers in Activation Analysis and Gamma-Ray Spectroscopy, eds. B.S. Carpenter, M.D. D'Agostino and H.P. Yule, CONF-780421, U.S. Department of Energy, pp. 448-455.

20. Kanipe, L. G., Seale, S. K., and Liggett, W. S. (1978), "Least-Squares Resolution of Gamma-Ray Spectra in Environmental Samples," TVA/EPA-78/02, Tennessee Valley Authority, Chattanooga, TN.

21. Larsen, N. T., Vecchia, D. F.and Sugar, G. R. (1985). "VOR calibration services," Technical Note 1069, National Bureau of Standards, 191 p.

22. Lechner, James A., Reeve, Charles P. and Spiegelman, Clifford H. (1982). "An Implementation of the Scheffe Approach to Calibration Using Spline Functions, Illustrated by a Pressure-Volume Calibration," Technometrics Vol. 24, No. 3.

23. Lechner, J. A., Reeve, C. P. and Spiegelman, C. H. (1982). "An implementation of the Scheffe' approach to calibration using spline functions, illustrated by a pressure-volume calibration." NBSIR 80-2151 and Technometrics 24, 229-234.

24. Lechner, James A., Reeve, Charles P. and Spiegelman, Clifford H. (1980). "A New Method of Assigning Uncertainty in Volume Calibration,"NBSIR 80-2151.

25. Liggett, W. S. (1994), "Replicate Measurements for Data Quality and Environmental Modeling," in Handbook of Statistics Volume 12: Environmental Statistics, (Monograph), eds. G. P. Patil and C. R. Rao, Amsterdam: North Holland Publishers, pp. 71-102.

26. Liggett, W. S. and Ehara, K. (1993), "Experimental Optimization of Peak Shape with Application to Aerosol Generation," in 1993 Proceedings of the Section on Physical and Engineering Sciences, Alexandria, VA: American Statistical Association, pp. 174-182.

27. Liggett, W. S. (1993), "Scientific Protocols in Statistical Standards for Environmental Studies," in 1993 Proceedings of the Section on Quality and Productivity, Alexandria, VA: American Statistical Association, pp. 38-43.

28. Liggett, W. S. (1985), "Statistical Aspects of Designs for Studying Sources of Contamination," in Quality Assurance for Environmental Measurements, ASTM STP 867, eds. J. Taylor and T. Stanley, Philadelphia, PA: American Society for Testing and Materials, pp. 22-40.

29. Liggett, W. S. (1984), "Detecting Elevated Contamination by Comparisons with Background," Environmental Sampling for Hazardous Waste, (Monograph), eds. G.E. Schweitzer and J.A. Santolucito, Washington, DC: American Chemical Society, pp. 119- 128.

30. Liggett, W. S. (1983), "Calibration for Measurements with Background Correction Applied to Uranium-235 Enrichment," Nuclear Instruments and Methods, 216, 455-470.

31. Mulrow, J. M., Vecchia, D. F., Buonaccorsi, J. P. and Iyer, H. K. (1988). "Problems with interval estimation when data are adjusted via calibration," Journal of Quality Technology, 20, 233-247.

32. Parobeck, P., Tomb, T., Ku, H. H. and Cameron, J. M. (1981). "Measurement assurance program for weighings of respirable coal mine dust samples," J. Quality Tech, 13(3), pp. 157-165.

33. Reeve, Charles P. (1988). "A New Statistical Model for the Calibration of Force Sensors," NBS Technical Note 1246.

34. Reeve, Charles P. (1980). "The Calibration of Angle Blocks by Intercomparison," NBSIR 80-1967.

35. Reeve, Charles P. (1979). "The Calibration of a Roundness Standard," NBSIR 79-1758.

36. Reeve, Charles P. and Veale, Ralph C. (1976), "The Calibration of a Pentaprism," NBSIR 76-993.

37. Reeve, Charles P. (1975). "The Calibration of Indexing Tables by Subdivision," NBSIR 75-750.

38. Reeve, Charles P. (1975). "The Calibration of an Optical Flat by Interferometric Comparison to a Master Optical Flat," NBSIR 75-975.

39. Reeve, Charles P. (1974). "A Method of Calibrating Two-Dimensional Reference Plates," NBSIR 74-532, (issued January 1980).

40. Reeve, Charles P. and Veale, Ralph C. (1973). "A Survey of the Stability of Optical Flats," NBSIR 73-232.

41. Shen, M. A.; Davis, G. T.; Mopsik, F.; Guthrie, W. F.; Chen, W. T.; Livingston, E.; Lee, L.; Robbins, W.; Lee, C.; Henderson, P.; Pecht, M.L.; Lee, C.Y.; Dion, J.; et. al., An Industry/Government/University Partnership: Measuring Sub-Micrometer Strain in Polymer Films. Proceedings of the IPC Printed Circuits Expo, April 1994; Boston, MA.

42. Souders, T. Michael and Lechner, J. A. (1980). "A technique for measuring the equivalent RMS input noise of A/D converters." IEEE Trans. on Instrumentation and Measurement, vol. IM-29, December 1980; also presented at ASA meeting, 251-256.

43. Stenbakken, G. N., Souders, T. M., Lechner, J. A. and Boggs, P. T. (1985). "Efficient calibration strategies for linear, time invariant systems." Proceedings 1985 AUTOTESTCON Conference, IEEE Press, New York.

44. Turgel, T., Mulrow, J. M. and Vecchia, D. F. (1988). "NBS phase angle calibration services," Special Publication 250-26, National Bureau of Standards, 107 p.

45. Turgel, T. and Vecchia, D. F. (1987). "Precision calibration of phasemeters," IEEE Transactions on Instrumentation and Measurement, 36, 918-922.

46. Varner, R. N. (1980). "Mass Calibration Computer Software," NBS Technical Note 1127.

47. Veale, Ralph C. and Reeve, Charles P. (1974). "A Survey of the Temporal Stability of Angle Blocks," NBSIR 74-601.

48. Vecchia, D. F., Iyer, H. K. and Chapman, P. L. (1989). "Calibration with randomly changing standard curves," Technometrics, 31, 83-90.

49. Vecchia, D. F. and Iyer, H. K. (1989). "Exact distribution-free tests for equality of several linear models," Communications in Statistics-Theory and Methods, 18, 2467-2488.

50. Vecchia, D. F. and Iyer, H. K. (1986). "Calibration in some random coefficient regression models," Technical Report 86-6, Colorado State University.

51. Vecchia, D. F. (1980). "Fourier transformation of the nonlinear VOR model to approximate linear form," Technical Note 1021, National Bureau of Standards, 24 p.

52. Wang, C. M., Vecchia, D. F., Young, M. and Brilliant, N. A. (1994). "Software for performing gray-scale measurements of optical fiber end faces," Technical Note 1370, National Institute of Standards and Technology, to appear, 18 p.

53. Whetstone, J. R., Pontius, P. E., Baker, S. M., Lechner, J. A. and Spiegelman, C. H. (1979). "Facts and fallacies of process tank calibration." Proceedings of the 20th Annual Meeting of the Institute of Nuclear Materials Management.

54. Yao, Y.C., Vecchia, D. F. and Iyer, H. K (1988). "Linear calibration when the coefficient of variation is constant," Essays in Honor of F. A. Graybill (J. N. Srivastava, Ed.), North-Holland, 297-309.

read more “Sekilas tentanng Measurement Assurance”

Kajian Tekno-ekonomi Layanan Kalibrasi (5/5)

0 komentar Rabu, 28 Januari 2009

BAB V ANALISA EKONOMI

Dari model yang telah dibuat pada bab sebelumnya, maka pada bab ini diuraikan perhitungan NPV dan analisa resiko. NPV tersebut didapat dari nilai sekarang dari total net cash flow yang didapatkan berdasarkan proyeksi revenue dalam priode analisa. Sedangkan analisa resiko (risk analysis) dihitung berdasarkan perkiraan optimistik dan pesimistik net cash flow.

5.1 Proyeksi Layanan

image

Grafik 17. Model Tekno-ekonomi mencari NPV

Untuk mendapatkan proyeksi revenue harus dilakukan dulu pembuatan proyeksi order layanan untuk tahun 2010 sampai 2014. Proyeksi ini dibuat berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

· Data order layanan tahun-tahun sebelumnya. Namun data ini tidak bisa menjadi satu-satunya faktor yang dapat dijadikan acuan untuk membuat proyeksi order. Karenanya penulis memutuskan untuk tidak membuat proyeksi order tahun 2010 sampai 2914 menggunakan teknik statistik analisa time series seperti moving average, regresi linier, dan sejenisnya.

· Masukan dari para teknisi kalibrasi, yang dapat memberikan info penting tentang proyeksi layanan ini, karena dalam operasional sehari-hari biasa melakukan kontak langsung dengan kastamer untuk membicarakan hal-hal teknis tentang proses dan hasil kalibrasi alat ukur kastamer.

· Masukan dari para rekan di bagian marketing, yang memiliki data tentang “customer behaviour”. Ada sebagian kastamer yang rutin setiap tahunnya meng-orderkan kalibrasinya ke Lab JayaAbadi MSC dengan jumlah alat ukur yang relatif tetap, ada yang rutin namun dengan jumlah alat ukur yang bervariasi, ada yang rutin dua tahun sekali, ada yang tidak rutin namun dengan jumlah alat ukur yang relatif tetap, ada yang tidak rutin dengan jumlah alat ukur yang bervariasi. Ini kemudian dipetakan juga ke dalam proyeksi order 2009 sampai 2014.

· Pengaruh regulasi terhadap proyeksi layanan. Pada ISO 17025 tahun 1999 (sebagai pengembangan dari ISO Guide 25 sebelumnya) ada klausul baru yang melarang Lab Kalibrasi memberikan rekomendasi masa kalibrasi setahun sekali (seperti yang biasa dilakukan sebelumnya) pada sertifikat kalibrasi, kecuali jika kastamer menghendakinya atau mengijinkannya. Sebagai konsekuensi logis dari klausul ini maka untuk selanjutnya kastamer tidak harus mengikuti “skenario” jadwal kalibrasi dari Lab, semua diserahkan kepada kastamer itu sendiri sebagai pemilik alat ukur. Regulasi ini memiliki dampak juga kepada jumlah order kalibrasi setiap tahunnya, walaupun dalam kenyataannya tidak terlalu signifikan pengaruhnya terhadap Lab Kalibrasi JayaAbadi MSC.

· Pengaruh kompetitor terhadap order. Sejak tahun 2000-an sudah mulai muncul sejumlah kompetitor seperti Lab Kalibrasi KaliKali dan Nihon Denkei (ini adalah dua Lab yang tampak memiliki pangaruh cukup signifikan terhadap order Lab Kalibrasi JayaAbadi MSC). Namun sebenarnya di lapangan ada beberapa Lab lainnya, dengan tingkat pengaruh kecil, seperti Lab Epson, LIPI, dll.

· Pengaruh teknologi (spesifikasi, metode) dan infrastruktur eksisting (spesifikasi, sistem mutu, SDM) didapatkan bahwa untuk kondisi saat ini tidak ada pengaruh signifikan terhadap order, karena semua sudah dinilai dalam suatu akreditasi ISO 17025 sehingga sudah masuk “syarat cukup” bagi kastamer sebagai bahan pertimbangan order layanan ke Lab Kalibrasi JayaAbadi MSC. Untuk diketahui, semua parameter spesfikasi, metode, sistem mutu, bahkan kualitas SDM, sudah melalui filtering akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN), sehingga tidak ada masalah yang berarti. Jika satu kalibrator atau standar tidak memenuhi klausul persyaratan ISO, maka scope layanan yang boleh dipraktekkan oleh Lab bisa digugurkan oleh KAN, sehingga Lab tidak diperbolehkan lagi menawarkan jasa kalibrasinya seperti semula.

Dan sebagai informasi mengenai akreditasi ini, Lab Kalibrasi JayaAbadi MSC selalu berhasil mempertahankan status terakreditasi, dari tahun 1996 sampai kini. Hal ini disebabkan ini menjadi concern utama manajemen JayaAbadi MSC, karena menjadi syarat paling utama keberlangsungan operasional Lab.

· Untuk kualitas layanan (yang meliputi keramahan, kecepatan respons layanan, waktu antrian, dll) memang belum pernah dianalisa efeknya secara ilmiah terhadap proyeksi order. Secara kasat mata memang tidak terlalu berpengaruh, karena sampai saat ini umumnya kastamer memakai jasa Lab Kalibrasi karena persyaratan teknisnya, dan provider kalibrasi di lapangan memang tidak banyak karena mahalnya investasi membuat lab kalibrasi baru.

Namun demikian dalam tiga tahun terakhir, nampak mulai ada effort kompetitor yang perlu dicermati, seperti Lab Kalibrasi KaliKali dan Lab Nihon Denkei, yang dapat mengganggu market share yang selama ini didapatkan Lab kalibrasi JayaAbadi MSC. Mungkin sudah saatnya perlu ada analisa ilmiah tentang hal ini. Namun sesuai dengan Hipotesa pada bagian Pendahuluan, maka hal itu tidak dibahas dalam tulisan kali ini.

Dengan mensimulasikan beberapa skenario pengaruh faktor-faktor di atas terhadap proyeksi order yang kemudian berpengaruh langsung kepada proyeksi revenue, ditambah dengan berbagai masukan dari para teknisi dan engineer Lab kalibrasi, maka penulis membagi proyeksi order ini berdasarkan lima kategori, yaitu :

1. Very pesimistic projection, dimana jumlah ordernya mendekati 0.5 kali proyeksi order normal.

2. Pesimistic projection, dimana jumlah ordernya mendekati 0.7 kali proyeksi order normal

3. Normal Projection, sama dengan proyeksi order normal

4. Optimistic Projection, dimana jumlah ordernya mendekati 1.5 kali proyeksi order normal

5. Very Optimistic Projection, dimana jumlah ordernya mendekati 2 kali proyeksi order normal

Untuk selanjutnya lima kategori dan faktor pengali tersebut di atas akan digunakan untuk mendapatkan lima kategori net cash flow, yaitu :

1. Very pesimistic Net-cash-flow, dihitung sebagai 0.5 kali Normal Net-cash-flow

2. Pesimistic Net-cash-flow, dihitung sebagai 0.7 kali Normal Net-cash-flow

3. Normal Net-cash-flow

4. Optimistic Net-cash-flow, dihitung sebagai 1.5 kali Normal Net-cash-flow

5. Very Optimistic Net-cash-flow dihitung sebagai 2.5 kali Normal Net-cash-flow

Pembagian kategori dan faktor pengali ini akan digunakan pada bahasan untuk bagian 5.3 tentang Risk Analysis.

5.2 Perhitungan Net Present Value

Berdasarkan model dan mekanisme perhitungan ABC cost yang telah diuraikan pada bab 2, langkah-langkah yang dilakukan untuk mendapatkan nilai NPV adalah sebagai berikut :

1. Membuat skema pricing menggunakan metode ABC. Dan untuk itu dibutuhkan beberapa data pendukung antara lain elemen biaya tak langsung dan elemen biaya langsung. Kemudian ditentukan dulu aktivitas-aktivitas apa saja yang mengkonsumsi elemen biaya ini (yang terkait dengan produk) berikut resource driver-nya, sehingga dapat disusun suatu Activity Cost Matrix.

Pada penelitian ini, setelah dianallisa maka aktivitas-aktivitas bisa dibagi dalam 4 kelompok, yang pada penelitian ini dinamakan order, pra kalibrasi, kalibrasi dan administrasi. Ketiganya dianggap memiliki cost pool yang homogen.

“Order” adalah sebutan untuk kelompok aktivitas-aktivitas pada awal tahap layanan kalibrasi berikut :

· Menerima order kalibrasi melalui telepon atau email atau fax, sekaligus konfirmasi terhadap kemampuan pelayanan.

· Menerima kehadiran kastamer beserta alat ukurnya, untuk kemudian dilakukan verifikasi singkat tentang alat ukur tersebut. Verifikasi ini meliputi keadaan fisik, test awal (jika diperlukan), kemampuan kalibrasi Lab, availability dan kondisi kalibrator yang diperlukan, taksiran waktu penyelesaian kalibrasi, dan verifikasi identifikasi kastamer.

“Pra Kalibrasi” adalah sebutan untuk pengelompokan aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk persiapan proses kalibrasi dilakukan, yaitu menyiapkan kalibrator atau standar apa saja yang diperlukan untuk kalibrasi suatu unit under test (UUT) tertentu. Pengkondisian lingkungan juga dilakukan di dalam kelompok aktivitas ini.

“Kalibrasi” adalah kelompok aktivitas ketika proses kalibrasi terhadap UUT dilakukan, dimana nilai penunjukan UUT dibandingkan dengan nilai yang menjadi referensi.

Sedangkan kelompok “administrasi” adalah sebutan untuk proses pasca kalibrasi, meliputi pengetikan sertifikat, proses verifikasi, pengiriman sertifikat, penagihan, dan proses administrasi lainnya kepada kastamer sampai kastamer mendapatkan alat ukurnya kembali (bersama sertifikat kalibrasi.

2. Elemen biaya dimasukkan dalam Activity Cost Matrix. Kemudian dicari hubungan antara kelompok biaya (cost pool) dengan elemen biaya, sesuai dengan resource driver yang telah didefinisikan untuk mewakili hubungan ini. Resource driver inilah yang akan menentukan berapa bagian dari suatu elemen biaya pada suatu kelompok biaya.

Contoh untuk elemen gedung kantor, setiap kelompok biaya tadi dibagi berdasarkan luas lantai sebagai resource driver-nya. Luas lantai untuk setiap kelompok aktivitas oder, pra-kalibrasi, kalibrasi dan administrasi dibedakan berdasarkan luas lantai yang ada di ruang masing-masing aktivitas tersebut. Kusus untuk pra-kalibrasi dan kalibrasi, keduanya berada dalam satu ruang, elemen biaya dibagi berdasarkan perkiraan luas untuk menampung perangkat kalibrator dan luas untuk menampung UUT.

Demikian seterusnya sampai semua elemen biaya terbagi habis.

image

Tabel. Activity Cost Matrix

3. Setelah itu ditentukan output measure untuk setiap cost pool tadi. Untuk kasus ini, output measure dianggap sama dengan activity driver, sebagai driver yang menghubunngkan antara produk dengan aktivitas. Untuk cost pool order, pra-kalibrasi, kalibrasi, administrasi dipilih output measure berturut-turut jumlah order, jumlah kalibrator, man hour dan jumlah UUT.

Masing-masing output measure ditentukan angkanya berdasarkan perkiraan setahun. Dalam penelitian ini dimasukkan sebagai rata-rata nilai dalam 5 tahun (waktu analisa). Maka bisa dicari activity rate, yang merupakan hasil bagi antara jumlah total setiap cost pool dengan output measure.

4. Disusun dulu BOA untuk setiap alat ukur (UUT). Misalnya untuk analog multimeter :

· Bill untuk order adalah 1/5 (karena di setiap order rata-rata 5 UUT).

· Bill untuk pra-kalibrasi adalah 2 (karena biasanya menggunakan dua kalibrator yaitu Fluke 5500 dan Decade Resistance).

· Bill untuk kalibrasi adalah 1 (karena proses kalibrasin biasanya memerlukan waktu hanya 1 jam)

· Bill untuk adminstrasi adalah 1 (sebagai jumlah UUT)

5. Dengan menggunakan activity rate yang telah didapatkan, ditambah dengan biaya langsung, dikalikan masing-masingnya dengan “bill” untuk setiap aktivitas (pada BOA yang telah disusun) menjadi floor price bagi layanan kalibrasi suatu alat ukur.

6. Floor price dibandingkan dengan tarif dari kompetitor, dan policy atau kebijakan dari manajemen. Jika floor price lebih besar daripada harga eksisting, perlu dianalisa apakah ini tidak mengganggu marketing. Sebenarnya perlu ada analisa lebih dalam tentang sensitivitas harga ini terhadap kastamer, namun dalam penelitian ini diasumsikan kastamer tidak terlalu sensitif pada perubahan harga.

Tabel. Perhitungan “Final Tarif” berdasarkan pertimbangan tarif kompetitor

Pertimbangan tingkat kompleksitas proses kalibrasi yang dilakukan juga bisa menjadi bahan pertimbangan dalam penentuan harga final layanan ini. Dalam penelitian ini diwakili oleh jumlah kalibrator yang digunakan, artinya semakin banyak kalibrator yang harus digunakan maka akan semakin kompleks pula proses kalibrasi yang harus dilakukan. Tetapi pada kenyataannya perlu juga dimasukkan pertimbangan tingkat kesulitan, yang dalam paper ini tidak dimasukkan sebagai bahan pertimbangan.

Untuk penentuan tarif final, maka dipertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

· Jika floor price lebih besar daripada tarif eksisting, maka digunakan saja tarif eksisting

· Jika floor price lebih tinggi daripada tarif tertinggi dari beberapa kompetitor yang ada, maka gunakan saja tarif kompetitor

· Final tarif adalah floor price dikalikan dengan faktor (1+x), dimana x adalah margin keuntungan yang diinginkan manajemen.

Pertimbangan di atas bisa disesuaiakan dengan kondisi dan keinginan manajemen. Tentu ini memerlukan banyak masukan dari teknisi dan rekan-rekan marketing untuk melakukan analisa lebih mendalam terhadap kondisi pasar dan kompetitor.

7. Dengan menggunakan final tarif dan proyeksi jumlah layanan per jenis UUT untuk tahun pertama sampai kelima, maka bisa didapatkan angka proyeksi revenue selama rentang waktu tersebut.

image

Tabel. Proyeksi Revenue selama 5 tahun

8. Dari proyeksi revenue ini, maka bisa dibuatkan tabel NPV

image

image

Tabel. Net Present Value

 

Gambar 18. Net Cash Flow dan Cumulative Net Cash Flow 2009 sampai 2014

5.3 Analisa Resiko (Risk Analysis)

Tujuan dilakukannya analisa resiko pada kasus ini adalah untuk mengetahui faktor ketidakpastian dalam analisa investasi dan proyeksi revenue dalam kurun waktu 5 tahun pengamatan. Sebelum dilakukan perhitungan, terlebih dulu dilakukan pemilihan metode analisa resiko yang digunakan, agar hasilnya dapat dengan baik menggambarkan situasi yang sebenarnya terjadi.

5.3.1 Pemilihan Metode Analisa Resiko

Dalam teori analisa resiko, ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk melakukannya. Masing-masing metode memiliki kelebihan dan kelemahan. Karenanya pengunaannya harus disesuaikan dengan kasus yang didahapi.

  1. Modifikasi Metode Certainty Equivalen

Metode ini memiliki problem dalam hal independensi data dari tahun ke tahun dan memerlukan judgment terhadap penentuan probabilitas yang dianggap “aman”.

  1. Analisa Sensitivitas

Metode ini memiliki kelemahan dalam hal tafsiran antara “Pesimis” dan “Optimis”. Antar variabel dalam analisa kemungkinan saling berkaitan, sehingga menyulitkan mendapatkan hasil yang natural sesuai dengan keadaan sebenarnya.

  1. Analisa Break-even

Metode ini memiliki kelemahan dalam hal biaya, yang harus bisa dibagi sebagai biaya tetap dan variabel. Dalam hal produk, metode ini mensyaratkan satu jenis produk saja, atau boleh lebih dari satu jenis asalkan komposisi produk dianggap tetap.

  1. Metode Simulasi (Monte Carlo)

Metode ini sebenarnya dapat membuat perhitungan menjadi semakin “alami”, namun demikian perhitungannya akan semakin kompleks jika variabel yang terlibat makin banyak dan makin variatif.

Melihat dari kesesuaian dengan model yang dibuat pada bahasan sebelumnya, maka penulis memilih metode modifikasi Metode Certainty Equivalent sebagai metode yang dianggap paling cocok dengan kasus pemodelan perhitungan NPV pada Lab Kalibrasi JayaAbadi MSC, dengan alasan sebagai berikut :

1. Analisa Sensitivitas agak sulit untuk menggambarkan sikon sebenarnya karena banyak variabel yang saling mempengaruhi, sehingga sulit untuk mengasumsikan salah satu variabel saja yang nilainya berubah sedangkan beberapa variabel lain dianggap tetap.

2. Analisa Break-Even juga tidak cocok digunakan karena produk yang ditawarkan oleh Lab cukup banyak, bukan hanya kalibrasi, tapi juga pelatihan, konsultasi dan sewa alat ukur, disamping di dalam produk kalibrasi itu sendiri menawarkan ratusan jenis alat ukur dengan tarif yang berbeda-beda, tidak bisa diseragamkan.

3. Analisa menggunakan Metode simulasi sebenarnya bisa dicobakan untuk kasus ini, namun karena variabelnya banyak, dengan sebagiannya cenderung ke arah pertimbangan kualitatif, maka analisa ini tidak digunakan.

5.3.2 Perhitungan pada Analisa Resiko

Angka Net cash flow per tahun pada perhitungan NPV sebenarnya berbanding lurus dengan hasil proyeksi revenue. Sedangakn proyeksi revenue ini sangat bergantung pada proyeksi order per tahun. Berdasarkan Proyeksi Order inilah perlu dibuat beberapa probabilitas mendapatkan beberapa proyeksi angka NPV. Pada tulisan ini probabilitas tersebut dibagi menjadi 5 kategori, yang disebut Very Pesimistic Net Cash Flow, Pesimistic Net Cash Flow, Normal Net Cash Flow, Optimistic Net Cash Flow dan Very Optimistic Net Cash Flow. Penentuannya berdasarkan hasil diskusi dengan para teknisi Lab dan rekan maketing JayaAbadi MSC.

Maka didapatkan perhitungan sebagai berikut :

image

Tabel. Perhitungan Analisa Resiko

Maka dengan menggunakan rumus :

 

image

didapatkan probabilitas 95 % mendapatkan NPV dari 117 juta sampai 1.41 Milyar.

image

Gambar 19. Grafik Analisa Resiko pada Proyeksi NPV (Prob 95%)

Sedangkan agar dapat meihat aspek resiko di sini, maka dicari probabilitas mendapatkan NPV lebih dari nol (dianggap kondisi ini masuk kategori tidak merugi). Gambarnya adalah sbb :

image

Gambar 20. Grafik Analisa Resiko pada Proyeksi NPV yang Bernilai Positif

Tampak bahwa 99% service kalibrasi JayaAbadi MSC kemungkinan tidak merugi, walaupun bukan berarti pasti untung secara signifikan.

 

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Dari semua uraian di atas, kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut :

  1. Offered Uncertainty lebih memiliki kegunaan riil kepada kastamer karena menggunakan pendekatan yang lebih uptodate, customized, sesuai dengan jenis alat ukur milik kastamer.
  2. Dari berbagai masukan pemodelan yang meliputi skenario investasi, proyeksi revenue dan proyeksi anggaran operasional, maka NPV yang didapatkan adalah 763 juta. Angka ini di luar opportunity lost JayaAbadi, misalnya pada tahun 2006 menunjukkan angka Rp 13 M.
  3. Hasil dari risk analysis menunjukkan bahwa kemungkinan 99.1 % Lab Kalibrasi akan mendapatkan NPV di atas nol untuk jangka waktu pengamatan 5 tahun.

Saran untuk penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Penelitian perlu diperluas pada jenis input persepsi kastamer, misalnya aspek willingness-to-pay, market share, dan kemampuan berkompetisi.

2. Perlu diadakan penelitian tentang kualitas layanan eksisting terutama pada manajamen antrian layanan karena masalah ini terkadang melampaui ekspektasi teknis dari kastamer

3. Perlu ada pembagian yang lebih tegas tentang anggaran yang benar-benar digunakan atau dibutuhkan oleh Lab kalibrasi sehingga ke depannya bisa dihitung parameter ekonominya dengan lebih akurat dan ini berpotensi lebih bisa memberikan manfaat riil.

read more “Kajian Tekno-ekonomi Layanan Kalibrasi (5/5)”

Kajian Tekno-ekonomi Layanan Kalibrasi (4/5)

1 komentar

BAB IV ANALISA TEKNIS

4.1 Model Perhitungan Accuracy berdasarkan metode BMC

Untuk mengukur tingkat ketelitian dan akurasi yang mampu diberikan oleh suatu Lab Kalibrasi memang tidak sederhana, karena perlu melakukan audit secara komprehensif dan perbandingan “aple to aple” dengan lab lain yang menawarkan jasa sejenis.

Dari pengalaman operasional kalibrasi selama ini, ada beberapa faktor biasa dijadikan bahan pertimbangan kastamer untuk memilih suatu Lab adalah :

· Sertifikasi yang bisa didapatkan, untuk Nasional adalah Komite Akreditasi Nasional (KAN) sedangkan untuk luar negeri yang sudah memiliki nama besar antara lain NAMAS (Inggris), NATA (Australia), NIST (USA).

· BMC yang mampu dihasilkan dalam proses kalibrasi. BMC ini analogi dengan “nilai saham” untuk gambaran kemampuan teknis. BMC ini terdaftar di website KAN dan selalu menjadi obyek audit setiap tahunnya. Dari sini, kastamer bisa melihat seberapa besar akurasi yang akan didapatkannya jika mengkalibrasikan alat ukurnya ke suatu Lab.

· Kemampuan teknis Lab, yang biasanya didapatkan dari pengalaman ketika melakukan kalibrasi di Lab tersebut, terutama jika teknisi melakukan kalibrasi ditempat kastamer (on site) dimana kastamer lebih leluasa untuk “mengawasi” kerja teknisi kalibrasi.

· Kualitas service kalibrasi, utamanya dalam hal kecepatan respon, kecepatan layanan,

kemudahan, keramahan pelayanan, dll.

Dari website bsn.or.id, didapatkan keterangan bahwa BMC terkait current area dan impedance adalah sbb :

image

Pertanyaannya apakah ini cukup informatif pada kastamer ?

Ada beberapa kelemahan pada BMC yang sudah diapprove oleh KAN ini, terutama bagi Lab Kalibrasi JayaAbadi antara lain :

· Tidak memberikan nilai akurasi sesungguhnya yang diinginkan kastamer. BMC memang dibuat bukan untuk UUT yang memiliki tingkat ketelitian bermacam-macam. BMC hanya dibuat untuk menunjukkan tingkat akurasi tertinggi yang mungkin bisa dilakukan oleh suatu Lab, sehingga spesifikasi UUT tidak perlu disebutkan di daftar BMC tersebut.

· BMC yang ada masih dirasakan minim informasi bagi kastamer, sehingga untuk mendapatkan informasi yang cukup sebagai pertimbangan “go or no go” untuk melakukan order kalibrasi, masih membutuhkan keterangan lain yang lebih detail dari Lab.

· BMC ini adalah hasil kesepakatan antara KAN dengan Lab, sehingga terkadang dalam beberapa kasus bukan merupakan gambaran kemampuan sesungguhnya dari suatu Lab.

· Dari sudut pandang Lab sendiri, selama ini BMC menjadi satu-satunya dokumen tentang akurasi. Perlu ada dokumen lain yang lebih rinci, dengan akses yang lebih cepat dan mudah baik bagi personel Lab maupun kastamer sendiri.

Karena itu dibutuhkan adanya suatu sistem selain BMC, didukung teknologi IT, berupa suatu database yang mengakomodasi masukan dari beberapa parameter, mudah diedit atau diubah besaran dan parameter-parameternya. Dan dalam penelitian ini disodorkan konsep model perhitungan “commercial uncertainty” yang penulis sebut dengan Offered Uncertainty.

4.2 Offered Uncertainty, sebuah alternatif Model Perhitungan Accuracy

Masukan-masukan untuk perhitungan Offered Uncertainty (untuk selanjutnya disingkat OU) ini merujuk kepada “model bottom up diperluas” yang sudah diuraikan pada bahasan pemodelan pada bab sebelumnya. Maka didapatkan model perhitungan offered uncertainty yang dipersentasikan pada gambar di bawah ini.

image

Gambar 15. Model Perhitungan Offered Uncertainty

Langkah-langkah perhitungan OU adalah sbb :

a. Masukan-masukan pada model ini akan dianalisa lebih dalam, kemudian dilihat dampaknya terhadap OU. Jika signifikan pengaruhnya, maka buatkan distribusi normalnya (karena semua input nanti akan dinormalkan sehingga secara total akan menghasilkan distribusi normal untuk angka OU).

Catatan :

clip_image001 Spesifikasi perangkat umumnya menggunakan distribusi rectangular, sehingga untuk mendapatkan standard uncertainty-nya diperoleh dengan membagi angka spesifikasi dengan angka

clip_image001[1] Infrastruktur eksisting, misalnya pengaruh suhu dan kelembaban, jika signifikan maka harus dimasukkan pula dalam model. Dan distribusi yang digunakan adalah rectangular. Angka uncertainty-nya sendiri bisa didapatkan dari buku manual / katalog, ataupun dengan melakukan eksperimen sendiri.

clip_image001[2] SDM sebagai pelaksana kalibrasi memegang peran sangat penting dalam pemodelan ini, karena antar teknisi terkadang bisa berbeda ketelitian dalam proses produksi, walaupun sudah ada standarisasi melalui quality work instruksi (QWI), dimana setiap teknisi wajib melakukan kalibrasi berdasarkan metode yang tertulis pada QWI tersebut. Jika ada kondisi dimana ada kemungkinan perbedaan hasil seperti ini, maka muncul inkonsistensi, dan hal ini memperbesar uncertainty yang dihasilkan. Solusi yang ada adalah dengan melakukan proficiency testing, dengan perbedaan (delta) antar teknisi yang ada kemudian menjadi besaran yang akan dijadikan input dalam model. Distribusi yang digunakan tergantung dari hasil analisa statistik, namun nantinya harus dinormalkan.

clip_image001[3] Di tengah-tengah masa kalibrasi, perlu dilakukan pengecekan antara untuk calibrator atau standard. Jika dari kegiatan ini muncul kecurigaan adanya deviasi dengan hasil yang ditunjukkan sertifikat atau spesifikasi pabrikan, maka deviasi ini harus bisa diakomodasikan sebagai input pada model.

clip_image001[4] Untuk parameter Sertifikat kalibrasi, perlu diketahui dulu distribusi apa yang digunakan sebagai asumsi perhitungan oleh Lab Kalibrasi yang melakukan kalibrasi terhadap calibrator atau standar (biasanya di luar negeri). Untuk selanjutnya distribusi dan angka-angka uncertainty yang terkait harus disesuaikan dengan metode perhitungan Lab JayaAbadi.

clip_image001[5] Untuk pengaruh Demand, kondisi ekonomi dan BMC yang dimiliki kompetitor, ketiga faktor ini memiliki efek tidak langsung. Jadi jika ada demand dimana memerlukan suatu uncertainty yang lebih baik lagi dibandingkan dengan OU, maka Lab harus melakukan analisa mendalam atas kemungkinan untuk bisa mengurangi faktor-faktor masukan uncertainty. Mungkin ada yang bisa dikurangi besarnya, atau mungkin perlu menghitung lagi untuk titik-titik ukur tertentu. Atau bisa jadi jika memang BMC kompetitor jauh lebih baik dibanding OU yang dimiliki Lab, dan ternyata kompetitor memiliki calibrator yang relatif sama dengan yang dimiliki Lab JayaAbadi, maka solusi lainnya mungkin adalah dengan melakukan kalibrasi ke Lab lain di luar negeri yang lebih baik akurasinya, sampai calibrator bisa mendapatkan angka akurasi yang lebih teliti (uncertainty yang lebih kecil). Singkatnya, ada beberapa variasi teknis dalam menilai pengaruh deman, kondisi ekonomi dan BMC kompetitor ini.

b. Perhitungan offered uncertainty tidak menggunakan metode baru, tetap menggunakan kaidah atau aturan KAN dan ISO Guide 17025.

4.3 Contoh Perhitungan Offered Uncertainty

Proses input sampai perhitungan Offered Uncertainty sebaiknya dilakukan memanfaatkan IT. Bisa dibuat database sederhana misalnya menggunakan mySQL, dibalut dengan aplikasi PHP, maka bisa dibuat aplikasi web. Pada tahap awal, bisa digunakan di sekitar jangkauan LAN di sekitaran kantor saja, namun nantinya bisa diporting sampai ke level yang lebih luas. Agak sulit jika model perhitungan offered uncertainty ini mengunakan cara lama (manual), akan terlalu banyak waktu yang akan terbuang.

Berikut diberikan contoh langkah-langkah perhitungan offered uncertainty untuk parameter pengukuran DC Voltage berdasarkan pemodelan yang telah dibuat sebelumnya.

1. Masukkan semua macam input yang bisa mempengaruhi uncertainty berbasiskan model, seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut :

image

1. Dari tiap input yang ada, carilah sumber uncertainty-nya dan deskripsi kondisi yang menyertainya. Sumber uncertainty bisa lebih dari satu untuk tiap satu input, demikian juga kondisinya. Kombinasi antara sumber nama input, kondisi dan sumber uncertainty ini memberikan besar sumbangan yang berbeda-beda pada uncertainty gabungan.

2. Untuk setiap baris, carilah jenis distribusi, nilai dan satuannya. Carilah ketidakpastian bakunya, yaitu dengan cara membagi nilai dengan divider.

Catatan :

Sesuai dengan Pedoman Evaluasi dan Pelaporan Ketidakpastian Pengukuran dari KAN, divider untuk beberapa distribusi adalah sbb :

a. Pada distribusi kemungkinan rectangular, ketidakpastian bakunya diperoleh dengan membagi semi-range ‘a’ dengan

image

b. Pada distribusi kemungkinan rectangular, ketidakpastian bakunya diperoleh dengan membagi semi-range ‘a’ dengan

image

c. Pada distribusi kemungkinan bentuk-U, ketidakpastian bakunya diperoleh dengan membagi semi-range ‘a’ dengan

image

d. Pada distribusi Gaussian atau Normal, ketidakpastian bakunya diperoleh dengan membagi uncertainty dengan faktor cakupan yang tepat berdasarkan tabel distribusi-t, yaitu dimana U adalah uncertainty bentangan tingkat kepercayaan tertentu dan k adalah faktor cakupan.

image

3. Maka didapatkan uncertainty baku untuk tiap sumber uncertainty ini berikut dividernya.

image

1. Akhirnya didapatkan uncertainty akumulasi dari semua ketidakpastian baku yang didapatkan, angka 5.2 ppm (menggunakan k = 2, dengan confidence level 95%).

Catatan :

· Untuk kondisi yang berbeda, maka nilai yang dimasukkan akan berbeda pula, bahkan dividernya pun bisa berubah, sesuai dengan kondisi yang terjadi. Misalnya jika terjadi kasus adanya refleksi konektor frekuensi radio pada suatu pengukuran, maka parameter ini harus dimasukkan dalam perhitungan, dan distribusi yang digunakan adalah distribusi kemungkinan bentuk U.

· Perhitungan ini sebaiknya dimasukkan dalam suatu database, sehingga memudahkan dalam perhitungan dan penyimpanan nilai-nilainya.

read more “Kajian Tekno-ekonomi Layanan Kalibrasi (4/5)”